Meraup Suara Milenial

Genderang pertarungan menuju tampuk kursi Presiden dan Wakil Presiden RI resmi dimulai. Penuh kejutan, akhirnya pasangan Joko Widodo – Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, resmi mendekalarasikan sebagai Capres/ Cawapres 2019-2024.

Konstelasi perdebatan siapa dianggap paling pantas menduduki kursi empuk tersebut makin hangat. Adu strategi dan taktik pemenangan merambah semua lini termasuk diranah sosial media. Salah satunya untuk merebut hati generasi milenial, sebagaimana pernah dimuat dalam Harian Bengkulu Ekspres (Senin, 27/8/2018) berjudul “Jawa dan Sumatera Penentu Kemenangan.”

Tak dipungkiri, generasi milenial memang penguasa sosial media dengan segala intriknya. Data menunjukkan lebih dari 80 persen generasi milenial mengakses internet hanya bertujuan untuk sosial media. Sementara disisi lain, sekitar 40 persen pemilih dalam Pilpres milik generasi ini. Sehingga keberadaan sosial media dalam Pilpres tidaklah bisa dipandang sebelah mata. Berhasil menguasainya, hampir setengah kemenangan digenggam. Lantas siapkah Capres/ Cawapres dan Tim menggarap generasi milenial dan sosial media sebagai mesin pendulang suara?

sosial-media
foto;ist

Primadona Sosial Media

Berpedoman data KPU pada Pemilu 2014, jumlah pemilih pemula dengan rentang usia 17-20 tahun sebesar 14 juta orang dan rentang usia 20-30 tahun sebesar 45,6 juta jiwa. Jika merujuk Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, maka pemilik suara 59,6 juta ini masih masuk dalam kategori pemuda (umur 16-30 tahun atau disebut generasi milenial).

Sementara itu, sebagai pengguna atau pemakai internet keempat terbesar didunia, tentulah keberadaan sosial media di Indonesia menjadi surga berselancar jutaan generasi milenial untuk berdiskusi, adu argumentasi bahkan berdebat terhadap “jualan” yang ditawarkan para Capres/Cawapres dan Tim.

Pengguna Internet di indonesia Naik Signifikan

Penggunaan internet di Indonesia memang mengalami tren kenaikan cukup signifikan dalam dekade 3 tahun terakhir. Tahun 2015, sebanyak 44, 40 persen pemuda mengakses internet dengan prosentase tipe daerah 58, 75 persen diakses pemuda yang tinggal di perkotaan dan 28, 25 persen diakses pemuda yang tinggal di pedesaan.

Angka ini meningkat tajam hingga tahun 2017 yang mencapai angka 63, 47 persen dengan prosentase tipe daerah 76,60 persen diakses pemuda yang tinggal di perkotaan dan 47, 39 persen diakses pemuda yang tinggal di pedesaan.

Menariknya, dari jumlah pemuda yang mengakses internet tersebut sebanyak 83,13 persen mengakses dengan tujuan sosial media. (BPS, Statistik Pemuda Indonesia 2017). Ini artinya, hampir seluruh generasi milenial menjadikan sosial media sebagai kebutuhan utama kesehariannya. Sinyalemen ini harus dijadikan semacam presisi Capres/ Cawapres dan Tim untuk menarik simpati generasi milenial.

Meramu Kemasan Isu

Sikap apatis terhadap politik dan meredupnya semangat kebangsaan menjadi tantangan generasi milenial. Semangat kebangsaan saat ini disinyalir mengalami proses pendangkalan, telah terjadi erosi kebangsaan utamanya dikalangan muda (Siswono Yudohusodo, Semangat Baru Nasionalisme Indonesia, 1996). Kondisi ini makin diperparah dengan ancaman hoax yang makin bersemi. Diperlukan strategi agar permasalahan ini tidak menjadi ancaman serius yang berujung pada menguapnya suara generasi milenial dalam Pilpres karena golput.

Tentu di Pilpres 201

9 kita mengharapkan tingkat partisipasi pemilih secara umum tinggi termasuk dari kalangan generasi milenial. Cukuplah Pilpres 2014 menjadi catatan bersama karena rendahnya partisipasi pemilih yang terjun bebas dari angka 71,17 persen tahun 2009 menjadi 69,58 persen tahun 2014.

Pengemasan isu yang apik di media sosial menjadi hal terpenting agar generasi milenial tertarik pada politik dan menumbuhkan rasa kebangsaan sehingga partisipasi politik mereka meningkat. Karakter generasi ini cukup unik, apatis namun tingkat pendidikan dan literasi cukup tinggi. Sehingga jika isu yang dilontarkan dikemas dengan baik, maka media sosial bisa jadi ajang diskusi sehat.

Begitu sebaliknya, jika isu yang dikemas hanya berupa fitnah, hoax dan sejenisnya, maka media sosial pun menjadi kotak sampah untuk saling caci maki dan menjatuhkan.

Salah satu isu menarik saat ini adalah masalah pertumbuhan ekonomi. Survei terbaru yang dilakukan LSI Denny JA, Juli 2018, tentang Pasangan Capres dan Cawapres Paska Pilkada menyatakan bahwa publik ingin 2019 menghasilkan pemerintahan yang kuat untuk menumbuhkan ekonomi (80,7 persen), lebih tinggi dinginkan publik dibanding pemerintahan bersih dan pemerintahan yang menjalankan HAM, masing-masing dengan prosentase 75,5 persen dan 67,5 persen.

Isu pemerintah kuat dan pertumbuhan ekonomi ini bisa menjadi nutrisi menarik di media sosial untuk meraup simpati generasi milenial dengan catatan para Capres/Cawapres dan tim yang akan bertarung di tahun 2019 mengemasnya deng

an tampilan elegan seperti menonjolkan program kekinian untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi berbasis data dan fakta, bukan berita hoax. 

Menarik simpati generasi milenial di sosial media tentulah menjadi sebuah keniscayaan untuk menghadirkan Pilpres 2019 lebih berkualitas dengan hadirnya suara muda yang menjadi penentu nakhoda Indonesia kedepan. Saatnya Capres/Cawapres dan tim menggarap generasi milenial dan sosial media, agar genggaman kemenangan bisa dipegang lebih erat untuk Indonesia lebih baik.

Oleh: Suhanderi, SH.,MH*
*Penulis adalah Aparatur Sipil Negara pada Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu.