Melihat Kesiapan Relokasi Pedagang Pasar Minggu

Dukung Pemerintah, Harap Tak Tinggal Sejarah
RUDI - Pasar Minggu tampak sepi, dingin dan lembab. Sejumlah pedagang menyatakan siap direlokasi untuk mendukung program revitalisasi yang dicanangkan Pemerintah Kota (2)
Dahulu Pasar Minggu merupakan tempat berbelanja favorit bagi masyarakat Bengkulu. Namun kini, pasar ini seakan mati suri. Pemerintah pun menyiapkan kebijakan revitalisasi. Bagaimana respon pedagang terhadap rencana tersebut? Simak laporan berikut.
===================
RUDI NURDIANSYAH,

Kota Bengkulu
===================
SUASANA dingin, lembab dan sepi membuat Pasar Minggu bertingkat terkesan lebih menyerupai kuburan ketimbang sebuah pasar. Tidak banyak yang melintas di pasar ini dalam kurun waktu sekitar 10 tahun terakhir. Ia seakan meninggalkan kesan lamanya sebagai pusat ritel termasyur yang menjual berbagai macam kebutuhan seperti pakaian jadi, tas, sepatu, kacamata, buku, pernak-pernik hingga kosmetik.  Bak industri ritel modern, ia dulu tidak hanya menjadi pusat perbelanjaan, namun juga kerapkali digunakan generasi muda sebagai tempat tongkrongan.
Meski mayoritas toko di pasar ini telah dikosongkan, namun sejumlah pedagang memilih tetap bertahan. Sepinya pembeli yang beralih ke pasar modern tak sampai membunuh sekitar 400 pedagang yang memilih tetap bertahan. Mereka menanti perhatian pemerintah. Dan penantian itu pun akhirnya datang.
Selasa (7/10), Dinas Perindustrian dan Perdagang (Disperindag), Dinas Pekerjaan Umum (PU) serta Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Bengkulu melakukan kunjungan ke pasar ini. Kunjungan ini dilatarbelakangi oleh rencana pemerintah yang akan melakukan revitalisasi secara menyeluruh terhadap pasar ini pada tahun 2015 mendatang. Dan sejumlah rencana pun disusun.
Dalam keterangannya kepada jurnalis, Kepala Disperindag Kota Bengkulu, Drs H Tony Elfian MSi, mengatakan, agar memuluskan jalan revitalisasi, maka sekitar 400 pedagang di pasar ini harus direlokasi terlebih dahulu. Langkah tersebut akan didahului dengan pendataan. Kemudian, seluruh pedagang akan dipindahkan. Tempat relokasi tetap di dalam area Pasar Minggu dan dikelompokkan di areal perbatasan tembok Mega Mall dan kawasan Koperasi.
Sebenarnya pemerintah menyiapkan dua opsi revitaliasi. Pertama dilaksanakan bertahap. Kedua dilaksanakan sekaligus. Namun Disperindag Kota Bengkulu cenderung memilih opsi kedua.
Pedagang umumnya merespon positif kebijakan pemerintah tersebut. Bagi mereka tidak menjadi persoalan apabila relokasi dilaksanakan sebelum pemugaran kembali seluruh bangunan Pasar Minggu selesai dilaksanakan. Namun mereka mengajukan beberapa persyaratan.
Misalnya disampaikan H Syafri AR, warga Pengantungan. Ia hanya mau direlokasi selama tidak keluar dari area Pasar Minggu. Namun ia menyimpan kekhawatiran bilaman usai relokasi, ia tak bisa lagi menempati tokonya seperti semula. “Harus ada jaminan kalau setelah renovasi usai, kami bisa menempati lagi toko kami sebagaimana seperti semula,” ungkap pedagang jam tangan dan kacamata ini.
Meski mengaku belum mendapatkan sosialiasi mengenai kebijakan revitalisasi tersebut, namun sejak dahulu Syafri mendambakan peremajaan Pasar Minggu. Ia memiliki impian besar bahwa pasar tertua di Bengkulu tersebut dapat kembali ke era kejayaannya dahulu sebelum pecah reformasi 1998. Ia bahkan memiliki rancangan penggunaan lantai 2 bangunan Pasar Minggu dijadikan sebagai lokasi lahan parkir. Menurut dia, lantai 2 Pasar Minggu sangat representatif sebagai lokasi parkir dan akan mendatangkan lebih banyak Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Pemerintah Kota ketimbang disewakan dalam bentuk pertokoan. “Parkir di pasar ini kan semerawut. Sementara parkir Mega Mall juga masih panas dan sempit.  Jadi cocok sekali di atas jadi tempat parkir,” ungkapnya.
Demikian juga pendapat Roni (40), warga Rawa Makmur. Penjual pakaian jadi ini berharap pemerintah tidak menghilangkan hak-hak pedagang lama bila revitalisasi dilaksanakan. Ia sangat optimis, penataan pasar yang baik pasti akan membuat aktivitas ekonomi di Pasar Minggu kembali bergairah. “Tidak seperti sekarang, morat-marit. Kalau bagus, pasti ramai,” ujarnya.
Sementara Dinas PU Kota Bengkulu telah mengusulkan anggaran sebesar Rp 8,5 miliar untuk anggaran revitalisasi tersebut. Anggaran ini bukan hanya untuk merenovasi gedung secara keseluruhan, melainkan juga dapat digunakan untuk membangun sejumlah fasilitas publik lainnya seperti taman hijau dan tempat bermain anak-anak. (**)