Media Berperan Kurangi Risiko Bencana

DENDI - Tokoh Media Nasional, Parni Hardi saat menyampaikan bahwa media sangat berperan kurangai risiko bencana  (1)

BENGKULU, BE – Media massa tidak hanya memberikan informasi tentang bencana, namun juga berperan penting dalam mengurangi risiko bencana, seperti memberikan informasi yang berisi optimisme, menghibur dan tidak menambah kesedihan masyarakat korban bencana.
Hal ini disampaikan Tokoh Pers Nasional, Parni Hardi dalam  diskusi yang bertema “Peran Media Dalam Pengurangan Risiko Bencana” yang dihelat di ruang Halekua Grage Horizon Hotel Kota Bengkulu, kemarin.
Menurut Parni, selain dengan memberikan informasi  yang bernada optimisme, media juga dilarang menampilkan foto atau gambar korban dalam kondisi berdarah-darah atau dalam kondisi mengenaskan. Karena hal tersebut bisa menambah kesedihan bagi keluarga atau masyarakat korban bencana lainnya.
“Memang harus fakta yang dimuatkan, tapi kalau dampaknya menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi orang lain, itu tidak boleh,” tegas Parni.
Ditambahkannya, fungsi media dalam pengurangan risiko bencana agar tidak sekali-sekali menjadi pihak yang memprofokatif, tetapi selain menjadi pelapor,  pelopor, sponsor dan mediator. “Seorang jurnalis yang mengikuti reportase kejadian bencana agar menjadi palapor, pelopor, sponsor dan mediator dalam pengurangan resiko bencana untuk membangun ketangguhan daerah,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga mengatakan kunci utama informasi tentang bencana juga terdapat pada jurnalis atau wartawan yang meliputnya. Karena itu dibutuhkan tidak hanya sekadar wartawan yang bisa melaporkan bencana, namun juga harus mampu menjadi pelaku atau operator.
“Pemilik hingga wartawan di sebuah perusahaan media perlu memiliki kesadaran, pengetahuan, dan kepedulian tentang potensi bencana, cara menghindari atau mencegahnya hingga bagaimana mengurangi dampak setelah terjadinya bencana seperti proses rehabilitasi dan lainnya,” jelas Parni.
Menurutnya, pola pikir jurnalis bencana sudah harus dibangun, karena dengan kondisi yang terjadi saat ini di beberapa negara termasuk Indonesia, semua harus dibuat sadar akan bencana. Peran media pun menjadi sangat penting sebagai transformasi informasi kepada masyarakat luas.
Untuk menjadi seorang pelapor, Parni mengatakan bahwa jurnalis harus memiliki keilmuan dan keahlian dalam peliputan saat bencana. Namun demikian, peliputan bencana juga tetap memegang teguh nilai-nilai jurnalistik yang juga dikombinasikan dengan sense humanismenya. “Untuk itulah wartawan yang meliput bencana harus memiliki stamina dan kemampuan fisik yang kuat. Selain itu juga wartawan peliput bencana harus mempunyai kemampuan dasar ilmu tanggap bencana seperti evakuasi dan SAR serta kemampuan lainnya, selain keahlian dalam meliput berita.  Hal tersebut diperlukan karena peliputan bencana memiliki risiko yang tinggi,” terang Parni.
Ia juga menekankan, setiap jurnalis yang melakukan peliputan bencana harus dalam kondisi sehat dan mengetahui standar operasional prosedur (SOP). Selain itu juga wartawan peliput PRB harus profesional, berjiwa besar atau jurnalis kenabian yang menjalankan tugasnya karena cinta kepada sesame secara sukarela dan sukacita. “Peliput PRB harus bisa memberitahu, mendidik, menghibur, memberikan advokasi, mencerahkan dan memberdayakan subjek bencana dalam hal ini korban bencana dalam penguatannya,” tukasnya. (400)