Menjajaki potensi bisnis Warung RNI

KENDATI  bisnis ritel sudah menjamur, niat PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) untuk terjun ke bisnis ini tidak surut. Lewat anak usahanya PT Rajawali Nusindo, BUMN gula ini menawarkan kemitraan ritel dengan merek dagang Waroeng Rajawali.
Waroeng Rajawali mengusung konsep seperti ritel Indomaret, Alfamart, Circle-K, dan 7-Eleven. Waroeng Rajawali sendiri berdiri Februari 2013 dan mulai menawarkan kemitraan November 2013. Saat ini, gerai Waroeng Rajawali sudah ada 500 yang tersebar di Jabodetabek, Bali, Surabaya, Makassar, dan Lombok. Gerai milik Rajawali Nusindo sendiri berjumlah 300 dan sisanya milik mitra.
Agus Suryanto, General Manager PT Rajawali Nusindo, bilang, gerai paling banyak ada di Jabodetabek dan Bali karena daya beli konsumennya sangat tinggi. Dalam kerjasama ini, paket kemitraan yang ditawarkan sebesar Rp 150 juta. Investasi tersebut sudah termasuk biaya kerjasama, desain interior, meja kasir, satu set komputer, lemari pendingin, rak barang, branding logo, pelatihan, serta pengadaan 1.500 item produk awal. “Tapi nilai investasi bisa jadi lebih mahal tergantung dari lokasi. Karena distribusi barang atau sewa tempat yang lebih mahal,” katanya.
Produk yang dijual meliputi barang kebutuhan sehari-hari, seperti susu, daging, makanan olahan, sabun, dan beras. Harga jual produk juga disesuaikan lokasi mitra. Agus mencontohkan gerai Waroeng Rajawali di Kuningan, Jakarta Selatan. “Itu sebagian barangnya lebih mahal dari gerai di Ciputat, Tangerang Selatan,” ujarnya.
Menurut Agus, mitra yang bergabung harus menyediakan tempat dengan luas ruangan 80 meter persegi (m²). Dalam satu gerai cukup mempekerjakan empat karyawan sampai enam karyawan dalam dua sif.

Omzet Rp 150 juta
Dalam sehari, Agus memperhitungkan ada 1.000 produk yang terjual, sehingga mitra ditargetkan mendapat omzet Rp 5 juta per hari atau Rp 159 juta per bulan, dengan laba bersih 5%. Adapun target balik modalnya tiga tahun. Menurut Agus, bila lokasinya sangat ramai, balik modal bisa lebih cepat.
Kerjasama ini tidak memungut biaya royalti. Namun, pasokan produk harus membeli dari pusat. Agus mengklaim, produk Waroeng Rajawali kebanyakan produk lokal buatan usaha menengah kecil dan menengah (UKM).
Pietra Sarosa, pengamat waralaba sekaligus Direktur Sarosa Consulting Group, menilai, dalam bisnis minimarket, mitra harus memperhatikan kebutuhan konsumen di sekitarnya. Barang yang dijual di minimarket di lingkungan perkantoran tentu berbeda dengan di lingkungan perumahan atau industri.
Jika di dekat perkantoran, bisa ditambahkan alat tulis.Ia bilang, margin minimarket itu kecil sehingga mitra harus pintar melakukan efisiensi.
Selain itu, tampilan luar minimarket juga perlu diperhatikan. Menurut Pietra, tampilan gerai Waroeng Rajawali dari luar tidak terlihat seperti minimarket umumnya, namun seperti toko biasa.
“Usahakan harus dibuat meriah. Sejauh ini jarang dipasang spanduk promosi produk bulanan. Itu kan bisa dipajang di depan, biar terlihat itu seperti minimarket,” katanya. (**)