Monumen Fatmawati Dinilai Tak Mirip

RIO/Bengkulu Ekspress
SEGERA DIRESMIKAN: Warga melintasi monumen Fatmawati di Simpang Lima Kota Bengkulu yang pengerjaan sudah memasuki tahapan finishing, Jumat (17/1).

Gubernur: Kita Lihat  Sisi Positifnya Saja

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Pembangunan monumen Fatmawati di simpang lima Kota Bengkulu, tinggal menunggu finising untuk diselesaikan. Meski pembangunan hampir rampung, namun patung Fatmawati tersebut diragukan atas kemiripannya. Budayawan Bengkulu, Agus Setiyanto mengatakan, dari sisi wajih Fatmawati tidak begitu mirip dengan sebenarnya. “Iya memang tidak mirip. Wajahnya tidak nampak sebenarnya,” ujar Agus kepada BE, kemarin (19/1).

Diterangkannya, patung yang dibangun saat ini terbuat dari perunggu itu hanya dengan warna polos. Lalu dari sisi wajah, jika wajah asli Fatmawati lebih bulat, maka yang dibuat saat ini sedikit lonjong. Sehingga tidak begitu mirip dengan Fatmawati sebenarnya. “Patung itu polos, potretnya tidak membentuk wajah seorang Fatmawati. Kalau asli bulat, tapi ini agak lonjong,” tuturnya.

Mirip atau tidaknya patung itu, bisa dilihat dari kacamata umum, juga bisa dilihat dari kurator atau penggagas patung itu dibuat. Namun dari kacamata umum, jelas patung tersebut tidak mirip. Karena sudah terlanjut, menurut Agus, harus dibuat tulisan yang menyebutkan itu Fatmawati. Disamping itu juga, banyak orang umum tidak mengenal Fatmawati. “Ini sudah terlanjut dan kita semua menanggung keterlanjutan itu. Bisa dibuatkan tulis, agar orang tau,” tambah Agus.

Sebagai Budayawan, menurut Agus, membuat patung dengan anggaran sekitar Rp 5 miliar itu, tidak dipermasalahkan mirip atau tidak. Namun dari kondisi kekinian, patung sudah tidak relevan lagi dibangun. Baik dari segala macam perspektif, ekonomi maupun budaya. Harusnya, dalam mengenal pahlawan Fatmawati itu bisa dibangun yang lebih bermanfaat. Seperti rumah ibadah. Jika dibangun rumah ibadah, maka pahala yang ada dirumah ibadah itu akan didapatkan oleh Fatmawati. “Bisa dibangun tempat ibadah. Akan lebih bermanfaat. Barang kali pahalnya untuk fatmawti itu sendiri,” ujarnya.

Rumah ibadah itu, juga tetap harus dibuatkan nilai sejarah. Agar aroma dari pahlawan Fatmawati istri Presiden Pertama Soekarno itu bisa dirasakan. Baik pengujung maupun orang yang ingin beribadah. “Juga bisa bermanfaatkan bagi warga sekitar,” tegas Agus.

Sementara itu, Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah mengatakan, mirip atau tidaknya itu, pembuatnya sudah mengetahui. Termasuk sudah mendapatkan persetujuan dari Yayasan Fatmawati, sebagai keluarga besar. Artinya, sudah tidak ada masalah soal kemiripannya. “Kita lihat dari sisi positifnya saja,” ujar Rohidin.

Menurut Rohidin, bangunan yang berdiri kokoh melalui dana CSR BUMN itu, bukan patung Fatmawati yang ditonjolkan. Namun dari sisi peristiwa bersejarah yang dimonumenkan. Sebab, Fatmawati yang asli orang Bengkulu itu, telah menjahit bendara merah putih, yang saat ini menjadi symbol kedaulatan bangsa dalam bentu bendara. “Ini bukan patung Fatmawati, tapi peristiwa bersejarah yang kita monumenkan,” tegasnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu dibawah kepempinannya, melakukan upaya kapitalisasi atas aset Bengkulu untuk Indonesia tersebut. Kapitalisasi yang dilakukan itu dari nilai sejarah dan karya Fatmawati. “Kalau bukan orang Bengkulu yang mengkapitalisasi, maka orang tidak akan tau. Ini tidak ada duanya di dunia, ibu negara yang menjahit bendara yang jadi symbol bangsa,” jelas Rohidin.

Saat ini, pemprov bersama Yayasan Fatmawati sudah mempersiapkan rencana peresmian monument Fatmawati itu oleh Presiden Joko Widodo. Rencananya akan diresmikan pada tanggal 5 Februari medatang, bertepatan dengan hari lahir Fatmawati. “Insyallah, jika tidak ada halangan 5 Februari diresmikan oleh presiden. Agendanya sudah disiapkan,” tutupnya. (***)



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*