Masjid Agung Arga Makmur

Masjid Agung Arga Makmur

 Dibangun di Atas Sarang Harimau, Sudah 3 Kali Bergeser

Masjid Agung Argamakmur merupakan salah satu icon yang dibanggakan oleh masyarakat Bengkulu Utara, khususnya Kota Arga Makmur.  Selain bangunannya yang megah, juga terletak di jantung ibukota tentunya.  Hal inilah yang membuatnya dikenal oleh seluruh masyarakat BU.  Namun tidak banyak yang tahu akan sejarah masjid kebanggaan tersebut.  Berikut sepenggal sejarah Masjid Agung Arga Makmur.

FIRDAUS EFFENDY, Arga Makmur –

MASJID kebanggaan ini didirikan pada tahun 1980. Namun lokasi masjid tersebut bukanlah di tempatnya saat ini, melainkan terletak tepat di Bundaran Kota Argamakmur yang saat ini sudah menjadi Taman Pusat Kota. Tak hanya itu, namanya pun bukanlah Masjid Agung, melainkan Masjid Jamik. Saat itu, bangunanannya tampak masih sederhana dengan atap seng dan berdindingkan papan, yang dibangun oleh swadaya masyarakat Arga Makmur saat itu. Pesatnya pembangunan di Bengkulu Utara, ”memaksa” bangunan masjid itu harus dipindah. Saat itu tahun 1987, di bawah pemerintahan Presiden RI Alm. Soeharto, Bengkulu Utara mendapatkan program pembangunan jalan jalur II dan di tengah kotanya akan didirikan taman kota yang saat ini lebih dikenal dengan Bundaran Arga Makmur. Akhirnya, atas persetujuan para tetua masyarakat dan pemerintah, dan seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk, Masjid Jamik pun bergeser sekitar 100 meter ke arah selatan (lokasi saat ini). ”Saat pemindahan itu, masjid direhab dengan bantuan pemerintah,” cerita Suryadi yang sudah menjadi penjaga masjid sejak puluhan tahun silam. Saat itu, tak hanya tempatnya yang berpindah, namun namanya pun ikut diganti menjadi Masjid Agung hingga sekarang. Menurut Suryadi, lokasi masjid saat ini, dulunya adalah bekas sarang harimau, karena saat itu Arga Makmur masih hutan belantara dan masih banyak binatang liar.  Selanjutnya, pada tahun 1997, Masjid Agung ini kembali direnovasi besar-besaran atas bantuan Presiden RI Alm. Soeharto. Bahkan lokasinya pun digeser dari bangunan lama. ”Sejak saat itu hingga sekarang, inti dari bangunan masjid tidak pernah ada yang diubah oleh pengurus masjid, walaupun sudah mengalami beberapa kali rehab,” ungkap Suryadi. Pembangunan yang dilakukan oleh Presiden Soeharto sangat signifikan dalam mengubah bentuk masjid. Bahkan, miniatur bangunan masjid langsung diboyong dari Jakarta, hingga membuat Masjid Agung menjadi masjid yang cukup besar dari sebelumnya. Dan sebagai penghargaan masyarakat Bengkulu Utara saat itu kepada Mantan Presiden RI, pengurus membuat prasasti dan dibawa langsung ke Jakarta untuk ditandatangani oleh Presiden Soeharto saat itu. ”Hingga saat ini prasasti itu masih terawat dan tetap di tempatnya dulu,” kenangnya. Tahun berganti dan penduduk di Kota Argamakmur BU semakin meningkat. Saat ini masjid semakin megah. Bahkan, halaman masjidnya pun saat ini sudah dapat digunakan sebagai tempat salat. Luas bangunan masjid yang dulunya hanya bisa menampung sekitar 500 orang, sekarang bisa menampung 1.300 orang dan menjadi masjid kebanggaan warga Bengkulu Utara. (**)