Melihat Persiapan UN Siswa Tuna Netra Berharap Soal Dibacakan, Ingin Jadi Guru

Satu dari 19 siswa SLB yang akan mengikuti UN adalah siswa SLB Amal Mulia.  Dari jumlah itu, salah satu siswanya merupakan penyandang tuna netra, dia adalah Ardi Susanto.  Apa saja yang disiapkannya menjelang UN yang akan dilaksanakan di bulan Maret mendatang? Berikut laporannya,

FITRIANI, Kota Bengkulu

MESKI menyandang sebagai tuna netra, tapi semangat untuk tetap bersekolah sangat tinggi. Ardi Susanto, lahir di Lubuk Unen, 25 Agustus 1991 ini merupakan anak ke-4 dari 5 bersaudara anak dari pasangan Nuyah dan Danis. Sejak kecil, Ardi mengaku sudah dititipkan oleh orang tuanya di asrama Yayasan Amal Mulia Pasar Melintang. “Dari kelas 2 SD aku sudah disini, sekolah dan tinggal di asrama,” ujar Ardi. Meski berpisah dari orang tuanya, Ardi mengaku sudah siap, karena inilah konsekwensi yang harus diterimanya apabila ingin meraih cita-citanya menjadi seorang guru. Sembari membaca buku berhuruf braile, Ardi yang ditemui sedang berada di sekolahnya ini mengatakan sejak SD dia sudah belajar mengenal huruf braile. Meskipun susah namun Ardi mengaku tidak pantang menyerah mengenal huruf-huruf itu. “Pertama belajar meraba dulu menggunakan paku, setelah itu barulah menggunakan rigelt dan pent,” terangnya. Walaupun masuk dalam golongan tuna netra, kebutaan yang disandangnya belumlah permanen. Ardi mengaku masih dapat melihat dunia meskipun tidak terang. Menjelang hari ‘H’ ujian nasional mendatang, hampir setiap hari Ardi mendapatkan tambahan belajar. Selain mempersiapkan diri dengan mempelajari soal-soal ujian tingkat SMP. Ardi juga tetap giat belajar dengan menggunakan buku braile. Pelajaran yang dipelajarinya sama dengan siswa lainnya. Hanya saja, kurikulum yang digunakannya adalah kurikulum SLB. Kendati giat belajar menggunakan huruf braile, namun pada pelaksanaan UN mendatang. Ardi mengaku lebih percaya diri mengerjakan soal dengan metode pendampingan. Cara ini lebih baik dari pada dia harus membaca sendiri soal yang diberikan dengan huruf braile. “Aku lebih percaya diri soalnya dibacakan dari pada huruf braile, soalnya kalo dibacakan lebih enak menyimaknya. Sedangkan soal dengan huruf braile hanya aku sendiri yang baca,” pintanya.Tentunya, apa yang telah dilakukannya saat ini hanyalah untuk mencapai kelulusan. Karena setelah menamatkan bangku SMPLB, Ardi mengaku akan terus melanjutkan ke SMALB. “Ujian ini Insya Allah, aku lulus,” harapnya. (**)