Minim Investasi

lizar alfansi
Lizar Alfansi

Masyarakat Lebih Suka Menabung

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Saat ini masyarakat Indonesia lebih memilih bank untuk menyimpan dana dibanding investasi. Padahal menyimpan dana di bank sendiri tak mampu menyeimbangi laju inflasi yang tiap tahunnya terus meningkat.

Pakar Ekonomi Unib, Prof Lizar Alfansi PhD mengaku, alasan masyarakat enggan berinvestasi adalah karena takut mengambil risiko dan merasa lebih aman jika menyimpan di bank. Hal ini menunjukkan masyarakat Indonesia masih minim dalam berinvestasi, baik berupa saham maupun reksadana.

“Hingga kini, masyarakat lebih memilih bank untuk menyimpan dananya. Bahkan di Indonesia, sekitar 90 persen dana masyarakat ada di bank. Sementara di pasar modal dengan di dalamnya reksadana, jumlahnya tidak sampai 1 persen,” ujar Lizar, kemarin (23/8).

Saat ini, tenaga kerja yang ada di Indonesia mencapai kurang lebih sebanyak 125 juta orang, 40 juta bekerja di sektor formal dan 85 juta orang bekerja di sektor non formal. Sayangnya, jumlah masyarakat yang berinvestasi di reksadana tak sampai satu persen dari jumlah tenaga kerja yang ada, yakni hanya 450 ribu.”Hal ini karena pengetahuan masyarakat yang masih minim tentang pasar modal. Bahkan, jumlah investor reksa dana masih minim, jika dibandingkan total penduduk Indonesia dan jauh tertinggal dibandingkan jumlah investor dalam lingkup ASEAN,” jelas Lizar.Maka itu, untuk meningkatkan jumlah masyarakat berinvestasi di reksadana, harus perlu kampanye edukasi. Selain itu, melakukan program pendidikan investasi.

“Peluangnya memang cukup besar berinvestasi di pasar modal. Apalagi pertumbuhan di pasar modal sebenarnya lebih besar dibandingkan perbankan,” pungkas Lizar.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Bengkulu, Yan Syafri mengaku, rendahnya masyarakat berinvestasi disebabkan oleh trauma dengan investasi bodong. Padahal berinvestasi dalam saham sudah diawasi oleh OJK sehingga aman.”Kalau masyarakat banyak menabung daripada investasi kemungkinan faktor penyebabnya trauma investasi bodong,” ujar Yan.

Salah satu strategi yang menjadi faktor penting untuk menjawab berbagai tantangan tersebut yakni penguatan koordinasi dan kerjasama dengan seluruh elemen di Provinsi Bengkulu mulai dari pemerintah daerah, OJK, industri jasa keuangan, lembaga penegak hukum dan instansi terkait lainnya untuk secara bersama sama mencari terobosan dan solusi agar investor di Indonesia bisa terus tumbuh.”Terobosannya yaitu investasi saham itu menguntungkan dan kami berharap angka investor di Indonesia khususnya di Bengkulu setiap tahunnya bisa meningkat,” tutupnya.

(999)