Melihat Aktivitas Nelayan Libur Melaut

Nelayan Banting Setir Kerja Serabutan
Foto 2 Foto 1
Kondisi angin badai cukup kencang berdampak buruk bagi para nelayan yang terdapat di Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng). Pasalnya, nelayan tidak bisa untuk turun ke laut guna mencari ikan.  Akan tetapi, kebutuhan ekonomi keluarga, mau tidak mau harus ada setiap harinya. Bagiamana, cara nelayan menyiasati guna memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Simak laporan berikut  ini.

NOVRIYANTO-Pondok Kelapa

Ketika disambangi Bengkulu Ekspress (BE), tampak raut wajah dari para nelayan ini, tampak tidak ceria. Karena tidak dapat mengantung hidup dengan mencari ikan. Untuk menyiasati itu, wargapun terpaksa berubah profesi dengan menjadi buruh harian lepas, bangunan dan upahan meraut bambu untuk digunakan sebagai pasak pemasangan terpal atau plastik ditambak udang di kecamatan setempat.
Seperti yang diutarakan oleh peraut bambu, Handi, didalam menggeluti upahan meraut bambu ini, dirinya dapat menghasilkan sebesar Rp 60 hingga 100 ribu/harinya. Sebab, dalam seribu batang bambu yang sudah diraut, dirinya mendapatkan upah sebesar Rp 60 ribu. Mengerjakan rautan bambu seribu itu, memerlukan waktu seharian. ” Kalau tidak begini, kami tidak bisa makan pak,” akunya.
Menurut Handi, akan tetapi walaupun pendapatan dengan mengambil upahan meraut bambu ini tidak dapat menghidupkan ekonomi keluarga. Akan tetapi, setidaknya dapat mengurangi beban ekonomi yang harus ditangungnya. Memang jika dibandingkan dengan pengeluaran, upahan meraut bambu ini tidak mencukupi.
“Penghasilan Rp 60 ribu/hari. Sedangkan, pengeluaran lebih dari Rp 100 ribu/harinya,” terangnya.
Hal yang sama diutarakan ibu rumah tangga (IRT), Ida. Dijelaskannya, upahan meraut bambu ini jika dikerjakan oleh IRT ini, memang lumayan karena dapat membantu beban ekonomi keluarga yang ditangung oleh suaminya. Akan tetapi, jika dijadikan usaha oleh kepala rumah tangga, tentunya tidak akan memenuhi kebutuhan keluarga. “Kalau untuk kerjaan kepala rumah tangga, tidak sesuai. Namun, kalau IRT setidaknya dapat mengurangi beban suami,” jelas Ida.
Ida menambahkan, meraut bambu ini dapat dilakukan ditempat – tempat teduh. Seperti, dibawah pohon, dalam rumah dan tempat lainnya. Sehingga, tidak perlu bekerja dibawah teriknya matahari. Oleh sebab itu, upahan meraut bambu ini sangat pantas dikerjakan oleh kalangan IRT.  “Kalau untuk laki – laki, memang tidak cocok. Namun, kalau untuk IRT pas,” tutupnya. (**)