Mengunjungi Batu Pengantin di Desa Pagar Jati

Punya Kekuatan Magis,
Dipercaya Bisa Mengabulkan Permohonan

Tak banyak yang mengetahui keberadaan Batu Pengantin, yang konon merupakan calon pengantin yang dikutuk menjadi batu. Tempatnya tak jauh dari Pasar Kamis Pagar Jati Kabupaten  Bengkulu Tengah, tepatnya 20 meter dekat pertigaan Pagar Jati РLubuk Durian. Karena kekuatan magisnya, banyak pengunjung yang membayar nazar dengan menyembelih ayam atau kambing di atas batu itu. Berikut laporannya.

DEDY IRAWAN-PAGAR JATI

Sepintas, bentuknya tak begitu mirip dengan sosok manusia, lebih tepatnya batu yang membungkuk. Namun warga di sekitar meyakini batu tersebut merupakan sosok seorang perempuan calon pengantin yang dikutuk menjadi batu, lantaran tak menjawab sapaan seorang sakti, Si Pahit Lidah, yang konon dipercayai dapat mengubah apapun benda menjadi batu sesuai keinginan sumpahnya.
Sri Nilawati (35), warga sekitar yang ikut menjaga batu yang diakui memiliki kekuatan magis itu menuturkan, keberadaan batu itu sudah ada sejak dahulunya. Semenjak menempati lahan warisan milik ayahnya 10 tahun silam posisi batu tak berubah, sekalipun ada pendatang asal Medan yang mencoba memindahkan batu tersebut ke lokasi lain, namun meninggal tak lama kemudian. “Pokoknya asalkan tidak memukul-mukul batu, atau berkata-kata batu biasa tidak akan dapat musibah, kalau ada yang berbuat begitu biasanya sakit, kalau parah bisa-bisa meninggal dunia,” kata Sri mengingatkan.
Sri mengatakan, Batu Pengantin sering dijadikan pengunjung untuk bernazar. Pengunjung ini datang bukan hanya dari Kota Bengkulu, melainkan dari berbagai daerah termasuk ada dari provinsi lain.
Mereka menyembelih ayam atau kambing di atas batu tersebut ketika nazar mereka dipenuhi. Tatkala janji mereka tak ditepati alamat petaka bakal menimpa. “Pernah seorang penjaja martabak spontan berujar akan menyembelih ayam biring kuning di atas Batu Pengantin jika dirinya berhasil sekadar menjabat tangan gadis anak kuliahan, sekalipun tak sampai mengawininya. Tak lama, pemuda itu berhasil mengawini gadis kuliahan itu, dan melahirkan seorang bayi. Sayangnya, bayi tersebut sudah meninggal di tengah gendongan ayahnya,” ungkap Sri.
Ia melanjutkan, begitu penjaja itu tahu bahwa ada janjinya yang belum ditepati di atas batu pengantin, lantaslah ia bergegas membayar ucapan yang pernah dijanjikannya itu. “Biasanya nazar itu langsung diadakan di rumah saya, kadang usai menyembelih ayam atau kambing dititipkan agar dijamu selamatan di rumah kami,” lanjut Sri.
Pengunjung biasanya menyampaikan niat agar sukses dalam karir, jodoh. Niatan diucapkan sambil lalu, bila berhasil dalam niatan akan membayar jamuan di Batu Pengantin. Niatan harus benar-benar dipegang oleh pengucapnya. “Sebab itu hati-hati berucap atau berjanji di atas Batu Pengantin,” ujar Sri, yang mengaku acap menemui kejadian aneh selama tinggal di dekat batu keramat itu, meski keberadaan batu itu tak mengganggu kehidupan suami dan anaknya.
Diakuinya, kejadian aneh itu seperti bau yang amat harum muncul di malam 14 di kala bulan sedang terang. Tak hanya wewangian bau tak sedap acap keluar menyelimuti rumah. “Kalau dulu atapnya pernah sampai puluhan meter ditutup kain putih, namun sekarang ini banyak berupa kucing saja,” kata Sri yang sudah biasa bercakap dengan pendatang ini.
Diceritakannya, asal muasal batu pengantin, tersebutlah di jaman entah berantah, hiduplah seorang gadis bernama Sekiwangkarno tengah masa tunangan menanti hari pelaminan tiba. Saat tengah menjemur padi di halaman rumah, tanpa sengaja lewat seorang tokoh sakti, dikenal masyarakat sebagai Si Pahit Lidah. Tokoh ini akan melanjutkan perjalanan ke wilayah Lebong. Selanjutnya menanyakan kepada calon pengantin perihal arah perjalanannya itu. Entah apa sebab, calon pengantin tak menjawab pertanyaan sang tokoh. Kesal dengan sikap si gadis, Pahit Lidah akhirnya berujar sambil menunjuk ke arah calon pengantin agar menjadi batu.
“Si Pahit Lidah mengutuk si gadis supaya menjadi batu, juga 2 bakul sirih dan adas tempat menjemur padi jadi batu. Begitu cerita alm ayah mertua saya yang berumur 125 tahun,” kata Sri.
Saat ini lanjut Sri, batu itu masih berdiri di depan pintu rumahnya, ia pun belum mendapat kunjungan dinas terkait soal keberadaan batu yang merupakan peninggalan budaya itu. Batu itupun sudah dianggap keramat yang harus dijaga kelestariannya. “Warga di sini sudah menganggap keramat batu ini dan benar-benar menjaga kewibawaanya. Kalau dari kantor dinas belum ada yang mengunjungi,” kata Sri seraya mengaku senang dengan adanya batu itu.(**)