Masih Gunakan Sistim Barter

2

Sungai Lisai merupakan sebuah Desa yang terletak diujung Kabupaten Lebong yang langsung berbatasan dengan Desa Madras Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Desa yang masuk kedalam Kecamatan Pinang Belapis ini memang sebelumnya tercatat sebagai salah satu Desa di Kabupaten Merangin, namun sejak tahun 2009 akhir Sungai Lisai diserahkan ke Kabupaten Lebong. Desa ini masih terisolir, masyarakatnya masih menggunakan sistim bater (tukat-menukar barang) dan hingga kini menggunakan 2 bahasa, Bahasa Madras dan Bahasa Rejang.
Bagaimana cerita kehidupan di Desa yang masih sangat terisolir ini, berikut laporannya :

Dwi Nopiyanto, Kabupaten Lebong

Berangkat dari pusat Kota Muara Aman pukul 11.00 WIB kami (Bengkulu Ekspress (BE) ,red) baru tiba di Desa sungai lisai pukul 17.30 WIB pada Sabtu (14/3) lalu. Gapura sederhana yang terbuat dari kayu berwarna biru menunjukkan jika BE telah sampai di Desa Sungai Lisai. Jarak yang jauh, ditambah dengan medan jalan yang berat serta cuaca yang saat itu sedang diguyur hujan membuat perjalanan membutuhkan tenaga ekstra.
Memang hingga saat ini hanya terdapat satu akses jalan untuk menuju desa yang terdiri dari 3 dusun ini, yaitu dengan melewati jalan tanah setapak di kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Hal ini tentunya sangat berbanding terbalik dengan rencana Kabupaten Lebong yang berencana membuat jalan tembus antara Kabupaten Lebong dengan Kabupaten Merangin Jambi, pasalnya hingga saat ini kondisi jalan menuju Desa Sungai Lisai sama sekali belum dibangun.
Saat mulai masuk kedalam desa, kami disuguhi pemandangan rumah panggung yang terbuat dari kayu berjejer rapih. Kondisi desa yang jauh dari pusat keramaian dan masih sangat terbilang jarang dikunjungi oleh orang dari luar membuat warga desa ini masih melakukan sistem barter atau menukar barang dengan barang lainnya yang dinilai memiliki harga yang sama dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Hal ini lantaran jarak antara Desa Sungai Lisai Dengan Desa terdekat yang sudah memiliki akses jalan bisa dilintasi oleh kendaraan roda empat yaitu desa seblat berjarak sekitar 10 Km. Dengan jarak ini, bagi orang yang sudah biasa berjalan setidaknya memakan waktu hingga 2,5 jam ditempuh dengan perjalanan kaki.
Diceritakan Pejabat sementara (Pjs) Kepala Desa (Kades) sungai Lisai Hajron Hadi (34) sebagian besar warga desanya berprofesi sebagai petani, mulai dari petani \beras hingga petani kopi. Mengingat kondisi akses jalan yang kurang mendukung maka warga lebih memilih menyimpan hasil panennya di lumbung padi desa. Beras inilah yang nantinya menjadi salah satu alat barter untuk ditukarkan dengan kebutuhan pokok sehari-hari di satu-satunya warung yang berada di desa tersebut. “Warga disini berprofesi sebagai petani, kalau untuk beras kami lebih memilihnya untuk menyimpan dilumbung untuk kebutuhan selama satu tahun. Selain itu juga bisa digunakan untuk barter dengan kebutuhan pokok lainnya. Sementara untuk hasil panen kopi biasanya dibawa ke pasar dengan menggunkana jasa capung (Orang yang membawa barang dengan jalan kaki, red). Jadi sekarang ini apa yang ada, kalau ada uang ya pakai uang. Tapi kalau tidak ada bisa dibarter dengan barang yang nilainya sama. Misalnya gula yang seharga 15 ribu perkilonya bisa ditukar dengan beras dua cupak,” ungkap Kades.
Selain itu, terdapat dua bahasa yang digunakan masyarakat dengan jumlah 84 Kepala Keluarga (KK) ini, yaitu Bahasa Madras dan Bahasa Rejang. Menurut Kades hal ini lantaran sebagian besar penduduk Desa Sungai Lisai memang berasal dari Madras Kabupaten Merangin Jambi. “Ya ada dua bahasa yang digunakan yaitu Bahasa Madras dan Bahasa Rejang. Sebagian penduduk disinikan berasal dari Madras. Nah selain memang orang Lebong yang ada tinggal di desa ini, faktor lain yaitu karena jarak ke Desa Seblat merupakan yang paling dekat. Jadi masyarakat yang dulunya tidak bisa berbahasa Rejang perlahan mulai bisa karena sering ke Seblat. Sementara untuk ke Madras bisa dua hari perjalanan kaki,” ucap Hajron.(**)