Melirik Kehidupan Nelayan Pulau Baai, BBM Naik Harga Ikan Anjlok

20141127_112741

Masyarakat nelayan yang berada di Pulau Baai, tepatnya di Kelurahan Sumber Jaya RW 02 terbagi atas 9 RT.  Sekitar 1.500 warganya berprofesi sebagai nelayan. Hasil tangkapan yang tidak tetap dan harga BBM yang naik merupakan kendala tersendiri yang dihadapi nelayan sekitar TPI Pulai Baai saat ini.  Bagaimana kondisi dan keadaan nelayan sekitar Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulau Baai tersebut? Berikut laporanya;
======================
RIZKY SOERYA TAMA,

Kota Bengkulu
======================
KENAIKAN harga BBM membuat ribuan nelayan di sekitar TPI Pulau Baai menjerit.  Apalagi saat ini harga ikan anjlok dan tangkapan yang tidak tetap.  Kondisi ini membuat kampung nelayan sekitar TPI Pulau Baai ini semakin terpuruk ekonominya.
Ketua RW 02 Kelurahan Sumber Jaya Syamsul Bahri mengatakan, menjadi nelayan banyak tantanganya.  Selain hasil tangkapan yang tidak tetap, saat ini harga ikan anjlok ditambah lagi harga BBM naik.   Sehingga mereka kesulitan mengatur biaya operasionalnya.
”Keluhan terbesar masyarakat nelayan sekitar TPI Pulau Baai adalah perihal kenaikan BBM yang semakin mencekik mereka.  Mereka mengeluhkan kenapa tidak ada subsidi BBM khusus untuk nelayan,” papar pria yang sudah menjabat selama 30 tahun menjadi Ketua RW ini.   Selain itu Syamsul juga menambahkan, tidak adanya standarisasi harga ikan.
“Coba saja pemerintah atau dinas terkait bisa menentukan standarisasi harga ikan, mungkin kami sebagai nelayan bisa sedikit terbantu, soal BBM semoga pemerintah memberikan izin kepada nelayan untuk bisa mengambil BBM di SPBU bukan hanya di SPDN”.
Hal yang sama dikatakan oleh Ketua Himpuan Masyarakat Nelayan Indonesia Provinsi Bengkulu Iswandi Ruslan.  “Saat ini nelayan sedang minim tangkapan, selain faktor cuaca kenaikan BBM berdampak pada nelayan yang ingin melaut, mereka umumnya ragu tidak bisa menutupi pembelian BBM untuk modal melaut,” paparnya.
Ruslan menambahkan agar pemerintah terkait memberikan solusi kongkrit dari kenaikan BBM ini khusunya bagi para nelayan. Ketua HMNI tersebut juga ingin sekali bahwa bantuan yang diterima nelayan haruslah tepat sasaran, pemerintah diminta menggali aspirasi apa yang dibutuhkan oleh nelayan perihal bantuan tersebut, agar nantinya tepat sasaran.
Tidak hanya masalah diatas tadi yang dihadapi masyarakat nelayan Sumber Jaya.  Masalah lingkungan sekitar TPI yang lahanya masih status milik Pelindo, berdampak tidak bisa masuknya bantuan pembangunan.  Namun Syamsul selaku Ketua RW berpendapat terkait masalah lahan, bahwa Presiden mengatakan dari 1200 hektar lahan yang dikuasai Pelindo, 10% akan diusahakan untuk masyarakat sekitar TPI Pulau Baai Kelurahan Sumber Jaya.   ”Semoga benar apa yang dikatakan Pak Presiden, agar masyarakat nelayan sekitar TPI pulau Baai tersebut sedikit terbantu,” kata Syamsul. (**)