Masih Harapkan Raskin

Meski sebagian desa menolak penyaluran beras mikisn (Raskin). Namun sebagian masyarakat masih mengharapkannya. Karena Raskin dirasa cukup membantu ekonomi warga. Setidaknya mengurangi pengeluaran membeli kebutuhan beras.
“Ya bisa nambahlah, karena beras sekarang sudah mahal Rp 13 ribu percupak malah Rp 14 ribu kalau untuk kualitas bagus,” kata Toro, Warga Ujung Karang, Kecamatan Karang Tinggi.

Saat menerima Raskin, Toro sekeluarga mendapat 10 kg, sejak 2010 lalu. Namun hinga pertengahan tahun ini (2012) dirinya tak mendapatnya lagi. “Kalau tahu (informasinya) ya dapat, tapi kalau tidak (tahu), tidak dapat,” ungkapnya.
Tak mendapatkan Raskin membuat Toro kesulitan membeli beras. Sebab ia kini tak bisa lagi membeli beras dengan harga murah. Ia harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli beras di pasar.

Toro dan puluhan keluarga lainnya masih mengharapkan adanya bantuan Raskin, meski sebagian desa tetangga lainnya ada juga yang menolak.”Kami masih butuh raskin karena kebutuhan pokok kami masih kurang,” imbuhnya.
Toro mengungkapkan saat ada program BLT (Bantuan Langsung Tunai) terdahulu ia mendapat Rp 1 juta, sebagai kompensasi kenaikan harga BBM kala itu. Dengan jumlah itu, ia bisa membenahi ekonomi keluarganya. “Itu yang pertama, tapi untuk yang kedua saya tidak dapat,” tambah Toro.

Saat sekarang tambahnya, pemerintah membagikan kompor gas gratis sebagai ganti minyak. Namun sayangnya, kualitas kompor itu tak sebanding pemakaiannya yang gampang rusak. Terlebih minyak tanah tetap mahal, makin sulit untuk membiayai dapur rumahnya. “Tambah kacau, bagi kompor, tapi kompornya gampang rusak,” cetus Toro.(122)