Melihat Geliat Pecinta Bonsai di Curup Dari Tanaman Tak Bernilai menjadi Berharga Tinggi

Bonsai
Dedi Pujianto saat menunjukkan bonsai pagar dalam pameran yang digelar di Lapangan Setia Negara Curup. Bonsai pagar ini akan dijadikan bonsai khas Kabupaten Rejang Lebong. (Foto ARY/Bengkulu Ekspress).

 Seiring dengan hilangnya aktivitas pembuatan batu akik dalam beberapa tahun terakhir, kini muncul hobi baru di Kota Curup, yaitu hobi akan tanaman bonsai/kerdil. Bagaimana geliat para penghobi tanaman ini, berikut laporannya.

Ari Apriko, Curup

Dalam beberapa waktu terakhir, para pencinta tanaman bonsai atau tanaman kerdil mulai bermunculan di Kota Curup. Sebagian dari yang mencintai tanaman bonsai ini adalah mereka yang dulu menyukai batu akik, dengan seiring dengan redupnya kerajinan batu akik, mereka beralih ke tanaman bonsai.

“Dulu saya memang hobi batu, namun karena sekarang batu tidak musim lagi, maka mulai menyukai bonsai,” ungkap Eki (32), yang baru mencintai bonsai sejak beberapa bulan terakhir.

Diungkapkan Eki, layaknya kerajinan batu akik, bonsai juga berbicara masalah keindahan, namun menurutnya untuk bonsai ini adalah tanaman hidup yang perlu perhatian khusus untuk menjaga keindahannya.

Untuk mendapatkan tanaman ini, Eki mengaku selain dari beberapa pemain bonsai yang sudah senior. ia mengaku bersama sejumlah pencintai bonsai lainnya banyak mencari dialam bebas disekitar Kota Curup. Namun menurutnya untuk yang berasal dari alam bebas ini, membutuhkan waktu sehingga ia menjadi tanaman bonsai yang memiliki keindahan dan memiliki nilai jual yang tinggi.

“Kalau dari para senior-senior bonsainya sudah jadi, namun kalau mencari dari alam liar, butuh proses dulu, namun kalau dari alam bebas ini, adalah tanaman yang dulunya tidak memiliki nilai, namun setelah kita beru sentuhan maka akan memiliki nilai tinggi,” terang Eki.

Sementara itu, Dedi Pujianto Sekretaris komunitas Persatuan Pecinta Bonsai Curup mengungkapkan bahwa para pencinta bonsai di Kabupaten Rejang Lebong sudah ada sejak tahun 1980-an. Hanya saja menurutnya masih bersifat individu, belum memiliki kelompok, namun sejak 25 Februari lalu dengan semakin banyaknya pencinta bonsai, mereka membentuk komunitas Persatuan Pencinta Bonsai Curup dan menggelar pameran bonsai untuk pertama kalinya di Rejang Lebong yang mereka gelar di Lapangan Setia Negara Curup Minggu (12/3) kemarin.

“Pameran bonsai ini, merupakan yang pertama kali di Kabupaten Rejang Lebong,” ungkap pria yang akrab disapa Jimmi tersebut.

Dengan terbentuknya komunitas pencintai bonsai ini, menurut Jimmi saat ini mereka tengah mempopulerkan bonsai asli Rejang Lebong yaitu bonsai pagar dan bonsai cermai. Dimana menurutnya untuk dua jenis bonsai ini hanya ada di Kabupaten Rejang Lebong dan Kota Malang. Dengan melihat hal tersebut, mereka tengah mengupayakan agar kedua bonsai tersebut menjadi khas Kabupaten Rejang Lebong.

Disisi lain, Jimmi juga mengaku geliat para pencintai bonsai di Kota Curup memang sudah terjadi sejak dua tahun terakhir atau sejak redupnya para pencinta batu akik di Kabupaten Rejang Lebong.

Berbagai tanaman yang bisa dijadikan bonsai diantaranya berbagai jenis beringin, asam jawa, cendrawasih, sancang, cemara udang, jeruk kingkit dan sejumlah tanaman lainnya.

“Tanaman yang paling banyak dijadikan bonsai adalah beringin, selain mudah didapat, tanaman beringin juga mudah dijadikan bonsai,” paparnya.

Budidaya tanaman bonsai menurut Jimmi memang memerlukan ketelatenan, karena selain membutuhkan perawatan yang lebih dibanding dengan tanaman lainnya, pencintai bonsai juga harus memiliki imajinasi yang tinggi untuk membaca model tanaman bonsai yang akan dibuat berdasarkan bahan yang ia miliki. Dalam budidaya bonsai ini menurut Jimmi ada beberapa jenis tanaman yang medianya harus diganti maksimal 3 bulan sekali, namun ada juga yang bisa dalam jangka waktu yang lama.

“penyiraman juga harus sering kita lakukan, namun untuk di Kota Curup yang curah hujannya tinggi, tidak memerlukan penyiraman yang berlebihan,” akunya.

Sementara itu, untuk harga bonsai sendiri, menurut Jimmi bervariasi mulai dari Rp 250 ribu untuk tanaman yang masih bahan atau baru tanam, hingga Rp 15 juta untuk tanaman yang sudah jadi. Harga sendiri menurutnya akan dilihat dari keindahan dan usia tanaman itu sendiri.(**)