MCK Layak, Cuma 20%

LEBONG ATAS, BE- Wajar saja jika di tahun ini pemerintah Kecamatan Lebong Atas (LA) mengharapkan ada bantuan anggaran untuk menyediakan MCK yang layak bagi warganya. Pasalnya, dari 1379 kepala keluarga di 6 desa dalam Kecamatan LA, ternyata baru sekitar 20 persen atau sebanyak 276 kk saja yang sudah memiliki tempat mandi cuci kakus yang layak. “Kita berhadap ada pembangunan sarana MCK di masing masing desa di wilayah kecamatan Lebong Atas, sehingga kualitas kesehatan warga yang terdiri dari 5368 jiwa dapat Lebih baik,” harap Camat LA Elva Mardiana SIP MM. Dikatakan, pembanguan MCK di LA juga akan mempengaruhi kesehatan warga di kecamatan tetangga, yakni Pelabai. Soalnya, sebagian besar pasokan air ke warga di Pelabai berasal dari LA. “Akibat minimnya MCK, kegiatan MCK warga banyak di sungai-sungai,” ujarnya. Ia mengungkapkan, di tahun 2011 yang lalu sebenarnya ada program pembangunan MCK, yang diprogamkan di Kecamatan Lebong Atas. Namun Elva mengaku tidak tahu mengapa program itu tidak terlaksana. Sebelumnya, Kepala Dinkes Lebong dr H Iwan Suwarsa MKes mengatakan, kebiasaan masyarakat terutama memanfaatkan aliran sungai sebagai WC umum berpotensi menimbulkan penyakit. Air yang tercemar oleh masyarakat bisa menimbulkan diare, demam tifus, kolera dan penyakit hepatitis A. “Kebiasaan masyarakat kita yang menggunakan air sungai sebagai MCK masih tinggi. Padahal resiko terkena penyakit karena menggunakan air yang tercemar cukup berbahaya. Berdasarkan penelitian penggunaan air yang tercemar oleh mikroba, dari 100 ribu bayi yang lahir 75 di antaranya meninggal sebelum menginjak usia 5 tahun akibat diare dan setiap tahun 15 ribu anak Indonesia meninggal akibat diare,” jelasnya. Karena itu, pembangunan sarana air dan sanitasi di pemukiman penduduk, lanjut dr. Iwan, memerlukan perencanaan dan partisifasi masyarakat. Selain itu, masyarakat juga harus bisa melakukan perubahan untuk dirinya sendiri dan lingkungannya. “Perlu diketahu bahwa 94 % kejadian diare karena faktor lingkungan berupa mengkonsumsi air yang tidak sehat dan sanitasi yang buruk. Maka modal utama untuk menjaga lingkungan ini adalah kesadaran dan kemauan dari diri sendiri,” pungkas dr Iwan. (777)