Limbah Batu Bara Ancam Persawahan

CEMARI SAWAH : Kades Rindu Hati, Sultan Muklis SH menunjukkan area persawahan yang sudah mulai dialiri lumpur dan limbah batubara, Senin (12/3).
CEMARI SAWAH : Kades Rindu Hati, Sultan Muklis SH menunjukkan area persawahan yang sudah mulai dialiri lumpur dan limbah batubara, Senin (12/3).

TABA PENANJUNG, Bengkulu Ekspress – Keberadaan tambang batu bara di wilayah hutan produksi terbatas (HPT) Kecamatan Taba Penanjung mendapat kritik pedas dari masyarakat yang berprofesi sebagai petani.

Betapa tidak, hasil pencucian material (limbah,red) perusahaan batu bara tersebut diduga mengalir ke area persawahan petani.Kepala Desa (Kades) Rindu Hati, Sultan Mukhlis SH mengatakan, dari hasil penelusuran yang telah dilakukan, terungkap fakta bahwa salah satu perusahaan yang masih beraktivitas adalah PT Sinar Septiana Sentosa (SSS).

“Belum lama ini, saya mendapat laporan dari warga yang menyebutkan bahwa limbah batu bara sudah masuk ke area persawahan. Secara kasat mata, limbah tersebut tampak seperti lumpur,” ungkap Kades.

Menyikapi temuan ini, Kades khawatir limbah akan semakin meluas dan merusak seluruh area persawahan yang ada, dan limbah batu bara akan membuat tanaman menjadi kerdil dan berimbas pada kegagalan rencana Pemerintah Daerah (Pemda) melalui Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Benteng meningkatkan hasil produksi padi.

“Dari puluhan hektare sawah yang ada di Rindu Hati, sekitar 5 hektare telah dicemari lumpur batu bara. Jika dibiarkan, aktivitas penambahan akan menjadi bom waktu dan merusak seluruh lahan persawahan,” imbuhnya.

Sultan mengharapkan agar Pemda Kabupaten Benteng bisa mengambil sikap untuk menjaga kelestarian lingkungan di wilayah Kabupaten Benteng.

“Secara umum, kami tidak melarang adanya aktivitas pertambangan. Akan tetapi, saya harap pihak perusahaan tidak melakukan kegiatan yang bertentangan dengan visi dan misi Desa Rindu Hati dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan indah.

Kami meminta agar pemerintah terjun langsung dan melakukan pemeriksaan terhadap pengelolaan limbah batu bara. Jika memang tak sesuai prosedur, kami minta agar perusahaan diberikan sanksi berupa teguran ataupun pencopotan izin operasi,” pungkas Kades.(135)