Manfaatkan Barang Bekas, Beromzet 30 Juta

Melihat Usaha Pembuatan Terompet Daur Ulang

Momen tahun baru yang sebentar lagi datang membawa berkah tersendiri bagi Agus Sanjaya (45), pembuat terompet  yang berada di Jalan Suprapto, Gang Jaldi I Rt 09 Kebun Geran Kota Bengkulu. Bagaimana keseharian  bapak yang sering di sapa Pak Ia dalam membuta terompet. Berikut laporannya.

Ari Apriko, Kota Bengkulu

Kejelian melihat pasar serta memanfaatkan barang-barang bekas menjadi modal Agus Sanjaya (45) untuk menekuni usaha pembuatan terompet yang sudah ia tekuni sejak tahun 1986 lalu itu. Namun, kata dia, baru tahun 1995, dia mulai menekuni usaha tersebut secara serius karena perayaan tahun baru saat itu sudah mulai meriah. Keahliannya dalam membuat terompet pelajari secara otodidak, dengan dibekali jiwa seni yang sudah mengalir turun menurun dalam darahnya. “Saya belajar sendiri membuat terompet ini dengan modal keahlian  seni yang saya miliki secara turun temurun,” ugkapnya.
Keahlian seni yang ia miliki antara lain mengukir dan membuat anyaman dari bambu. Dengan keahlian itu, dia tuangkan dalam  membuat terompet dengan berbagai model dan kreasi. Terompet yang dibuatnya beberapa jenis dengan kerumitan tersendiri. Diantaranya terompet berbentuk naga, keong, tabung kecil hingga tabung besar.
Untuk meminimalisir biaya pembuatan, Pak Ia menggunakan bahan-bahan bekas. Seperti kertas tebal bekas dan map plastik bekas yang ia beli dari pengumpul barang bekas.
Setelah dibentuk sesuai keinginannya, terompet-terompet terbut kemudian dibungkus dengan kertas kado yang dipesan langsung dari saudaranya yang ada di Bandung. Ia mulai mengerjakan pembuatan terompet ini dari bulan April lalu. Itu dilakukan guna menghindari permintaan yang tinggi saat mendekati tahun baru. Selain itu karena keterbatasan modal, sehingga dibuat sedikit-sedikit secara berkala.
Untuk harga, Ia menjual terompet itu kepada pengecer dengan sistem kodian. Satu kodinya dijual mulai dari harga Rp 30 ribu hingga Rp 300 ribu, tergantung jenis terompetnya. Terompet yang murah dan banyak dibeli adalah terompet jenis tabung kecil, sedangkan yang mahal adalah jenis naga. “Karena keunikannya, meskipun mahal, terompet jenis naga ini peminatnya cukup banyak,” katanya. Agus mengakui setelah selesai peringatan tahun baru, biasanya ia bisa mengumpulkan uang sebesar Rp 30 juta.(***)