Melihat Kreatifitas Narapidana Lapas Kelas IIA Curup

Ciptakan Berbagai Kerajinan Bernilai Jual Tinggi

Guna mempersiapkan warga binaan atau Narapidana di Lapas Kelas IIA Curup untuk berbaur kembali bersama masyarakat usai menjalani hukuman, pihak Lapas banyak memberikan pelatihan-pelatihan kepada warga binaanya, sehingga mereka bisa hidup mandiri saat keluar nanti. Apa saja pelatihan yang diberikan? Simak laporan berikut;

ARI APRIKO, Kota Curup

Salah satu contoh miniatur rumah adat Suku Rejang yang dibuat oleh warga binaan Lapas Kelas IIA Curup yang memiliki nilai jual tinggi.
Salah satu contoh miniatur rumah adat Suku Rejang yang dibuat oleh warga binaan Lapas Kelas IIA Curup yang memiliki nilai jual tinggi.

DUA buah miniatur rumah ada Rejang Lebong dan beberapa buah miniatur mainan seperti motor bahkan juga lampu tidur dipajang di salah satu selasar yang ada di Lapas Kelas IIA Curup. Miniatur-miniatur yang dipajang tersebut ternyata bukan hiasan untuk memperindah Lapas Kelas IIA Curup, melainkan hasil kerajinan tangan warga Binaan Lapas Kelas IIA Curup yang dipajang untuk dijual kepada pengunjung yang berminat akan barang-barang cantik yang proses pembuatannya dilakukan langsung oleh para Napi dengan menggunakan bahan bekas.

Untuk mengetahui lebih jauh, terkait dengan kerajinan tangan nan kreatif tersebut, Bengkulu Ekspress menjumpai Kasi Binadik Lapas Kelas IIA Curup, Irwandi Saputra, SH, M.Pd.

Menurut Irwandi, pemberian pelatihan seperti kerajinan yang mereka berikan tersebut merupakan bagian dari pembentukan kemandirian yang dilakukan pihak Lapas Kelas IIA Curup terhadap warga binaanya. Dimana menurutnya dengan diberikannya kemampuan tersebut saat keluar nanti mereka bisa mandiri.

“Ini merupakan bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan kita, sehingga dengan kemampuan mereka ini mereka bisa mandiri saat keluar nanti,” terang Irwandi.

Menurut Irwandi, ada banyak sekali keterampilan yang mereka berikan kepada Napi atau warga binaan di Lapas Kelas IIA Curup. Dimana pelatihan kemandirian yang mereka berikan tersebut sesuai dengan minat dan bakat dari masing-masing warga binaan seperti bengkel dan lainnya, bahkan untuk Napi wanita juga diberi pelatihan yang pembuatan tas rajut dan tempat tisu.

Untuk mempromosikan hasil kerajinan dari warga binaan Lapas Kelas IIA Curup tersebut, menurut Irwandi tahun 2018 ini Lapas Kelas IIA Curup berencana akan membangun workshop atau toko untuk memajang hasil karya tangan dari warga binaan ini sendiri.

“Nanti akan kita bantu promosikan dengan memajang hasil kerajinan ini yang rencananya akan kita bangun dibagian depan,” terang Irwandi.

Sementara itu, Darwis, S.Sos, sebagai koordinator kegiatan kerajinan warga binaan Lapas Kelas IIA Curup menjelaskan, sejumlah kerajinan dari warga binaan Lapas Kelas IIA Curup tersebut sudah banyak dimintai oleh masyarakat. Bahkan menurutnya miniatur rumah ada sendiri, sudah ada yang membelinya dengan harga Rp. 1,2 juta.

“Untuk miniatur rumah ada sudah ada yang dibeli dengan harga Rp. 1,2 juta,” terang Darwis.

Untuk pembuatan miniatur rumah adat sendiri, menurut Darwis memang membutuhkan waktu yang cukup lama, karena proses pembuatannya cukup rumit. Untuk satu miniatur rumah adat Suku Rejang bisa dilakukan selama satu bulan.

“Kalau untuk pembuatan miniatur rumah ini tergantung dengan kerumitannya, bisa sampai satu bulan,” demikian Darwis. (**)