Merasakan Krisis BBM di Negeri Kaya Energi, Pasca Badai Sandy

TIDAK makan, tidak minum satu hari, siapa takut? Tidak merokok satu minggu, bahkan sebulan, apa repotnya? Tetapi, tanpa energi satu jam saja, orang modern zaman sekarang bisa apa?
Saya harus memuji kesabaran dan ketertiban warga New York City, ketika krisis energi berlangsung cukup lama, -sekitar 10 hari-, dan tanpa progres yang berarti. Sampai kemarin malam pun, di saat badai salju mengguyur, antrean panjang di Gas Station (SPBU – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) masih terjadi. Orang sampai 3-5 jam antre, berjajar panjang menunggu giliran untuk membeli bensin.

Sejak pagi, ibu-ibu juga ikut antre dengan jerigen, dan itu diperbolehkan, bahkan didahulukan, dengan alasan untuk kepentingan rumah tangga. Di sepanjang Queens Boulevard, salah satu bagian kota NYC yang terdapat banyak komunitas orang Indonesia, saya temukan lebih dari lima Gas Station, hanya satu yang beroperasi. Panjang antreannya mengular lebih dari lima kilometer.

Saya melintas di jalur protokol itu, sebenarnya hendak menuju ke Restoran Mie Jakarta yang paling banyak dibicarakan orang-orang Indonesia di sana.

Gubernur New York Andrew Cuomo sejak Jumat kemarin mengatakan akan membawa truk bahan bakar militer ke ke masing-masing pom. Kalau sudah krisis, di AS pun fasilitas militer dikerahkan untuk percepatan restorasi. Satu pom dijatah satu tanki atau satu truk.

Pemandangan di sepanjang jalan dari Colombus Circle, yang merupakan pertemuan jalan Central Park Barat dan Selatan, serta Broadway dan 8th Avenue itu, adalah antre bensin. Tahu sendiri, mobil-mobil Amerika itu ukurannya besar-besar, CC-nya otomatis besar-besar dan peminum bahan bakar yang boros.

Dari Bandara John R. Kennedy menuju ke pusat kota Manhattan juga ditemukan pemandangan yang sama. Di satu sisi saya kagum dengan kesabaran warga NYC yang rela berjam-jam, bahkan sampai menginap di pompa bensin. Di sisi lain, saya juga bangga dengan Pertamina yang mengelola dan membina SPBU-SPBU berlogo “Pertamina” di seluruh Indonesia.

Saat terjadi bencana, seperti gempa bumi Jogja dan Jawa Tengah, yang meluluh lantahkan semua fasilitas publik, tetapi SPBU tetap mensuplay energi. Termasuk saat tsunami Aceh dan banjir bandang di Padang, Pertamina cepat sekali merevitalisasi fasilitas pompa bensinnya. Saat mudik Lebaran, lebih rumit lagi.

Agenda tahunan itu ada jutaan mobil dan motor moving dari Jakarta ke Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur. Dampaknya,  distribusi BBM sebelum dan sesudah Lebaran sangat mobile. Dan peristiwa ini sudah bertahun-tahun tidak ada yang sampai tutup dan tidak beroperasi. Tidak sampai terjadi kelangkaan BBM.

Sementara, New York City, adalah kota terbesar dan terpadat penduduknya di AS dan menjadi pusat metropolitan yang terpadat di dunia. Kota global yang memberi pengaruh besar terhadap perdagangan, keuangan, media, budaya, seni, mode, riset, penelitian dan hiburan dunia. NYC juga dipilih sebagai markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, sehingga kota ini merpakan representatif pusat hubungan internasional yang strategis. Hanya saja, untuk urusan manajemen darurat dan krisis energi, baik listrik maupun minyak (BBM), ternyata Pertamina dan PLN jauh lebih yahud.

 

PLN sejak era Dirut Dahlan Iskan, hampir bisa dihitung dalam ukuran menit, listrik yang mati, akan tertangani dengan cepat. New York City, akibat badai sandy itu lebih dari seminggu tidak tuntas. Pertamina juga jauh lebih hebat dalam soal kegigihan bekerja, hampir tidak pernah terdengar kelangkaan minyak di kota-kota besar, tanpa ada kasus tertentu, seperti penimbunan dan sabotase.

Lima borough di NYC, The Bronx, Brooklyn, Manhattan, Queens, dan Staten Island sudah mengalami nasib langka bahan bakar, krisis energi, di tengah kota terbesar di negara adidaya, negara kaya energi itu. Mirip dengan tikus yang mati kelaparan di lumbung padi. Padahal jumlah penduduknya hampir 9 juta, dan jika digabung metropolitan menembus 22, 2 juta jiwa. Jumlah penduduk terbesar di Negeri Paman Sam itu.

Di beberapa titik memang terdengar ada insiden kecil-kecilan, berebut antre lebih dahulu. Tetapi secara keseluruhan, sangat aman, tertib, tidak ada pertengkaran yang mengkhawatirkan. Jumlah NYPD –New York Police Department— yang bertugas di setiap pompa bensin yang beroperasi itu juga sangat minim. Minimalis sekali. Polisinya juga tidak terkesan “seram” dan “menakutkan.”

Orang-orang Indonesia yang sudah berpengalaman dengan situasi kacau seperti itu tidak terlalu susah mensiasatinya. Mereka beli BBM di luar kota, yang jaraknya 100 kilometer dari NYC, yang tidak perlu antre, dan sekaligus membawa derigen sebagai cadangan. Jika dihitung waktu, dibandingkan dengan lamanya kalau antre, cara itu lebih oke. Bahkan, derigennya bisa dijual lebih tinggi dari harga normal. Karena plus ongkos transport menuju SPBU kota sebelah.

Saya membayangkan, seandainya harga BBM nanti mau naik? Atau subsidi BBM dikurangi, dicabut, sehingga berdampak pada harga per liter premium yang naik tajam? Kalau pemberlakuan kebijakan yang berdampak pada perubahan harga itu diputuskan sekarang, maka menjelang pukul 00.00 WIB, antrean panjang tidak bisa dihindarkan. Saat itulah, seluruh kekuatan keamanan dikerahkan, termasuk pasukan TNI yang di barak, harus turun tangan.

Sedikit ada yang eror saja, orang sangat gampang tersulut emosinya. Kemarahan orang akan merangkak naik, karena sudah menjalani antrean panjang berjam-jam sebelum kebijakan itu diberlakukan. Orang memenuhi isi tengki mobil dan motor, dengan harga lama terlebih dahulu. Wajar, jika tensinya ikut-ikutan memanas, mudah konsleting. Ibarat trafo, sudah kelebihan beban daya listrik, tinggal menunggu saat-saat shut down saja.

Kita boleh belajar dari kesabaran, ketertiban, dan disiplin masyarakat di New York untuk antre bensin. Kita juga harus mempertahankan reputasi yang lebih tanggap, lebih cepat, lebih sigap terhadap situasi darurat dan krisis pasca  bencana. (*)