Mayoritas Jamaah Senior, Petugas Haji Bisa Kewalahan

JAKARTA – Upaya pemerintah memangkas antrean calon jamaah haji usia lanjut menimbulkan dua dampak yang bertentangan. Di satu sisi kebijakan itu membuat jamaah usia lanjut berpeluang berangkat lebih awal. Tetapi, di sisi lain, petugas lokal di Arab Saudi bakal kewalahan karena meladeni jamaah haji senior dalam jumlah besar.

Pada upacara pelepasan penerbangan perdana calon jamaah haji di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, kemarin (21/9), Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama (Kemenag) Anggito Abimanyu menuturkan, komposisi jamaah haji berumur lebih dari 70 tahun mencapai 80 persen.

Artinya jika saat ini kuota pokok jamaah haji berjumlah 211 ribu (reguler 194 ribu dan khusus 17 ribu), berarti calon jamaah haji yang berumur lebih dari 70 tahun mencapai 168.800 orang. Rekor jamaah haji tertua dipegang oleh Karto Masa”id dari Kapuas, Kalimantan Tengah, yang kini sudah berumur 110 tahun.

Komposisi jamaah haji yang hampir didominasi masyarakat usia lanjut itu semakin diperparah faktor kesehatan. Anggito menuturkan, sekitar 50 persen dari seluruh jamaah haji Indonesia masuk kategori beresiko tinggi (risti). “Ketentuan para jamaah dikategorikan risti ini dikeluarkan oleh teman-teman di Kementerian Kesehatan (Kemenkes, red),” jelas Anggito.

Dengan adanya komposisi jamaah haji tua yang lumayan banyak itu, Anggito berpesan supaya seluruh petugas haji agar meningkatkan pelayanan. Dia juga mengimbau, para jamaah haji, terutama yang berumur lanjut, tidak meninggalkan pemondokan seorang diri. Jika keluarga tidak bisa mendampingi, bisa meminta bantuan untuk didampingi petugas.

Mantan kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan itu juga menambahkan, petugas haji di Arab Saudi dituntut benar-benar sabar dan bekerja profesional. Terutama para petugas medis.

Faktor kesabaran itu penting, lanjut Anggito, karena sekitar 35 persen lebih jamaah haji Indonesia berpendidikan maksimal SD. Dengan kondisi ini, muncul potensi para jamaah haji belum bisa baca tulis. Bahkan juga tidak lancar juga berbahasa Indonesia.

Untuk meladeni banyaknya jamaah haji usia lanjut dan risti tadi, Kemenkes melansir sejumlah pesan layanan kesehatan untuk seluruh jamaah dan petugas kesehatan haji. Di antaranya adalah obat-obatan yang dibawa harus dicek dengan benar. Upaya ini untuk menghindari ada obat penting malah ketinggalan di tanah air.

Imbauan berikutnya adalah, kalau memang sejak di Indonesia sudah dideteksi mengidap penyakit kronis, surat-surat dari dokter yang biasa merawat di tanah air agar segera diberikan ke dokter kloter. Selanjutnya surat itu langsung diberikan ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) di Makkah dan Madinah.

Kemenkes juga mengingatkan jika perjalanan atau rangkaian ibadah haji butuh waktu yang tidak sebentar. Untuk itu, jamaah yang lebih dulu mendarat di Madinah agar tidak menghabiskan tenaga di kota tempat pemakaman Nabi Muhammad SAW itu. Para jamaah dihimbau mengurangi atau menahan aktivitas jalan-jalan yang tidak perlu.

Di acara yang sama, Menag Suryadharma Ali juga mengingatkan kembali para jamaah kalau jarak pemondokan Indonesia maksimal ada di radius 2,5 km dari Masjidil Haram. “Awalnya kita menarget pemondokan paling jauh 2 km saja. Tetapi, karena banyak renovasi di sekitar Masjidil Haram, target tadi tidak terwujud,” katanya. Menteri yang akrab disapa SDA itu berharap, tahun depan jarak pemondokan dengan Masjidil Haram bisa semakin dekat lagi.

SDA mengatakan, pemerintah tetap menjalankan layanan safari wuquf bagi jamaah yang benar-benar kronis saat pelaksanaan puncak ibadah haji itu. Layanan safari wuquf ini dilaksanakan dengan cara, jamaah haji dibawa ke padang Arafah dan dibiarkan di dalam ambulans.

Pelaksanaan wuquf (9 Dzulhijjah) jatuh pada Kamis, 25 Oktober.
Seluruh embarkasi melaksanakan penerbangan kloter pertama kemarin (selengkapnya lihat grafis), kecuali embarkasi Banjarmasin. Penerbangan kloter pertama embarkasi Banjarmasin baru dilaksanakan pada 25 September nanti.

Menurut Direktur Pelayanan Haji (Diryanhaj) Ditjen PHU Kemenag Sri Ilham Lubis, setiap tahun memang selalu ada embarkasi yang penerbangan kloter pertamanya selalu terlambat. “Khususnya di embarkasi BDJ (Banjarmasin), BPN (Balikpapan), BTJ (Banda Aceh) dan LOP (Lombok),” katanya.

Sri mengatakan, embarkasi yang sering tidak kompak penerbangan perdananya ini disebabkan karena jumlah jamaah hajinya kurang dari 5.000 orang. Dengan jumlah jamaah yang sedikit itu, kurang optimal jika disiapkan pesawat sendiri-sendiri. Jika dipaksanakan, harga tiket penerbangan yang ditanggung para jamaah bisa lebih mahal.

Sementara itu, Ketua Komisi VIII DPR Ida Fauziah yang juga hadir dalam pelepasan haji kemarin menggarisbawahi beberapa faktor yang harus diperhatikan pemerintah agar penyelenggaraan haji periode 2012 bisa sukses. “DPR terus mengingatkan supaya pemerintah dan pemilik pemondokan berani menjamin ketersediaan air bersih,” kata dia.

Fauziah mengatakan, jamaah haji asal Indonesia sangat berbeda dengan jamaah dari negara-negara lain. “Kalau mereka (jamaah haji non-Indonesia) biasa mandi sekali seminggu, jamaah haji kita harus tetap mandi minimal 2 kali sehari,” kata dia. Karena itu, lanjut Fauziah, mengatakan ketersediaan air mutlak diperlukan. (wan/ttg)