Mahasiswa Kuliah Online, Pendapatan Kedai Kopi di Unib Turun 80 Persen 

SATRIA WIBOWO/BE – Kedai Friend Zone Koffie, Jl.WR Supratman, Unib Belakang, Kandang Limun, Bengkulu tampak dari depan, sedang sepi pengunjung.

 

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Kebijakan new normal telah berjalan hampir 2 bulan terakhir belum berdampak positif bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di kawasan Universitas Bengkulu, khususnya di kawasan Jalan WR Supratman, Unib Belakang, Kota Bengkulu.

Salah satu UMKM yang terdampak adalah kedai  Friend Zone Koffie kawasan Unib Belakang.  Keuntungan UMKM itu hanya sekitar 20% dari penjualan. Pasalnya mahasiswa Universitas Bengkulu (UNIB) yang menjadi sasaran utama marketing penjualan, kini hanya sebagian kecil yang masih berkunjung, mereka rata-rata adalah mahasiswa semester akhir.

SATRIA WIBOWO/BE – Danil(28) pemilik kedai Friend Zone Coffie sedang membuat Cappucino Koffie, Rabu (2/8).

“Tak bisa dipungkiri, target pasar kitakan memang mahasiswa, jadi ketika mahasiswa kuliah online dari rumahnya masing-masing, kita kehilangan 80% target konsumen,” ungkap Danil Mirza (28), pemilik Kedai Friend Zone Koffie kepada BE, Rabu (02/09).

Danil sempat kembali ke kota asalnya Lubuk Linggau, Sumatera Selatan selama 3 bulan dan tak memiliki penghasilan sepeser pun selama disana. Hal itu membuatnya  mau tak mau harus kembali ke Bengkulu membuka kedai kopinya. Danil mengungkapkan pendapatan yang awalnya bisa mencapai Rp 5-6 juta perbulan, kini hanya Rp 1-2 juta /bulan sejak dia buka kembali bulan Juni lalu.

Danil mengaku belum mendapatkan ide marketing apapun untuk meningkatkan target penjualan. Hal ini diakibatkan karena pasar dari Friend Zone Coffie itu sendiri adalah anak muda seperti mahasiswa, sedangkan mahasiswa kebanyakan sedang berada di kampung halamannya masing-masing.

Danil hanya berharap aktivitas perkuliahan di Unib dapat berjalan normal kembali di awal tahun 2021. Jika itu terjadi, ia yakin semua kerugian yang ada bisa segera tertutupi. “Saya prediksi, jika telah normal, dalam waktu 3-4 bulan saja bisa menutup kembali semua kerugian yang telah dialami Friend Zone Koffie,” harap Danil.

Sebaliknya, jika kondisi tidak juga berubah, maka terpaksa Danil harus membuka kedai kopinya di lain tempat wilayah Bengkulu atau bahkan kemungkinan terburuknya adalah kembali lagi ke Lubuk Linggau dan membuka kedai di sana.

“Sempat terpikir untuk kembali lagi ke Lubuk Linggau, tapi jangan sampai, saya merasa gagal saja jika itu sampai terjadi,” demikian Danil.(Mg5).

 

 

 

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*