Murry Koes Plus Meninggal di Tengah Padatnya Jadwal

Tur Minta Dikerok, Batuk-Batuk lalu Pingsan

072942_527121_pemakaman_kasmuri_Koes_plus_1_anggerBand living legend Indonesia Koes Plus kehilangan drumer kebanggaan mereka. Kasmuri atau yang lebih dikenal dengan nama Murry meninggal dunia, Sabtu (1/2) pada usia 64 tahun. Murry pergi sangat mendadak.

JANESTI PRIYANDINI, Jakarta

ISAK tangis keluarga pecah ketika jenazah Murry mulai diturunkan ke liang lahad Taman Pemakaman Umum (TPU) Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur, kemarin siang. Bahkan, dua anak perempuan Murry, Riska dan Anggi, jatuh pingsan.

Mereka sangat terpukul atas kepergian sang ayah yang begitu mendadak. Bahkan, ketika diminta menceritakan kronologi kejadian yang dialami ayahnya, keduanya tampak bingung. Pasalnya, almarhum meninggal tanpa didahului sakit. Beberapa jam sebelumnya Murry masih tampak sehat walafiat.

Hingga akhir hayatnya, Murry masih aktif menggebuk drum. Tiga hari lalu, misalnya, dia  baru saja pulang tur bersama anak keduanya, Rico Valentino. Memang, dua tahun terakhir, Rico-lah yang mendampingi sang ayah tur ke berbagai kota. Rico kebetulan juga seorang drumer yang bersama grupnya memainkan lagu-lagu Koes Plus. Band Rico sering menemani Murry manggung.

”Bapak sudah tiga kali operasi hernia. Sejak saat itu kami, anak-anaknya, melarang beliau manggung dalam durasi yang lama,” kata Rico setelah pemakaman ayahnya. Di antara ratusan pelayat, tampak sejumlah musisi. Ada Posan Winner, Sandy Pas Band, dan Pepeng Naif. Gubernur Jakarta Joko Widodo (Jokowi) juga datang dan berdoa di pusara.

Jadi, dalam setiap tampil di tur, Murry hanya menjadi bintang tamu band Rico. Dia main sekitar dua hingga empat lagu saja. ”Sebab, dokter sudah mewanti-wanti, kalau sampai operasi lagi, efeknya nggak baik,” lanjut dia.

Tapi, bukan hernia yang menjadi penyebab meninggalnya Murry. Bukan pula penyakit diabetes yang memang sudah lama diidap sang legenda. Sebab, dia selalu memperhatikan kadar gula dalam darahnya. ”Semua undercontrol. Bapak nggak pernah anfal. Kalaupun mau ke luar kota, pasti dicek dulu,” ungkap Rico.

Terakhir, mereka manggung di Pekalongan, Jawa Tengah, tiga hari lalu. Mereka berdua tidur satu kamar. Murry sehat. Seperti biasa, dia selalu bercanda. Malamnya mereka jalan-jalan untuk mencoba kuliner Kota Batik itu. Juga berburu batik Pekalongan. ”Bapak ngajakin cari nasi goreng,” cerita dia.

Jumat malam (31/1) Rico datang menemui ayahnya di rumah, Perum Kranggan Permai, Pondok Gede, Jakarta Timur. Rico yang sudah berkeluarga tinggal di rumah sendiri. Begitu juga dua saudarnya yang lain. Hanya Anggi, anak bungsu Murry, yang masih tinggal bersama ayahnya. Anggi belum menikah. ”Waktu saya datang, bapak minta dikerok. Saya bilang, ’Kan kemarin sudah dikerok, masa mau lagi?’” cerita Rico.

Murry akhirnya minta dipijat istrinya, Yanti Nurhayati. Pukul 21.00 Rico berpamitan pulang. Murry pun tidur. Tapi, sekitar pukul 04.00 penggebuk drum yang juga andal menciptakan lagu itu meminta Anggi mengecilkan pendingin ruangan. Dia bilang kedinginan. Selain itu, Murry minta air hangat.

Namun, tak lama kemudian, dia terbatuk-batuk dan kejang-kejang, lalu pingsan. Hingga kemudian jatuh di pelukan istrinya. Keluarga lantas membawa Murry ke Rumah Sakit (RS) Permata Cibubur. Semua anaknya mengantar  karena memang tinggal berdekatan. ”Kami mengira bapak hanya pingsan,” ucap Yanti dengan mata sembap.

Sesampai di RS, Murry langsung mendapatkan penanganan, termasuk pernapasan buatan. ”Waktu di rumah badan bapak masih hangat. Meski sudah tidak merespons lagi. Dia diam saja,” jelas Rico.

Sangat mungkin Murry sudah meninggal dalam perjalanan menuju RS. Maka, saat keluarga meminta untuk memberi Murry kejut jantung, pihak RS menolak. ”Karena detak jantungnya di monitor sudah datar. Bapak sudah meninggal sejak ambruk di pelukan mama. Kalau tetap dikejut jantung, kata dokter nanti paru-parunya rusak,” terang Rico.

Keluarga langsung histeris menangis. Mereka tak mengira itu semua akan terjadi begitu cepat. Meski kenyataan ini membuat pilu, mereka harus ikhlas menerimanya.

Mungkin Murry kelelahan. Sebab, pada usianya yang sudah lanjut, bapak empat anak dan lima cucu tersebut masih manggung dengan jadwal yang cukup padat. Tidak hanya di dalam kota, Murry juga masih laris tampil di luar kota. Sampai meninggal dunia kemarin, dia masih menyisakan kontrak manggung di beberapa kota.

Sedihnya, Murry meninggal ketika istrinya akan pergi umrah. Sepulang dari Pekalongan tiga hari lalu, sekeluarga berkumpul di rumah untuk mengadakan pengajian guna mendoakan keberangkatan Yanti beribadah ke Tanah Suci. Yanti sebetulnya mengajak serta Murry untuk ikut ke Makkah. Tapi, sang suami menolak. ”Dia nyuruh saya berangkat dulu. Katanya, dia akan umrah tahun depan,” beber Yanti menirukan ucapan suaminya.

Yanti benar-benar kehilangan orang terkasih. Murry adalah sosok yang sangat baik di matanya. Dia sangat menaruh perhatian kepada istri dan anak-anak. ”Dia tidak sungkan untuk bantu saya cuci piring meski saya menolaknya. Orangnya suka bercanda,” kenangnya. Berdasar pesan almarhum, Yanti memutuskan untuk tetap berangkat umrah hari ini pukul 01.00. Dia berangkat bersama saudaranya.

Di mata anak-anaknya, Murry adalah sosok tak tergantikan. Pencipta lagu Pelangi, Doa Suciku, Bertemu dan Berpisah, Hidup tanpa Cinta, Cubit-cubitan, dan masih banyak lagi itu telah mewariskan bayak hal berharga bagi keluarga.

”Kalau warisan harta benda bisa habis. Tapi, yang diwariskan bapak lebih dari itu,” ucap Rico.

Lagu-lagu ciptaan Murry adalah salah satunya. Lalu, gaya hidup dan sikap keseharian Murry yang sederhana menjadi contoh teladan bagi anak-anaknya. ”Bapak mengajarkan kepada saya, ’Ini lho, meski gue legendaris, hidup gue tetep sederhana.’ Itu yang saya lihat dari bapak selama dua tahun mendampingi tur,” jelasnya.

Murry juga sangat dekat dengan penggemarnya. Dia tidak menciptakan jarak dengan fans. Penggemar-penggemarnya sering main ke rumah. Bahkan, ketika ada penggemar yang meninggal dunia, Murry sering menyempatkan diri untuk melayat. ”Waktu itu ada penggemar bapak yang meninggal di daerah Bekasi. Dapat kabar sudah tengah malam, bapak tetap ke sana,” lanjutnya.

Demikian juga halnya ketika sedang tur di luar kota, kamar hotelnya terbuka. Tidak seperti superstar masa kini yang kamar hotelnya harus dijaga. ”Kalau di hotel, penggemar bapak ya masuk-masuk saja. Malah saya yang suka sungkan, masuk kamar ada orang yang tidak saya kenal. Tapi, bapak santai. Mereka ngobrol macam-macam,” kenang Rico lagi.

Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo, dua sahabat Murry di Koes Plus, kemarin ikut melepas Murry hingga ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Keduanya tak bisa menyembunyikan rasa duka yang mendalam. Terlebih Yon yang terlihat begitu emosional. Mengenakan pakaian serbahitam, dia terus menangis. Sesekali dia menutup wajah dengan tangan sambil menghapus air mata. Dia menyaksikan sahabatnya dimasukkan ke liang lahad.

Sesaat kemudian, vokalis utama Koes Plus itu beringsut dari kerumunan pelayat di sekitar liang. Dia berjalan menjauh dari makam Murry. Seolah-olah dia ingin menenangkan diri dan berusaha mengatasi kesedihan. ”Murry itu sahabat dan saudara dekat kami. Kami sama-sama dari susah hingga senang. Sampai sekarang,” ucapnya pilu.

Setali tiga uang, Yok Koeswoyo mengenang Murry sebagai sosok yang penuh toleransi. Itu sebabnya Koes Plus, band yang dipimpin (almarhum) Tonny Koeswoyo, membuat lagu dengan beragam genre. Bukan hanya pop, melainkan juga kasidah, lagu Natal, keroncong, pop Jawa, dan sebagainya. ”Toleransinya itu gambaran dedikasi almarhum. Banyak kesan saya tentang Murry. Kalau saya ceritakan nggak akan habis sampai malam,” terang pembetot bas Koes Plus tersebut.

Kini Koes Plus hanya tersisa Yon dan Yok Koeswoyo. Murry sendiri bergabung dengan Koes Plus sejak 1969. Kala itu grup band yang semula bernama Koes Bersaudara –karena anggotanya satu keluarga– tersebut ditinggal Nomo Koeswoyo yang mengundurkan diri untuk berbisnis. Tonny kemudian mengajak Murry untuk bergabung.

Nah, karena Murry bukan dari keluarga Koeswoyo, nama grup band itu diubah menjadi Koes Plus. Murry adalah plusnya. Bersama Murry, Koes Plus merajai dunia musik pop tanah air pada 1970-an. Selamat jalan, sang legenda. (*/c9/ari)