Meriah, Tabot BU Diserbu Pengunjung

 

BENGKULU, BE – Pelaksaanaan festival tabot  tahun 2014 menyedot perhatian puluhan ribu pengunjung, baik yang berasal dari Provinsi Bengkulu maupun dari provinsi tetangga. Kemeriahan pun terlihat di semua tabot yang ditampilkan, tampak pengunjuung rela berdesakan hanya untuk sekadar berfoto.  Terutama terlihat pada tabot pembangunan dari Kabupaten Bengkulu Utara yang berukuran lebih besar dan dilengkapi dengan accesoris yang megah dibandingkan dengan 15 tabot pembangunan yang lainnya.
Bupati Bengkulu Utara, Ir HM Imron Rosyadi, MM, melalui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Dr Haryadi MM MSi, mengatakan, selama 2 hari, sejak ditampilkan, tabot Bengkulu Utara selalu diserbu pengunjung.
“Kita sudah mempersiapkan semaksimal mungkin, setiap tahun kita selalu aktif mengikutinya. Bentuk tabot ini sesuai dengan visi dan misi Bengkulu Utara yang siap mendukung perayaan tabot sebagai event kebudayaan nasional yang mendunia,” kata Haryadi, ditemui jelang ritual pembuangan tabot, Senin (3/11) kemarin.
Tak hanya tabotnya yang megah, pada perayaan tabot kali ini Pemkab BU juga berhasil menyabet berbagai jenis perlombaan. Diantaranya juara 3 untuk lomba tari kreasi dan juara harapan 1 untuk perlombaan rabana.
Ratna (36), penjaga stand tabot Bengkulu Utara, mengatakan, sejak tabot tersebut ditampilkan, tabot BU memang selalu diserbu pengunjung.
“Sejak 2 hari yang lalu pengunjung selalu ramai, saya saja selalu kewalahan melayani orang ingin berfoto yang tak kunjung berhenti. Tak ada beda dengan tahun lalu,” kata Ratna.

Sayangkan Tidak Diapresiasi
RIO-KADIS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BU HARIYADI-IKUT SERTA MENGARAK TABOT  (1)Di sisi lain, Kadis Dikbud BU, Dr Haryadi MM MSi, menyayangkan proses pelaksanaan tabot kali ini. Menurutnya Pemerintah Provinsi/Kota, selaku penyelenggara sama sekali tidak memberikan apresiasi kepada peserta yang telah mengikuti festival tersebut.
“Sangat disayangkan sekali, tidak ada apresiasi/penilaian kepada tabot pembangunan. Padahal kami telah menyiapkan anggaran khusus dari Pemda untuk mengikuti festival ini,” tandas Haryadi, ditemui kemarin.
Dijelaskannya, apa yang terjadi pada perayaan kali ini dinilai telah menghilangkan tradisi yang selama ini dilakukan. Hal tersebut sebagai apresiasi kepada para peserta yang telah semaksimal mungkin untuk berpartisispasi mendukung program pemerintah dalam mempertahankan kebudayaan Provinsi Bengkulu tersebut.
“Tahun kemarin kita dinobatkan sebagai tabot pembangunan terbaik dengan meraih predikat juara 1. Namun tahun ini, panitia tidak memberikan apresisasi kepada tabot pembangunan, ini sangat disayangkan. Kenapa tradisi yang selama ini dilakukan tidak diteruskan?” tukas Haryadi.
Lebih lanjut Haryadi mengungkapkan, keikutsertaan Kabupaten Bengkulu Utara kali ini merupakan salah satu bentuk keseriusannya mendukung kebudayaan Bengkulu untuk lebih dikenal di kancah nasional dan mendukung festival tabot menjadi agenda nasional.  Dengan memberikan apresiasi kepada setiap peserta, maka pada pelaksanaan selanjutnya para peserta akan berkompetisi menjadi yang terbaik dan menjadikan festival tabot lebih megah dan mewah.
“Bukan hadiah ataupun piala yang kami harapkan. Paling tidak ada penghargaan mana tabot yang terbaik. Saya berharap kedepan akan lebih baik pelaksanaannya, ini akan lebih memotivasi Kabupaten/Kota agar berlomba-lomba menampilkan tabot dengan sebaik mungkin,” sampainya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Bengkulu, Drs H Bujang HR MM, mengakui bahwa pada tahun ini memang pihaknya tidak memberikan penilaian kepada tabot yang mengikuti  festival.
“Untuk penilaian memang tidak kita persiapkan, kita tidak ada membentuk tim penilai untuk menilai tabot. Kita hanya memberikan hadiah kepada beberapa perlombaan saja. Ini juga menjadi evaluasi kami dan diharapkan kedepan kita akan lakukan penilaian umtuk mengapresiasi keikutsertaan mereka,” tandas Bujang. (bakti/prw)