Listrik Sering Padam, Warga Kaur Datangi PLN

DATANGI: Perwakilan masyarakat Kecamatan Maje dan awak media saat mendatangi kantor PLN Bintuhan dan berdiskusi langsung dengan manager ULP PLN Bintuhan, Kamis (17/6).

BINTUHAN, bengkuluekspress.com – Sejumlah warga dari Kecamatan Maje dan beberapa awak media Kabupaten Kaur mendatangi kantor Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Bintuhan, Kamis (17/6). Kedatangan warga sekaligus melayangkan keluhan lantaran listrik di Kaur ini kerap mendadak mati listrik.

Salah satu perwakilan masyarakat yang hadir dalam pertemuan itu Sirajudin Abbas (42) warga dari Kecamatan Maje mengaku dalam beberapa minggu terakhir ini masyarakat sangat mengeluh dengan listrik. Hal ini lantaran terjadinya pemadaman yang tidka terduga hingga berkali kali di Kabupaten Kaur dalam seharinya.

“Saya mewakili masyarakat sangat resah dengan kondisi ini, harapan kita PLN terus berbenah, sebab banyaknya pemadaman tak terduga jua membuat perabot rumah tangga rusak,” ujarnya.

Dikatakannya, jika menunggu jaringan Gardu Induk (GI) yang saat ini belum terpasang tiang intalasi Saluran Udara tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) merupakan rencana jangka panjang yang belum tentu teralisasi tahun 2021 ini, sementara saat ini warga membutuhkan penerangan, menunggu GI mungkin membutuhkan waktu satu dua tahun kedepan. Sehingga gerbarakan PLN yang saat ini dibutuhkan.

“Kejadian pemadaman listrik mati menjelang Magrib ini terjadi sejak banyaknya tambak di Kabupaten Kaur dalam satu tahun terakhir,” ujarnya.

Sementara itu, menyikapi keluhkan warga ini Manager PLN ULP Bintuhan Novian Perindo menyampaikan, pemadaman listrik di Kabupaten Kaur dalam beberapa pekan terakhir ini lantaran ada tiga penyebab, yakni pemakaian yang berlebih atau over kapasitas, tanam tumbuh serta debit air yang menjadi penggerak Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) padang Guci.

“Untuk tanam tumbuh kami sudah koordinasikan dengan Bupati Kaur, pemkab kaur siap membantu, saat ini kami sedang mendata tanam tumbuh yang akan di tebang disekitaran jaringan listrik harapan kita ini nantinya penebangan tanam tumbuh ini dapat mencegah terjadinya gangguan,” ujarnya.

Sementara mengenai debit air, menurutnya hal ini bukan kewenangan pihaknya, namun tergantung dengan faktor alam, saat kemarau terjadi maka debit air akan mengalami pengurangan tekanan. Sehingga menjadikan daya yang tak maksimal dari turbin PLTM sendiri. Akibatnya saat PLTM hilang tegangan secara otomatis tenaga yang disuplay juga hilang membuat listrik dalam hitungan detik loss dan mengalami padam total.

“Ini sulit kita atasi karena kalau hal ini terjadi kita harus manual mengurangi tegangan yakni menggunakan tenaga manusia agar tidak terjadi pemadaman total namun terkadang kita kalah cepat,” imbuhnya.

Ditambahkannya, terakhir yakni saat listrik gangguan dalam beban puncak yakni menjelang magrib, tengah malam dan waktu waktu tertentu. Hal ini dipicu dari sejumlah budidaya tambak udang yang menyalakan mesin penyedot air, kincir hingga lampu sorot secara serentak membuat tunggangan down beriringan dengan warga menyalakan lampu karena menjelang malam.

“Ini kami sudah akali dengan cara mematikan jalur tambak menjelang Magrib, kemudian menyalakan kembali pada saat pemakaian sudah normal pola ini baru kami terapkan beberapa minggu terakhir ini,” tandasnya. (618)







    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*