Mengunjungi Pulau Ndana, Pulau Terluar Bagian Selatan Indonesia

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 90
Perjalanan Menantang dengan Tour Guide Anggota TNI

Melakukan perjalanan di pulau terluar Indonesia selalu mengagumkan. Bukan hanya keaslian alamnya, adat dan budaya masyarakatnya pun begitu menarik. Begitu pula pulau terluar yang berbatasan dengan benua Australia, Pulau Ndana di Kabupaten Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kita akan dibawa ke surga yang lain.

SEKARING RATRI A., Rote Ndao

Cuaca cukup menyengat. Suhu di Pulau Ndana yang terkenal dengan danau air merahnya mencapai 40 derajat Celsius. Wisatawan yang akan melancong ke sana harus siap dengan perjalanan yang panas dan cukup lama. Dari Kupang, ibu kota NTT, dibutuhkan waktu 3,5 jam untuk sampai ke pulau terluar Indonesia tersebut.

Namun, ketika tiba di lokasi, mata akan dimanjakan dengan pemandangan yang indah dan memesona. Seakan perjalanan melalui semak belukar dan hutan kecil tidak terasa. Di Pulau Ndana, pengunjung juga bisa menikmati keindahan alam.

Untuk sampai ke pulau yang kini dijaga TNI-AL tersebut, kita harus menempuh perjalanan yang cukup panjang. Dari Kupang, kita harus terbang ke Kota Baa. Kota Baa adalah ibu kota Kabupaten Rote Ndao. Pulau Ndana terletak di kabupaten yang baru berusia 14 tahun itu.

Namun, perjalanan bisa pula ditempuh dengan kapal cepat. Hanya diperlukan waktu sekitar 2 jam. Jika menggunakan pesawat, kini maskapai Wings Air tengah berpromosi dengan jadwal terbang Kupang Rote PP setiap hari.

Harga tiket dua sarana transportasi itu pun tidak jauh berbeda. Yakni, tarif kapal cepat Rp 165 ribu-Rp 190 ribu dan pesawat sekitar Rp 170 ribu.

Ketika tiba di Kota Baa, masih ada dua perjalanan yang harus ditempuh untuk sampai ke Pulau Ndana, perjalanan darat dan laut. Perjalanan darat bisa ditempuh dengan naik ojek atau mobil sewa karena tidak ada fasilitas transportasi lain yang memadai.

Sebenarnya, di ibu kota Kabupaten Rote Ndao tersebut ada angkutan umum. Namun, jam operasinya tidak jelas. Begitu pula destinasinya. “Jadi, memang lebih baik pakai motor atau mobil saja,” kata Krisna Ndun, salah seorang warga Pulau Rote.

Dengan motor atau mobil, perjalanan darat bisa ditempuh selama dua jam atau lebih. Ada beberapa jalur alternatif untuk menuju Pulau Ndana, yakni melalui Pantai Boa atau Pantai Oselie.

Di sana, kendaraan tidak bisa ngebut seenaknya, meski kondisi jalan sangat sepi dan beraspal. Sebab, banyak hewan ternak yang berkeliaran. Sepanjang perjalanan, sapi, kambing, kerbau, kuda, ayam, anjing, dan babi kerap ditemui. Menurut pemuda 22 tahun tersebut, jika menabrak hewan, urusannya bisa panjang.

“Harus bayar uang napas karena hewan ternak mereka mati. Belum lagi kalau yang ditabrak betina, yang punya akan menghitung potensi hewannya itu punya anak berapa. Lalu, kalau anaknya betina, anaknya bisa berapa. Jadi, bayarnya sangat mahal. Bisa sampai jutaan,” urainya.

Karena itu, para pengendara kendaraan bermotor di sana cenderung melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, banyak ditemui padang rumput yang gersang dan sawah-sawah yang mengering. Semakin jauh dari Baa, semakin jarang ditemui rumah-rumah penduduk.

Tiba di Pantai Oeseli di Desa Oeseli, perjalanan panjang yang cukup melelahkan terbayar. Pemandangan di Pantai Oeseli sangat indah. Air lautnya jernih. Pantainya juga bersih dari sampah. Batu-batu cadas bertebaran di pinggir pantai.

Di dekat Pantai Oeseli terdapat posko TNI (AD dan AL) yang terletak persis di depan masjid. Para wisatawan yang ingin menyeberang ke Pulau Ndana bisa mencari informasi di posko tersebut. Sayang, belum ada listrik di kawasan pinggiran Pantai Oeseli.
Para anggota TNI tersebut biasanya akan membantu para turis untuk mencari kapal motor sewaan. Tidak ada sarana transportasi alternatif lain. Kapal motor sewaan di pantai tersebut tidak banyak dan harganya cukup mahal, Rp 600 ribu-Rp 700 ribu.

Kapal yang digunakan adalah kapal pencari ikan milik para nelayan di perkampungan di Desa Oeseli. Kapal yang disewakan tersebut juga terbilang butut dan jauh dari layak. Karena kondisi laut yang kerap surut, kapal juga tidak bisa menepi persis di pinggir pantai. Sehingga, untuk menaiki kapal tersebut, kita harus naik sampan kecil lebih dahulu.

Untuk meneruskan perjalanan ke Pulau Ndana dari Baa, masih diperlukan waktu 1,5 jam. Kondisi ombak pun cukup tinggi, meski cukup bersahabat. Begitu tiba di Pulau Ndana, suasana sangat sepi. Namun, pemandangan pantainya sangat indah. Pasir putih membentang dari garis pantai. Debur ombak terus berderu.

Begitu memasuki Pulau Ndana, kita disambut papan nama dari kayu bertulisan Selamat Datang di Pulau Ndana dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Tidak jauh dari papan nama tersebut, tampak barak TNI-AD.

Barak tersebut terdiri atas tiga bangunan utama. Di bagian belakang, terdapat lapangan yang kerap digunakan para anggota TNI untuk berolahraga. Ada pula sebuah sumur yang disesuaikan dengan warna doreng TNI.

Barak tersebut dihuni setidaknya satu peleton anggota TNI. Saat Jawa Pos berkunjung ke sana, para anggota TNI tengah merayakan HUT Korps Marinir TNI-AL. Karena udara cukup panas, mereka menggelar acara di sekitar sumur.”Panasnya bukan main. Jadi, kami tumpengan di sini (sekitar sumur, Red),” ujar Bintara Utama TNI-AD Kusman.

Sebagai informasi, tanah untuk pembangunan barak TNI diberikan secara gratis oleh keluarga Mesakh yang memegang hak ulayat atas Pulau Ndana. Hal tersebut sesuai dengan surat permohonan komandan Korem 161/Wirasakti Kupang pada 3 September 2007. Mereka juga menyerahkan tanah seluas 400 meter persegi pada 2001 untuk pembangunan mercusuar.

Selain itu, hingga September 2013, pemerintah telah merampungkan pembangunan kantor Posal (Pos AL), menara, dan dua unit rumah dinas lengkap dengan alsatri serta genset. Keluarga Mesakh juga menyerahkan tanah seluas 400 meter persegi pada 2001 untuk pembangunan mercusuar.

“Dalam perjanjian antara TNI dan keluarga Mesakh, anggota TNI harus menjaga hutan agar tetap utuh dan tidak boleh menembak rusa. Di sini banyak rusa yang berkeliaran, meski hewan itu sangat jarang terlihat,” kata Kusman.

Sampai di barak TNI, para tamu biasanya diminta mengisi buku kunjungan. Para anggota TNI di sana tak ubahnya tour guide. Mereka menyuguhkan makanan dan air mineral. Mereka juga bergantian menjelaskan kepada Jawa Pos tentang kondisi alam sekitar serta sejarah singkat pulau tersebut.

Menurut pria 38 tahun itu, sebelum TNI berada di pulau tersebut, patroli angkatan laut Australia kerap mengunjungi pulau itu. Hal tersebut dinilai cukup berisiko bagi keutuhan wilayah Indonesia.

“Sebelum ada markas TNI di sini, kapal-kapal patroli Australia kadang singgah di sini. Untuk menjaga keamanan pulau, sejak 2006, ditempatkan TNI Angkatan Darat dan satuan Marinir. Awalnya, pulau ini adalah wilayah kerajaan. Keturunannya sekarang ya keluarga Mesakh itu,” jelasnya.

Selain bercerita soal sejarah, para anggota TNI siap mengantar para turis berkeliling pulau. Jika jumlah turis hanya beberapa orang, biasanya mereka akan diajak melihat-lihat keindahan Pulau Ndana dengan kendaraan motor beroda tiga. Kendaraan tersebut bisa memuat 45 orang. Di kota besar, kendaraan itu kerap digunakan untuk mengangkut barang seperti galon air mineral. “Kami menyebutnya Viar (merek motor Viar, Red),” ujar Kusman.

Berkeliling pulau dengan menaiki Viar cukup seru. Pengemudinya pun harus piawai. Sebab, medan yang ditempuh bukan jalanan beraspal, melainkan padang rumput dan semak belukar. Guncangan-guncangan kecil pun mengiringi perjalanan. Kadang Viar selip saat melewati medan berpasir. Karena itu, penumpang sebaiknya berpegangan erat.

Kendaraan tersebut juga digunakan para anggota TNI untuk berpatroli. Karena mereka kerap berpatroli dan mengantar tamu, di sepanjang area pulau yang seluas 14,19 kilometer persegi atau sekitar 1.400 hektare itu sudah terbentuk jalan setapak. “Ini (jalan) ya kami yang bentuk. Gara-gara kami tiap hari patroli dan antar tamu,” jelas pria asal Surabaya tersebut.

Namun, lanjut Kusman, tidak semua medan di Pulau Ndana bisa dilewati dengan Viar. Misalnya, jalan menuju danau air tawar, salah satunya danau merah. Wisatawan pun harus berjalan kaki. Perjalanan ke danau yang memang berwarna merah itu sedikit melelahkan karena medannya penuh semak belukar dan berbatu ditambah udara yang sangat panas.

Sesuai dengan gambaran Kusman, air danau tawar tersebut berwarna merah dengan bebatuan dan pasir putih. “Konon, dulu waktu zaman kerajaan, pedang-pedang yang dipakai untuk bertempur dan membunuh musuh dibasuh di danau ini sehingga warnanya merah,” jelasnya.

Tidak jauh dari danau merah, terdapat sebuah sumur. Menurut ayah dua putri itu, sumur tersebut adalah tempat mandi para putri pada masa kerajaan dulu. Kerajaan yang pernah berkuasa di pulau tersebut adalah Kerajaan Thie, Termanu, dan Baa. Karena itu, sumur tersebut diberi nama sumur putri. “Namun, yang kasih nama ya kami-kami ini (anggota TNI, Red),” tegas Kusman.

Bukan hanya itu. Jika beruntung, pengunjung bisa menyaksikan rusa timor. Namun, saat ini hewan tersebut tidak terlihat. Hanya ada kotorannya yang menandakan keberadaan binatang yang tergolong langka tersebut. Kemudian, ada pula gua-gua di perbukitan gamping.

Yang juga wajib dikunjungi adalah monumen Sudirman yang terletak persis di depan pos TNI-AL. Monumen Jenderal Sudirman tersebut dibangun di atas taman seluas 1 hektare. Patung tersebut diresmikan pada 2 Agustus 2010 oleh panglima TNI saat itu, Jenderal Djoko Santoso. “Patung ini sekaligus penanda bahwa Pulau Ndana ini adalah bagian dari Indonesia,” ujarnya. (*/c5/end)