Masyarakat Miskin Penerima Gas 3 Kg Diverifikasi Ulang

Dok/BE
Penyaluran gas 3 Kg atau yang dikenal masyarakat dengan sebutan gas Melon.

 

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Subsidi gas melon 3 kilogram hingga saat ini dinilai masih belum tepat sasaran karena tak seluruh masyarakat miskin bisa mendapatkannya untuk kebutuhan sehari-hari. Malahan gas subsidi tersebut diketahui masih banyak digunakan oleh orang mampu seperti PNS dan usaha makro seperti restoran besar.

Untuk itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bengkulu melakukan pendataan ulang terhadap jumlah warga miskin di kota Bengkulu. Pendataan ini menindaklanjuti rencana pemerintah pusat untuk mencabut subsidi kenaikan gas 3 kg yang dikhususkan bagi masyarakat yang tergolong mampu.

“Kementerian ESDM minta kita verifikasi ulang data masyarakat miskin, dan ini sedang kita lakukan. Kita juga berkoordinasi dengan dinas terkait guna untuk mendapat data yang lebih valid,” ujar Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Tertib Niaga Disperindag Kota, Yuliansyah SE, Jumat (22/02).

Pihak Disperindag juga akan mendata jumlah usaha mikro yang ada di Kota Bengkulu, sebab sesuai dengan aturan, peruntukan gas 3 kg juga disediakan bagi usaha mikro. Sebagaimana diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerapkan sistem distribusi tepat sasaran Elpiji 3 kg mulai pertengahan tahun 2020.

“Nantinya, hanya masyarakat yang berhak saja yang dapat menikmati subsidi. Penyaluran gas 3 kg ini nanti sistemnya tertutup, artinya tidak bisa dibeli masyarakat bebas. Mungkin nanti dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) sehingga warga miskin tetap terbantu,” jelasnya.

Meski rencana tersebut masih dikaji mendalam, namun tiap-tiap daerah sudah melakukan pendataan ulang agar apabila data diperlukan mereka sudah siap dengna data valid.

Rencana tersebut juga mendapat tanggapan dari Ketua Komisi III DPRD Kota Bengkulu, Baidari Citra Dewi. Ia mengatakan pihaknya mendukung rencana tersebut sebagai langkah efisiensi, sebab tak sedikit masyarakat mampu yang mengambil hak subsidi warga miskin. Jika diterapkan penyeluaran tertutup ini maka diharapkan gas 3 kg bisa tepat sasaran.

“Kita sejatinya mendukung rencana ini yang tentunya baik untuk masyarakat. Semoga langkah ini bisa efektif untuk menyalurkan subsidi tepat sasaran,” ucapnya.

Rencana kenaikan harga eceran tertinggi ( HET) gas 3 kg saat ini juga sedang dipantau pihaknya karena bisa saja memberatkan masyarakat miskin. Ia berpendapat, dalam menentukan HET harus menimbang lagi kekuatan beli masyarakat miskin apakah masih terjangkau atau malah membebani.

“Meski naik hendaknya ya jangan terlalu tinggi. Sekarang HET gas 3 kg Rp 15.300/ tabung. Mungkin kenaikan bisa sampai Rp 16 ribu, jika lebih dari itu kemungkinan akan memberatkan masyarakat,” tambahnya. (Imn)



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*