“Masjid Agusrin” Kembali Disegel

masjid desa agusrin di segelPINO, BE – Satu-satunya masjid di tanah kelahiran mantan Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin dan Wagub Bengkulu Sutan Najamudin di Desa Anggut Kecamatan Pino kembali disegel pihak kontraktor pengerjaan masjid tersebut.
Tidak hanya itu, jalan lingkungan yang menuju tempat pemakaman warga juga disegel pihak kontraktor. Hal ini telah mengganggu kenyamanan warga untuk peribadah dan mengunjungi areal pemakaman di Desa Anggut tersebut.
Drs K Gusti, perwakilan pihak perusahaan yang menjabat sebagai kuasa penagihan mengungkapkan, penyegelan itu dilakukan lantaran kesadaran pihaknya sudah habis. Sebab pihak Pemda Provinsi tidak kunjung melunasi upah pengerjaan pengembangan Masjid  Al Hikmah itu serta pengerjaan jalan lingkungan. “Penyegelan ini sebenarnya tidak ingin kami lakukan, namun karena Pemda Provinsi tidak kunjung melunasi upah kami, maka kami terpaksa melakukan penyegelan,” ujarnya usai menyegel masjid dan jalan lingkungan dengan memasang kayu di depan pintu masuk masjid dan jalan menuju pemakaman sekitar pukul 12.35 WIB kemarin.
Menurutnya, pada tahun 2008 lalu, Pemda Provinsi Bengkulu dalam hal ini Gubernurnya masih di jabat oleh Agusrin M Najamuddin menggarkan proyek pengembangan Masjid  Al Hikmah di Desa Anggut. Saat itu pihaknya dipercaya untuk mengerjakannya dengan upah Rp 800 juta untuk mengerjakan kedua item pekerjaan itu. Hanya saja setelah pengerjaan selesai, Pemda Provinsi belum juga membayar upah. Bahkan tahun 2009 lalu pihaknya sempat melakukan penyegelan, namun setelah Pemrpov membayar upah sebesar Rp 460 juta,  maka segel itu dibuka dengan janji akan segera melunasi sisanya. “Saat ini upah yang sudah kami terima sebesar Rp 460 juta itupun setelah masjid kami segel dan sisa upah masih sebesar Rp 340 juta lagi,” kata Gusti.
Hanya saja setelah itu, komunikasi pihaknya dengan Pemprov dan juga keluarga Gubernur Bengkulu, Agusrin  M Najamuddin sempat terputus lantaran sang gubernur tersandung masalah hukum. Akan tetapi ditahun 2011 lalu pihaknya sempat mempertanyakan sisa  upah itu kepada Pelaksana Tugas Gubernur Junaidi Hamzah. Namun Junaidi Hamzah menjanjikan akan melunasi sisa upah itu setelah dirinya resmi dilantik menjadi gubernur definitif.
Namun setelah dilantik pada akhir 2012 lalu hingga saat ini Junaidi belum juga  merealisasikan pembayaran sisa upah tersebut. “Kami ini sudah sangat sabar, janji Pak Gubernur Junaidi sisa upah dibayar setelah dirinya dilantik menjadi gubernur, namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan dibayar, bahkan adik mantan gubernur yakni Sultan Najamudin pun sudah dilantik  menjadi wakil gubernur, namun belum juga dibayar,” terangnya.
Untuk itu sambung dia, aksi segel masjid yang jalan itu tetap akan pihaknya lakukan sebelum ada penyelesaian pembayaran sisa upah dari Pemda Provinsi Bengkulu. Bahkan pihaknya tidak akan melepas kayu sebagai palang menutup pintu pagar itu hingga sisa upah dilunasi. “Kayu palang itu baru akan kami lepas setelah sisa hutang dilunasi,” ujar Gusti.
Sementara Imam Masjid Agung Al Hikmah, Minal Aidin mengaku pasrah dengan adanya penyegelan itu. Dirinya berharap Pemprov untuk segera menyelesaikan masalah terkait pengembangan masjid di desanya itu. Dengan adanya penyegelan telah mengganggu warga menjalankan aktivitas ibadah. “Kami tidak tahu permasalahan  yang menimpa masjid kami, bagi kami dengan adanya masjid itu tempat kami menjalankan ibadah kepada Allah, namun dengan ditutup pintunya, maka kami harus shalat berjamaah dan kegiatan lain menjadi terganggu,” katanya.
Hal senada juga diakui Kepala Desa Anggut,  Riphan melalui Kepala Urusan Umum, Yospen. Menurutnya adanya penyegelan masjid dan jalan lingkungan didesanya itu telah membuat resah warganya. Namun selaku pemerintahan desa pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Hanya saja dirinya berharap agar pihak yang menyegel masjid itu dapat membuka kembali segel atau palangnya agar warga dapat menjalankan rutinitas ibadah.” Kalau disegel kemana lagi kami salat berjamaah, padahal itu masjid satu-satunya di desa kami. Untuk itu kami berharap agar pihak yang menyegelnya dapat membukanya kembali,” ujar Yospen.(369)