Ichwan Yunus Melanjutkan Studi ke Palembang (bagian 1)

ichwan-yunus-dan-istri-300x277Tinggal di Kosan, Studi Dibiayai Bibi

Pada suatu pagi -tidak diketahui secara pasti hari, tanggal dan bulan apa- tahun 1957 Ichwan berangkat dari Bengkulu menuju Lubuk Linggau. Ichwan Yunus menggunakan Kereta Api jurusan Palembang melewati Prabumulih. Untuk pertama kalinya Ichwan bepergian menggunakan Kereta Api, menyelusuri rel, melewati hutan dan perkampungan.

Ketegaran dan keteguhan memegang prinsip Ichwan kembali teruji, tidak ada perasaan sedih, haru dan perasaan sentimentil lainnya dalam hati Ichwan, sebelum dan di saat perjalanan.  Yang ada adalah tekad bulat untuk melanjutkan sekolah dan percaya diri yang tinggi akan kemampuannya meraih apa yang ia cita-citakan.  Hal itu dibungkus dengan karakter kepribadian yang menyenangkan, periang, familiar dan penuh rasa humor yang tinggi, praktis perjalanan itu tidak ada hambatan. Tanpa terasa sampailah Ichwan di Stasiun Kereta Api Prabumulih dan langsung menuju rumah bibinya yang tidak terlalu jauh dari Stasiun.

Sesampai di rumah bibinya, setelah beramah tamah sambil mengutarakan maksud dan tujuannya, Ichwan lantas beristirahat sejenak kemudian mulai melakukan apa saja yang bisa dikerjakan. Karena sudah terbiasa hidup sebagai pembantu, maka Ichwan tahu persis bagaimana cara mengambil hati tuan rumah.   Dalam waktu yang singkat si kecil nan cerdik ini bisa membaur di tengah-tengah keIuarga bibinya.

Tidak ada kata—kata, perilaku, sikap atau raut wajah dari bibi dan keluarganya yang menunjukkan  tanda-tanda ketidak senangan dengan kehadiran lchwan di rumah mereka. Semuanya menunjukkan simpatik dengan perilaku dan tindak tanduk yang diperlihatkan lchwan selama berada di rumah mereka.   Seisi rumah seolah berharap lchwan tinggal lebih lama lagi. Begitu pula dengan lchwan,  Namun pertemuannya dengan bibi dan keluaganya begitu singkat.

lchwan segera sadar bahwa tujuan yang sebenarnya adalah melanjutkan studinya di SMEA Palembang, bukan rumah bibinya di Prabumulih. Tekad ini tidak akan pernah terganggu oleh perasaan sentimentil yang pada saat-saat tertentu kadang timbul sebagai fitrah manusia.

Setelah bebetapa hari istirahat, walau dengan berat hati lchwan harus melanjutkan perjalanannya ke kota Palembang. Ia berangkat meninggalkan rumah bibinya di Prabumulih menuju Kota Palembang.  Kepergiannya diantar oleh bibinya langsung menuju kos-kosan yang terletak di daerah Kenten Kota Palembang.  Tempat kos tersebut tidak jauh dari sekolahan yang dituju.

Berbeda dengan keberadaannya di Bengkulu sebagai pelajar dan sekaligus sebagai pembantu rumah tangga.  Saat itu perjalanan pendidikan Ichwan pernah star, berjalan biasa, sempat macet, dan star kembali lantas berlari kencang melesat meninggalkan kawan-kawannya.  Sementara di Palembang begitu star, Ichwan langsung berlari dan tidak pernah tersalipkan oleh kawan-kawan seperjuangannya.

Paling tidak ada dua perbedaan yang cukup mencolok antara kehidupan Ichwan ketika masih berada di Bengkulu dengan kehidupannya yang baru di Palembang. Pertama, dari segi suasana dan cara hidup di luar sekolah, jelas berbeda 180 derajat.  Bila sebelumnya sepulang sekolah berbagai macam pekerjaan di rumah sudah menunggu.   Pikirannya juga selalu dibebani oleh perasaan takut bersalah.  Disamping naluri kekanak-kanakannya yang masih sangat kuat untuk dapat bermain dan olah raga.

Lain halnya di Palembang, hampir semua beban itu sudah tidak ada lagi. Sebagai seorang in the kost (selanjutnya ditulis dan dibaca indekos), ia hanya bertangung jawab dengan urusan pribadinya.  Pekerjaan mencuci pakaian sendiri, membersihkan dan merapikan kamarnya sendiri dan lain sebagainya. Hanya sesekali saja membantu Ibu indekos (selanjutnya disebut Ibu kos), itu pun sifatnya suka rela. Kedua,fasilitas sarana dan prasarana jauh Iebih lengkap dan berkualitas di banding sekolah asalnya, SMEP Bengkulu.

Bukan berarti selama di Palembang ini Ichwan tidak mempunyai kendala sama sekali, di banding dengan kawan-kawan satu kosnya, Ichwan paling sering menemui hambatan keuangan.   Mulai dari keperluan sekolah, sampai pemenuhan kehidupan sehari-hari selalu saja tersendat-sendat. Beruntung ia mendapatkan Ibu kos dan keluarganya yang baik hati, memperlakukan Ichwan dan kawan-kawannya bagaikan anaknya sendiri.

Bahkan menurut Ichwan, ia justru mendapatkan perhatian lebih dibandingkan dengan kawan-kawannya. Hal ini dapat dimaklumi karena kepribadian Ichwan sejak dikampung halamannya dikenal dengan pribadi yang menyenangkan, periang, familiar, perhatian dan humoris.   Ditambah lagi dengan kebiasaan Ichwan yang ringan tangan, dalam arti suka mengerjakan hal-hal yang dapat dikerjakannya, tanpa menunggu diperintah. Karena kepribadian yang demikian ia sangat akrab dengan kawan-kawannya, dan sama sekali tidak menimbulkan kecemburuan, meskipun Ichwan mendapatkan perhatian lebih.

Pembiayaan Ichwan selama berada di Palembang banyak dibantu oleh bibinya yang berada di Prabumulih. Setiap liburan Ichwan tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk pulang ke Prabumulih guna membantu pekerjaan bibinya. Sebagai isteri pegawai perusahan perminyakan,  hidup bibinya berkecukupan, tapi masih saja Ibu Hanifah bekerja mencari penghasilan tambahan sebagai tukang kredit kain dan pakaian jadi. Disinilah kesempatan Ichwan menunjukkan pengabdiannya kepada sang Bibi. Ia selalu menyertai bibinya menjajakan dagangan dari rumah ke rumah, dari satu pekan/pasar ke pekan/pasar yang lain dengan berjalan kaki sambil menjunjung buntalan besar di kepalanya.

Ketika hari sudah mulai senja, biasanya sang Bibi menyuruh Ichwan pulang dulu dan mampir ke pasar atau warung untuk belanja ikan dan sayur-mayur. Sesampainya di rumah Ichwan tahu persis apa yang harus dikerjakan. Perlahan tapi pasti ia menyiapkan segala sesuatu untuk memasak menu makan malam yang sudah dipesankan bibinya. Pekerjaan ini sama sekali tidak asing bagi Ichwan, ia sudah terbiasa selama empat tahun menjalaninya. Oleh karena itu untuk mendapatkan cita rasa yang pas tidaklah susah baginya.

Setelah semuanya selesai dan siap untuk dihidangkan, barulah Ichwan pergi mandi dan beristirahat sambil menunggu kedatangan Bibinya. Demikian kehadiran Ichwan saat liburan sekolah sangar berarti bagi keluarga ini terlebih bagi Bibinya sendiri, bukan hanya pekerjaan profesinya yang terbantu, tapi pekerjaan rumah pun terasa jauh lebih ringan dengan kehadiran Ichwan. Walaupun tidak terucap dengan kata, tapi dihati sebenarnya sang Bibi selalu berharap kehadiran sang ponakan di rumahnya.

Rasa cinta dan kasih sayang yang diikuti oleh rasa butuh akan kehadiran sang ponakan inilah yang menyebabkan Bibi dan Paman selalu berusaha memenuhi kebutuhan Ichwan dalam meraih cita-citanya. Selalu saja Bibi yang memulai bertanya tentang apa saja dan berapa kebutuhan Ichwan, untuk kembali lagi ke Palernbang, baik yang menyangkut bayaran di sekolah, maupun kebutuhan sehari-hari di kosnya. Setiap Pulang dari liburan di Prabumulih inilah biasanya Ichwan melunasi segala tunggakan di sekolah, di indekos dan kadang kala juga dengan teman-teman sekolahnya.(bersambung)