Muara Dangkal, 2 Perahu Nelayan Karam

Nelayan
DORONG: Nelayan saat mendorong perahu nelayan yang karam di muara air Manna, Minggu (5/3).

6 Nelayan Selamat

PASAR MANNA, Bengkulu Ekspress – Kondisi muara sungai Air Manna yang airnya dangkal sangat meresahkan para nelayan di kawasan tersebut. Pasalnya kondisi tersebut telah menyebabkan banyak perahu nelayan rusak. Terbaru, kemarin dua kapal nelayan karam. Beruntung para nelayan bisa menyelamatkan diri, sehingga nyawa mereka terhindar dari maut. Namun ikan hasil tangkapan hilang. Bahkan perahu dan mesin mereka rusak. Mereka mengalami kerugian puluhan juta.

Udin (50) salah satu nelayan Pasar Bawah yang menjadi korban kedangkalan alur muara sungai Air Manna kepada BE menuturkan, kapalnya dan kapal temannya karam sekitar pukul 06.00 WIB kemarin. Diceritakannya, sebelumnya, Udin bersama dua temannya Nadi (42) dan Heram (45), dalam satu perahu dan rekannya  Supandi (38), Ujang (49) dan Pinus (32) yang mengendarai satu perahu lagi, Pada Sabtu (3/3) sore pergi melaut. Setelah itu, Minggu pagi mereka pulang beriringan. Perahu pertama yang masuk ke muara sungai Air Manna untuk mendarat perahu milik Udin, Nadi dan Heram.  Hanya saja, saat tiba dimuara, alur sungai dangkal dan hanya dengan kedalaman kurang dari 1 meter. Sehingga saat itu mesin kapal langsung mengenai batu dan perahu tidak bisa melaju. Sehingga mesin langsung mati mendadak.

“Saat mesin mati, tiba-tiba ombak datang dan menghantam perahu kami hingga terbalik, sehingga kami langsung melompat dan bisa menyelamatkan diri,” ujar Udin.

Diceritakan Udin, mengetahui perahunya karam, dirinya dan kedua temannya berusaha mendorongnya. Namun perahu tidak bisa bergerak, hingga datang ombak besar dan menghantam perahu mereka. Akibatnya semua ikan hasil tangkapan mereka dalam satu malam hilang. Bahkan mesin kapalnya rusak.

“Ikan hasil tangkapan kami nilainya sekitar Rp 500 ribu, tidak ada satupun yang bisa kami selamatkan, bagi kami yang penting nyawa kami bisa selamat,” ucapnya.

Ditambahkannya, tidak berselang lama, datang warga dan membantu mendorong perahunya hingga sampai ke pelabuhan.Lalu tidak berselang lama, datang perahu milik Supadi, Ujang dan Pinus. Sama halnya dengan perahu miliknya, setibanya di depan muara sungai, kapal juga tidak bisa bergerak dan mesin mati mendadak. Sehingga disaat ombak besar datang, perahu mereka tidak bisa dihindarkan. Akibatnya semua ikan diperahu ketiga nelayan tersebut juga hilang. Bahkan bak perahu dan mesin rusak.

“Kalau perahu milik ketiga nelayan itu rusaknya lebih parah dan mesinnya rusak berat, sebab ombak yang menghantam lebih besar lagi dari ombak yang menghantam perahu kami, ikan mereka juga tidak ada satupun yang bisa dibawa pulang,” bebernya.

Dengan seringnya perahu nelayan karam di muara sungai Air Manna lantaran alur dangkal, dirinya berharap pemda BS peduli terhadap nelayan dan bisa mengeruk alur muara tersebut, agar perahu bisa keluar masuk laut dengan lancar.

“Sudah puluhan kali kami mengajukan permohonan, namun belum ada tanda-tanda akan dikeruk, kami sangat berharap pemda cepat tanggap agar ke depan tidak ada lagi perahu nelayan yang karam,” harap Udin. (369)