Mobnas Diminta Pakai Pertamax

BENGKULU, BE – Pertamina meminta agar mobil dinas (Mobnas) di Provinsi Bengkulu tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM) non subsidi. Sehingga bisa memberikan contoh kepada masyarakat yang sudah mampu untuk menggunakan Pertamax. Ini ditegaskan SR (Sales Refresentatif) Depo Pertamina Pulau Baai Misbah Bukhori, saat dikonfirmasi dalam rangka rencana kenaikan harga BBM. “Mobil dinas itu, diharapkan menggunakan pertamax. Sehingga BBM bersubsidi cukup dinikmati oleh rakyat saja,” katanya. Sedangkan mengenai stok BBM menjelang kenaikan , Depo Pertamina Pulau Baai memastikan stok BBM (Bahan Bakar Minyak) di Provinsi Bengkulu aman hingga 10 hari kedepan. Meski ada rencana kenaikan subsidi Premium dan Solar, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap stok BBM. ” Stok hari ini masih mencukupi untuk 5 hari kedepan. Besok (Hari ini) sudah datang 1 kapal lagi, sehingga bertambah dan sanggup memenuhi kebutuhan BBM di Bengkulu 10 hari kedepan,” tutur Misbah. Ia mengatakan untuk penyaluran BBM tetap sesuai dengan kuota. Namun hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.” Penyaluran BBM sesuai dengan kuota, tetapi disesuaikan dengan kondisi masyarakat,” tambahnya. Kebutuhan premium untuk satu tahun di Provinsi Bengkulu 206.405 Kl (kilo Liter) dan solar 78896 Kl. “Kebutuhan premium perhari 564 Kl/per hari dan solar 216 kl/ perhari, di kirim ke 31 SPBU se Provinsi Bengkulu,” terang Misbah. Ia mengatakan, dalam rangka menghadapi kenaikan BBM memang perlu pengawasan yang lebih intens. Tetapi yang berhak memberikan pengawasan antara lain BPH Migas, Pemerintah Daerah dan aparat kepolisian. ” Pertamina hanya bertugas menyalurkan. Tetapi apabila ada penyelewengan di SPBU, Pertamina akan melakukan sanksi pembinaan,” ujarnya. Selain itu, agar aparat yang berwenang melakukan pengawasan, dibantu masyarakat. ” Supaya upaya penimbunan dapat dicegah,” katanya.

Eceran Rp 7500

Rencana kenaikan BBM sekitar Rp 1500 per liter, juga diantisipasi pengecer-pengecer BBM. Para pengecer BBM juga berencana menaikan harga jual mereka menjadi Rp 7500 per liter. Seperti disampaikan salah seorang pengecer BBM di Tanah Patah, Haharap (34). Dia mengatakan, pihaknya akan menaikkan sebesar Rp 1500 dari harga SPBU tersebut jika BBM mudah didapat dan tidak mengeluarkan biaya. Namun jika mendapatkannya susah dan dikenakan biaya tambahan oleh pihak SPBU, maka dia memastikan harga eceran lebih tinggi dari angka tersebut. “Ya kalau kami beli Rp 6000, maka kami akan jual minimal Rp 7500,” bebernya. Hal senada juga disampaikan, Nainggolan (50) salah seorang pengecer bensin di KM 7 Kota Bengkulu. Nainggolan mengatakan jika dijual dibawah harga Rp 7500/liter, maka pihaknya tidak mendapatkan apa-apa. Karena modal yang dikeluarkan cukup besar ditambah lagi ongkos pengambilannya di SPBU. Namun jika pemerintah mebuat peraturan tentang Harga Eceran Tertinggi (HET) menjadi Rp 6500 atau Rp 7000, Dia mengaku terpaksa menuruti. Tapi bensin tersebut tidak cukup 1 liter, melainkan dikurangi. “Kalau pemerintah tetap memaksa dijual dibawah Rp 7500, maka bensinnya terpaksa kami kurangi,” bebernya.

Masih Normal
Sementara itu, antrean di sejumlah SPBU dalam kota Bengkulu masih terlihat normal meskipun pemberitaan mengenai kenaikan BBM sudah diketahui sebagian besar kalangan masyarakat. Seperti SPBU Kampung Bali, siang kemarin masih terlihat wajar dengan jumlah antrean mencapai 8-10 orang. Baik untuk kendaraan roda 2 mapun roda 4. Pemandangan yang sama terlihat di SPBU Jalan Merapi Raya Tebeng, Panorma. Di SPBU ini juga terlihat jumlah pengisi BBM masih normal dengan waktu mengantre antara 5-10 menit/orang. Riko, petugas SPBU mengatakan belum ada lonjakan permintaan BBM termasuk jenis solar. “Sepertinya belum ada lonjakan permintaan, keadaannya masih normal seprti biasa,” ujarnya. (400/100)