Mereka Mengaku Pejabat Agar Dirayu Wanita

millenium

Beberapa tempat hiburan malam di Jakarta menjadi langganan sejumlah pejabat dan pengusaha dari daerah menghabiskan malamnya untuk bersenang-senang. Wanita-wanita penghibur mengenal gelagat tamu-tamunya yang dari daerah. Bagaimana pejabat itu bersenang-senang?

AGUNG MARYANA, Jakarta

SEBAGAI ibukota negara dan pusat pemerintahan, Jakarta dikunjungi banyak pejabat dan juga pengusaha dari daerah. Pejabat datang ke Jakarta untuk tugas kantor, dan pengusaha untuk urusan bisnis. Mereka menginap di ibukota rata-rata dua malam. Pada malam harinya itulah sebagian dari mereka biasanya mendatangi tempat-tempat hiburan malam. Kebutuhan akan tempat-tempat hiburan malam bagi sejumlah pejabat dan pengusaha dari daerah di Jakarta rupanya ditangkap oleh pengusaha tempat hiburan malam. Ketua Asosiasi Penguasaha Hiburan Malam DKI Jakarta, Andrian Melialata, menyebutkan saat ini sedikitnya ada 1.500 tempat hiburan malam dan 7.000 hotel di ibukota. Tempat hiburan itu mulai dari tempat pijit, karaoke hingga diskotik. Tempat-tempat hiburan itu belum termasuk tempat-tempat hiburan terselebung, seperti tempat yang berlabel salon kecantikan tapi di dalamnya hanya menyediakan wanita-wanita pemuas nafsu. Sebagian hotel-hotel itu, dari kelas bintang lima hingga melati, tidak sedikit yang juga ada wanita-wanita penghibur. Sejumlah kawasan di ibukota yang banyak tempat hiburan malamnya terutama Taman Sari di Jakarta Barat, Kemang di Jakarta Selatan, Penjaringan Jakarta Utara dan Sawah Besar Jakarta Pusat. Tapi yang banyak dikunjungi pejabat dan penguasaha dari daerah adalah tempat-tempat hiburan di Taman Sari. Di kawasan itu terdapat banyak tempat hiburan seperti V, CC, M, KA, M, O, GC, DPI, BS, RL, LV, GM, PS, CT, GP, T, A dan PJ.
Di Taman Sari banyak pula hotel, yang memudahkan tamu gampang menyambangi tempat-tempat hiburan malam. ‘’Di V (satu tempat karaoke di kawasan di kawasan Taman Sari) memang kebanyakan tamunya dari daerah. Mereka pejabat,’’ ungkap Andika, 47 tahun, sopir taksi yang sering mengantar tamu ke V. Dia tiap hari mangkal di kawasan Mangga Besar dan Stasiun Gambir. Dia sering mendapatkan penumpang dari Stasiun Gambir yang minta diantarkan ke hotel-hotel di kawasan Taman Sari. Dalam perjalanan dari Gambir, biasanya tamunya minta diantarkan ke Karaoke V pada malam harinya. Bagaimana Andika mengenali penumpangnya pejabat? Menurut sopir taksi asal Cirebon Jawa Barat ini, saat mengantar ke hotel dia sering mengajak mengobrol penumpangnya. Dalam obrolan itulah tak sedikit dari penumpangnya yang mengaku sebagai PNS (pegawai negeri sipil).
‘’Dalam perjalanan mereka biasanya juga tengok kanan-kiri melihat gedung-gedung,’’ katanya, menyebut salah satu ciri penumpang dari daerah. Pejabat dan pengusaha dari daerah yang suka ke tempat-tempat hiburan di Jakarta itu juga biasanya reseh dalam perjalanan berangkat dan pulang dari tempat hiburan. Mereka mengomentari semua fasilitas di tempat hiburan yang telah dikunjunginya, termasuk tentang lady companion (LC) atau pemandu lagu (PL).
‘’Service perempuanya juga dibahas oleh para tamu itu saat dalam perjalanan,’’ kata warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan itu.
Sementara bagi Mella, 26 tahun, resepsionis di Karaoke V, cukup mudah mengenali tamunya yang dari daerah. Itu karena para tamu memesan kamar menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Logat bahasa mereka juga sangat beda dibanding tamu dari Jakarta. ‘’Kadang mereka memakai jas dan sendal hotel, lalu terlihat sombong saat berbicara dengan teman-temannya. Kalau orang Jakarta tidak seperti itu, mereka berpenampilan dan berbicara biasa saja,’’ katanya.
Ananda, 24 tahun, cewek cantik yang biasa mangkal di Karaoke GC, kawasan Taman Sari, juga mengaku sering dibooking pejabat dan pengusaha dari daerah. Bahkan cewek berambut pirang yang mangkal di GC sejak 2012 ini meyakini, setiap hari tamu di GC yang membooking dia dan teman-teman sejawatnya sampai sekitar 60 persen. ‘’Mereka (tamu dari daerah) mengaku sebagai pejabat atau pengusaha. Itu sengaja mereka lalukan untuk merayu perempuan agar mau dengan dia. Karena kebanyakan pejabat atau pengusaha banyak uangnya, sehingga perempuan tertarik dengan mereka,’’ ujar Ananda.
Di tempat hiburan yang berlokasi di belakang Pasar Glodok itu pula seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dari Bengkulu meninggal pada 2012.
Media ini sendiri juga pernah beberapa kali diminta untuk mengantar sejumlah pejabat dari Cirebon dan daerah sekitarnya, seperti seorang mantan wakil bupati, ke tempat-tempat hiburan malam di Taman Sari. Mereka memilih kawasan Taman Sari karena tidak terlalu jauh dari hotel-hotel tempat mereka meeting pada pagi dan siang hari sebelumnya. Cukup beragam fasilitas di tempat-tempat hiburan malam di Jakarta itu, termasuk di kawasan Taman Sari. Untuk bisa menikmati semua fasilitas itu pun gampang, asalkan berkantong tebal. Di Karaoke V, misalnya, ada beberapa jenis kamar karaoke dari yang paling murah(Rp 1.5 juta) dan paling mahal (Rp 3.5 juta) untuk tiga jam. Semua kamar karaoke itu dilengkapi kamar tidur lengkap dengan wanita muda nan cantik. Bila hanya berkaraoke dengan ditemani wanita LC, tarifnya Rp 600 ribu untuk delapan jam, dan minimal tipsnya Rp 200 ribu. Bila ingin bermalam dengan cewek LC, tarifnya Rp 2.4. Sementara bila ingin berkaraoke sekaligus bermalam ditemani cewek model, tamu mesti merogoh kocek lebih dalam lagi, yaitu Rp 4.8 juta. “Bedanya model dengan LC itu, kalau model bisa diminta untuk striptis (telanjang sambil bernyanyi,) kalau LC tidak telanjang,’’ ungkap Mella. Di Karaoke GC, belakang Pasar Glodok, fasilitasnya tak beda jauh dengan di Karaoke V.Di lantai I, tamu bisa menikmati diskotik dengan musik kencang yang mengoyak dada. Lantai II menyuguhkan Dj dan Sexy Dancer. Sedangkan lantai III merupakan kamar karaoke. Lantai IV kamar-kamar untuk bermalam. Wanita yang tersedia di sana berasal dari berbagai daerah, termasuk amoy. Tarifnya Rp 500 ribu untuk short time dan Rp 1.5 untuk full time. ‘’Kalau cuma nemenin nyanyi Rp 100 ribu per satu jam. Itu belum termasuk tispnya,” kata Ananda. (**)