Mengunjungi Yunani, Negeri Para Dewa

063152_96831_motik_parthenonLiburan kali ini M. Anggraeni Pramono dan suami mengunjungi Yunani. Negeri yang terkenal dengan mitologi itu membuat kami penasaran. Kami tertarik melihat lebih dekat peninggalan-peninggalan hebat di negeri tersebut.

KALI pertama kami mengunjungi Acropolis. Ada beberapa reruntuhan bangunan kuno yang dulu adalah kuil. Pusat sejarah Athena itu berada di dataran setinggi 156 meter. Bangunan tersebut dibangun pada 1300 SM.

Acropolis sebenarnya sebuah kota kecil yang permai sampai Kerajaan Persia menghancurkan pada 480 SM. Setahun kemudian, tentara Yunani mengalahkan Persia dan membangun ulang kuil-kuil itu. Pada 1834, Athena menjadi ibu kota Yunani modern. Raja Otto menetapkan Acropolis sebagai bangunan arkeologi yang dilindungi sampai sekarang.

Mendaki Bukit Acropolis, tentu dibutuhkan stamina prima untuk menaiki anak tangga yang cukup banyak. Sebelum mencapai Parthenon di puncak bukit, kami melewati beberapa kuil kecil dan patung-patung para dewa yang cukup eksotis.

Begitu banyak turis dari berbagai negara yang mengunjunginya, khususnya pada musim semi atau panas seperti saat kami berkunjung ke sana. Meski demikian, pada musim panas pun, suhu udara mencapai 22–24 derajat Celsius. Jadi, suhunya masih cukup sejuk buat kita yang berasal dari negeri tropis.

Di puncak Acropolis, terdapat Parthenon yang berdiri dengan gagah. Itu merupakan salah satu bangunan utama di Acropolis. Parthenon juga menjadi landmark Yunani paling dikenal karena merupakan simbol puncak kebudayaan Yunani sekaligus pencapaian peradaban dunia kuno Mediterania.

Ketika malam, Parthenon dan Acropolis menyala dalam taburan cahaya yang dapat dilihat dari berbagai penjuru Kota Athena. Parthenon atau ’’Kuil Perawan’’ didedikasikan kepada Dewi Athena. Tidak heran jika di dalam kuil dibangun pula patung besar Athena beserta relief yang menggambarkan berbagai adegan.

Parthenon menggantikan sebuah kuil tua di Athena, yang disebut sejarawan sebagai pre-Parthenon atau Parthenon Lama. Kuil itu hancur dalam invasi Persia ke Yunani pada 480 SM.

Pada abad ke-5, Parthenon diubah menjadi gereja Katolik yang didedikasikan terhadap Bunda Maria. Setelah penaklukan Yunani oleh Kekaisaran Ottoman dari Turki, Parthenon berubah menjadi sebuah masjid pada awal 1460-an. Parthenon terus menghadapi ancaman kerusakan lantaran tingginya tingkat polusi udara di Athena. Banyak kolom dan patung tersisa yang rusak.

Meski saat ini Yunani dilanda krisis ekonomi yang cukup berat, pesona negeri itu tidak terbantahkan. Semoga pusat peradaban dunia dan asal muasal para filsuf dunia yang tersohor tersebut lekas pulih. (cik/c14/nda)