Lokalisir Virus Flu Burung

BENGKULU, BE – Kasus ayam mati mendadak di Kota Bengkulu semakin menjadi. Setelah di RT 10 RW 03 Kelurahan Kebun Beler dan di RT 31 Perumahan Bangkahulu Permai, Pematang Gubernur kini giliran ayam milik Sarijudi (52) warga RT 3 RW 01 Kelurahan Sawah Lebar ditemukan mati mendadak dengan sekujur tubuh membiru. Kondisi ini membuat Distanak Kota Bengkulu mencoba melokalisir area jangkitan flu burung dengan mengambil sampel kelurahan lain yang belum terjadi kasus ayam mati mendadak. Tim gerak cepat Distanak Kota Bengkulu dan anggota BPPV Regional III Lampung, kemarin juga langsung turun ke rumah Sarijudi untuk menguji apakah ayam tersebut mati karena terjangkt flu burung atau tidak. Namun sayangnya, tim tidak mendapatkan bangkai ayam yang mati mendadak tersebut, karena terkebih dahulu dibakar oleh pemiliknya. Sirajudin mengatakan ayam miliknya mati secara mendadak terjadi Selasa (20/3) sekitar pukul 07.00 WIB, namun pihaknya memikir hanya sakit biasa dan ayam tersebut langsung dibuangnya. Namun sekitar pukul 24.00 malam tadi (kemarin), ayamnya mati lagi. Khawatir ayam tersebut terserang flu burung, maka ia berinisiatif untuk membakar bangkai tersebut. Dan ia pun melapor ke Distanak pagi tadi (kemarin). “Setelah mati 1 ekor lagi barulah kami terpikir mungkin terkena flu burung, dan kami pun langsung melapor ke petugas,” katanya. Ia menjelaskan, saat ini ayam miliknya hanya tinggal 5 ekor lagi, namun milik tetangganya masih banyak. Karena mayoritas warga di sekitar RW 01 tersebut memiliki banyak ternak ayam. Sementara bangkai ayam sudah tidak ditemukan lagi, para petugas pun mengambil kotoran, dan darah ayam yang hidup untuk dilakukan penelitian. Jika terbukti positif, maka yang ada di sekitar kawasan tersebut akan dimusnahkan. “Ya karena bangkai ayamnya sudah tidak ada, maka terpaksa kami mengambil sampel ayam yang masih hidup,” kata anggota BPPV Regional III Lampung, drh Joko Susilo didampingi ketua tim gerak cepat, drh Heni. Joko meminta, jika ada ayam yang mati mendadak jangan terlebih dahulu dibuang atau dibakar sebelum diperiksa oleh petugas, karena memeriksa ayam yang sudah mati labih cepat diketahui hasilnya ketimbangan memeriksa ayam yang masih hidup. “Kalau ayam mati lagi jangan dibuang atau di bakar, cukup ditutupi agar tidak dimakan anjing dan segera melapor dengan kami,” katanya. Sebelumnya sekitar pukul 10.00 WIB tim gerak cepat dan BPPV Regional III Lampung juga mengambil sampel ayam di Kelurahan Kampung Melayu. Hal tersebut sengaja dilakukan, karena khawatir dengan penyebaran virus yang mematikan itu di Kota Bengkulu. “Memang dari Kelurahan Kampung Melayu tidak ada ayam yang mati, tetapi kami tetap mengambil sampelnya karena kami ingin mendeteksi gejala flu burung sedini mungkin,” katanya.

Belum Ada Yang Mati
Sementara itu, wilayah yang sudah dinyatakan positif flu burung, yakni RT 10 Kelurahan Kebun Beler dan RT 31 Perumahan Bangkahulu Permai belum ada ayam yang mati mendadak setelah dimusnahkan. “Sudah aman, sejak dimusnahkan hingga sekarang ayam warga sekitar belum ada yang mendadak,” Irwanto warga RT 10 Kelurahan Kebun Beler. Ia mengatakan, tidak ada lagi ayam yang mati mungkin dikarena 1 kandang ayam yang positif telah dimusnahkan. Selain itu, di wilayah tersebut juga telah di semprot oleh petuas. Hal senada juga disampaikan, ketua RT 31 Perumahan Bangkahulu Permai, Andi Wijaya. Ia mengatakan, setelah ayam dilingkungannya dimusnahkan belum ada laporan ayam mati mendadak lainnya. “Kalau sekarang belum ada laporan dari warga, nanti kalau ada kami segera memanggil petugas Distanak,” katanya. Ia juga telah menghimbau kepada seluruh warganya, agar langsung melapor dengan dirinya jika ada ayam yang mati mendadak. “Saya berharap jangan ada lagi ayam yang terkena flu burung, karena jika sudah sering terjangkit pada ayam maka tidak menutup kemungkinan juga menyerang manusia,” tandasnya.

Dimusnakan
Pasca kasus 3 ekor ayam milik Pudin Kusnadi (40) warga Desa Sidosari Kecamatan Sukaraja, Seluma mati mendadak yang kemudian disinyalir sebagai kasus Flu Burung, hingga kemarin puluhan ekor ayam milik warga dimusnahkan. Sekitar 70-an ekor ayam jenis ayam kampung berbagai usia dengan kondisi sebagain mati, sebagian nampak sakit, dna sebagian nampak sehat dimusnahkan untuk memutus rantai virus H5N1 itu.
Akibat pemusnahan tersebut, sejumlah peternak ayam merugi jutaan rupiah. Kepala Dinas Pertanian Peternakan Dan Perkebunan (Distannakbun) Seluma, Ir H Wahidin Dahlan melalui petugas Tanggap Cepat Flu Burung Seluma, Syahrial mengatakan pemusnahan dilakukan semata-mata untuk mengikuti prosedur dan untuk mengantisipasi meluasnya wabah serta mengantisipasi penularan kepada manusia. ”Sekitar 70 ekor ayam di TKP sudah kita musnahkan,” katanya. Lebih lanjut, diungkap Syahrial terkait hasil uji lab sampel bangkai ayam yang sudah dikirim ke laboratorium Balai Penyidik Penyakit Hewan Badar Lampung 2 hari lalu, hingga kemarin belum didapat hasilnya. Pihak laboratorium dikethaui hingga kemarin masih memproses uji bangkai tersebut. Sehingga hingga kemarin, pihaknya belum dapat menyatakan secara resmi wabah flu burung itu positif ataui negatif. ”Simpulan sementara, sama seperti sebelumnya. Dari hasil alat uji petugas di lapangan, hasilnya positif flu burung. Cuma masalahnya alat uji yang digukana ketika di lapangan baru 1 unit, sedangkan SOP-nya mesti 3 alat uji yang digunakan,” katanya. (444/400)