Menteri Yohana Ajak Mahasiswa Jadi Agen “He for She”

RIO/Bengkulu Ekspress KULIAH UMUM: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Prof Dr Yohana Susana Yembise MA didampingi Rektor UNIB DR Ridwan Nurazi memberikan materi dalam kuliah umum "He For She Goes To Campuss" di hadapan ratusan mahasiswa UNIB dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Provinsi Bengkulu, Rabu (21/3).
RIO/Bengkulu Ekspress KULIAH UMUM: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Prof Dr Yohana Susana Yembise MA didampingi Rektor UNIB DR Ridwan Nurazi memberikan materi dalam kuliah umum “He For She Goes To Campuss” di hadapan ratusan mahasiswa UNIB dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Provinsi Bengkulu, Rabu (21/3).

Kutuk Kekerasan Perempuan dan Anak

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Prof Dr Yohana Susana Yembise MA mengutuk pelaku kekerasan perempuan dan anak. Karena itu, dia meminta pelaku diproses secara hukum.

“Yang jelas, kalaupun sampai ada pemukulan terhadap perempuan tetap ada undang-undang yang melindungi kaum perempuan sehingga tetap diproses secara hukum,” ujar Yohana usia memberikan kuliah umumnya di Universitas Bengkulu, Rabu (21/3).

Dia mengatakan, setiap perbuatan yang dikenakan pada seseorang semata-mata karena dia perempuan yang berakibat atau dapat menyebabkan kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikologis atau seksual. “Semua perbuatan tersebut jelas telah melanggar UU No 39 tentang Hak Asasi Manusia,” katanya.

Diungkapkannya perlindungan terhadap perempuan dan anak saat ini yang sedang digencarkan Pemerintah, karena ini merupakan pilar dalam menyelamatkan bangsa. Karena anak-anak merupakan pemimpin masa depan bangsa Indonesia ini.

“Pemerintah tentunya akan terus mendorong komitmen bersama agar ditahun 2030 Indonesia sudah benar-benar terbebas dari kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan. Saya akan menciptakan bahwa Indonesia merupakan negara yang ramah terhadap anak dan perempuan,” ungkapnya.

Dia juga menyoroti masih tingginya kejadian kekerasan terhadap perempuan dan anak di Provinsi Bengkulu. Meski sudah ada regulasi yang mengatur dan memberi sanksi terhadap perlakuan diskriminatif terhadap perempuan dan anak, tetapi kekerasan terhadap keduanya masih tinggi.

“Padahal, kampanye maupun sosialisasi dalam berbagai bentuk terus diupayakan pemerintah bersama lembaga-lembaga pemerhati, termasuk lembaga pendidikan,” jelasnya.

Dipaparkan Yohana, untuk Provinsi Bengkulu, ditahun 2014 untuk angka kekerasan perempuan dan anak yang terlaporkan sekitar 600 kasus, hal tersebut tentunya terbilang tinggi. Namun demikian, ditahun 2017 kasus tersebut menurun menjadi 200 kasus yang terlaporkan.

“Cuma itu yang melaporkan, tentunya masih banyak dilapangan kejadian tersebut namun tidak terlaporkan. Ini fenomena gunung es, yang melaporkan itu yang tercatat, tetapi yang tidak melaporkan juga cukup banyak dilapangan,” papar Yohana.

Untuk itu, dirinya mengatakan dengan kedatangannya ke Provinsi Bengkulu tentu juga untuk membentuk satgas yang akan membantu Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak untuk mendeteksi kekerasan terhadap anak dan perempuan yang terjadi dilapangan.

Ajak Mahasiswa Jadi Agen “He for She”

Penghapusan diskriminasi terhadap perempuan merupakan salah satu tujuan dalam Pembangunan Berkelanjutan atau Suistainable Development Goal (SDGs) ke 5 yakni kesetaraan gender. Pembangunan global tidak akan berhasil jika perempuan tidak mendapat kesempatan yang sama untuk terlibat dan ikut berperan didalamnya. Maka, dukungan dan partisipasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga profesi sangat dibutuhkan bagi peningkatan kualitas perempuan, tidak terkecuali peran kalangan akademisi.

Disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Prof Dr Yohana Susana Yembise MA dalam kulaih umumnya di Universitas Bengkulu Rabu (21/3) kemarin sore bahwa saat ini kalangan akademisi dapat berpotensi besar menjadi sumber daya dalam membantu Indonesia mewujudkan percepatan pembangunan dan kesetaraan gender, salah satunya melalui Gerakan HeForShe.

Dijelaskannya, gerakan ini menjadi kampanye global yang merupakan langkah solutif untuk mendorong pembangunan yang inklusif dan responsive gender, serta dapat pula diterapkan dalam institusi perguruan tinggi.

“Gerakan HeForShe ini mengajak laki-laki terlibat sebagai agen perubahan dalam mencapai kesetaraan gender dan pemenuhan hak-hak perempuan dan anak perempuan, serta upaya mengakhiri kekerasan terhadap keduanya.

Gerakan ini tidak hanya dapat diprakarsai oleh kaum laki-laki, perempuan juga dapat terlibat dalam upaya-upaya menyadarkan dan mengajak laki-laki untuk lebih responsif terhadap perempuan dan anak perempuan serta mengakhiri kekerasan. Untuk itu, saya mengajak seluruh mahasiswa di Bengkulu untuk menjadi agen HeForShe,” ujar Menteri Yohana Yembise saat berkunjung ke Universitas Bengkulu.(777)