Mahasiswa Tolak Relokasi

RUDI - Mahasiswa menggelar aksi teatrikal di Jalan Soeprapto. Mereka menolak relokasi Pasar Subuh hingga pedagang mendapatkan tempat yang benar-benar layak untuk berjualan (4)RATU SAMBAN, BE – Sekitar 30-an mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Perubahan (Garuda), menggelar aksi teatrikal di Simpang Lima Jalan Soeprapto, sore kemarin. Dalam aksi gabungan beberapa organisasi tersebut, mereka menolak rencana relokasi yang dilakukan oleh Pemda Kota Bengkulu terhadap Pasar Subuh yang terletak di Jalan KZ Abidin II.
“Setelah melakukan studi analasis, ternyata lokasi yang dipilih pemerintah sebagai tempat kepindahan Pasar Subuh, yakni Pasar Barukoto II, tidak layak dan tidak efektif sebagai tempat berjualan. Bangunanya tidak begitu bersahabat dengan bau yang tidak sedap menyerbak kemana-mana,” ungkap Koordinator Aksi ini, Atma Yuda.
Ditambahkannya, para mahasiswa juga menilai bahwa Pemda Kota belum benar-benar serius dalam melakukan langkah-langkah strategis untuk meramaikan Pasar Barukoto II. Padahal dalam penilaian mereka, lokasi Pasar Barukoto II berada jauh, baik dari tempat para penjual maupun dari para pembeli.
“Alhasil, hal ini sangat berdampak pada pendapatan pedagang. Ada pedagang Pasar Barukoto II yang sampai menangis kepada kami karena hanya mendapatkan keuntungan Rp 6 ribu setelah berjualan seharian. Setelah kami melakukan dialog, tanggapan pemerintah dalam hal ini pun kurang memuaskan,” tukasnya.
Para mahasiswa ini juga menilai, masih banyak solusi lain selain dilakukannya relokasi. “Misalnya dengan menggunakan lahan yang ada di sekitar pasar tersebut sebagai lokasi berjualan,” tandasnya.
Dalam pantauan Bengkulu Ekspress, para mahasiswa ini selain melakukan aksi hening, juga membawa sejumlah spanduk dan baliho yang berisi kecaman dan tuntutan terhadap Pemda Kota.  Diantaranya ada yang bertuliskan Tolak Relokasi ke Barukoro, Mana Janjimu Pak Membangun Tanpa Penggusuran, Relokasi ke Barukoto Apo Lokak Nden dan Tolak Relokasi Sebelum Ada Tempat yang Layak. Mereka juga membawa keranda mayat sebagai simbol matinya hak-hak rakyat yang dirampas penguasa.
Sementara itu, anggota DPRD Kota Sofyan Hardi menanggapi, Pemda Kota harus kembali meyakinkan para pedagang Pasar Subuh sebelum menempuh langkah relokasi. “Terutama para pedagang yang menolak. Walikota harus tetap pada komitmennya untuk terus memberikan pengertian kepada para pedagang akan tujuan baik dari relokasi,” ujarnya singkat. (009)