Lima Korban Masih Hilang

RIO/Bengkulu EkspressBANTUAN: Menteri Sosial RI Agung Gumiwang Kartasasmita menyerahkan bantuan untuk para korban banjir dan longsor di Bengkulu, sebesar Rp 1 miliar secara simbolis kepada Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah yang didampingi wakil Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi dalam kunjungannya kelokasi banjir di di Kelurahan Tanjung Jaya Kota Bengkulu, Selasa (30/4).

Gubernur akan Evaluasi  Penyebab Bencana Alam

BENGKULU, Bengkulu Ekspress-Pencarian korban akibat bencana alam di Kabupaten Benteng semakin digencarkan. Baik itu korban dari tanah longsor di kaki Gunung Bungkuk Desa Rajak Besi, Kecamatan Pagar Jati ataupun korban terseret arus sungai rikis di Desa Kertapati, Kecamatan Merigi Sakti, Jumat (27/4) lalu.

Semua personel dari berbagai instansi terjun ke lokasi bencana untuk melakukan pencarian secara optimal. Dimulai dari daerah aliran sungai, tumpukan sampah hingga aliran sungai yang dilakukan dengan menggunakan perahu karet.

“Pencarian secara manual oleh warga masih berlanjut. Selain itu, tim dari Basarnas, Tagana, BPBD Provinsi, BPBD Kabupaten Benteng juga melakukan pencarian. Tak hanya itu, personel TNI dan Polri serta para relawan juga telah bekerja secara optimal. “Kami berikan ucapan terima kasih yang tak terhingga,” kata Penjabat (Pj) Sekda Benteng, Edi Hermansyah SSi MSc PhD, ditemui di posko bencana Desa Nakau, Kecamatan Talang Empat, kemarin (1/5).

Dari data yang berhasil dihimpun sementara, kata Edi, tercatat sebanyak 24 orang warga Kabupaten Benteng ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Selain itu, masih ada sebanyak 5 orang lagi yang dinyatakan hilang. “Dari pantauan, pencarian di fokuskan di kawasan sungai sekitaran jembatan Talang Boseng, Kecamatan Pondok Kelapa. Diketahui, aliran sungai rikis bermuara ke jembatan Talang Boseng. Terlebih lagi, banyak korban ditemukan dilokasi tersebut,” kata Edi.

Sementara itu, Gubernur Bengkulu, Dr Rohidin Mersyah berkomitmen menyelesaikan akar permasalahan bancana alam terjadi di Provinsi Bengkulu. Setidaknya ada empat penyebab utama terjadinya banjir dan longsor di Bengkulu bisa dilakukan kajian mendalam. Pertama, persoalan di Daerah Hulu Sungai (DUS). Kedua, Daerah Aliran Sungai (DAS). Ketiga, Daerah Hilir Sungai (DIS). Keempat, Daerah Resapan Air (DRA).

“Ada persoalan dengan Daerah Hulu Sungai, di sana ada pertambangan. Ada penggundulan. Ada HGU. Kerusakan hutan. Ini yang jadi masalah,” terang Rohidin kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (1/5).

Dikatakannya, selain persoalan di DUS-nya, juga terjadi di sisi DAS-nya. Kondisi saat ini, Daerah Aliran Sungai-nya sudah pengalami penyempitan hampir semua badan sungai. Terutama di kawasan Kota Bengkulu yang menjadi perlintasan sungai Bengkulu.  “Hilirnya juga sudah terjadi pendangkalan. Sedimentasinya sangat tinggi sekali. Di samping penumpukan sampah dan sebagainya,” paparnya.

Sedangkan DRA atas resapan airnya, menurut Rohidin, perkembangan lima tahun terakhir pusat-pusat pertumbuhan perumahan, terutama perumahan sederhana banyak sekali di Kota Bengkulu. Dengan banyak tumbuhnya perumahaan tersebut, membuat daerah serapan air tersebut juga berkurang. “Maka saya kira Badan Pertanahan Nasional (BPN) bisa jadi salah satu lembaga yang bisa mengawal permasalahan tersebut,” tegas Rohidin.

Tidak hanya itu, untuk permasalahan di hulu, yang banyak terjadi pengundulan hutan dan aktivitas pertambangan dan perkebunan, Rohidin juga berkomitmen akan melakukan evaluasi kepada semua permasalahan tersebut. “Soal pertambangan, nanti akan kita evaluasi. Mengapa persoalan ini kembali terjadi,” tambahnya.

Persoalan banjir dan tanah longsor itu, menurut Rohidin terjadi kaloborasi antara beberapa kompenen dugaan penyebab permasalahan tersebut. Untuk itu, setelah pasca penyelesaian bantuan atau pemulihaan bencana alam tersebut. Dirinya bersama, tim akan melakukan kajian secara mendalam dalam menyelesaikan persoalan tersebut.  “Kita akan kaji, apa yang sebenarnya terjadi,” tuturnya.

Untuk saat ini, pemerintah bersama pihak terkait sedang fokus mengembalikan kondisi pasca bencana alam terjadi. Masyarakat yang menjadi korban bencana, harus mendapat kepastian pertolongan. Jangan ada lagi masyarakat yang tidak mendapatkan pertolongan. “Kita bantu korban bencana. Setelah pemulihaan, kita selesaikan akar permasalahaanya,” pungkas Rohidin.

Mensos Antar Bantuan Untuk Bengkulu

Sementara itu, bantuan untuk korban bencana dari pemerintah pusat, pemerintah daerah hingga swasta pun terus berdatangan. Bencana langsor dan banjir telah menyebabkan 12 ribu masyarakat yang mengungsi, 13 ribu menjadi korban, serta 29 warga meninggal dunia. Hingga saat ini 13 orang lainnya dinyatakan hilang. Dua orang luka ringan dan dua orang luka berat. Tercatat, untuk kerugian materi diperkirakan sampai Rp 138 miliar. Pemerintah saat ini telah dihadapkan masalah besar, dalam mengatasi permasalahan bancana alam khususnya banjir yang sudah terjadi dua kali dalam tahun terakhir ini.

Pemprov Bengkulu yang sendiri sudah menyiapkan Rp 5 miliar untuk bantuan tanggap bencana, itu kembali ditambah bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyalurkan anggaran bencana alam sebesar Rp 2,25 miliar. Begitupun dari Kementrian Sosial (Kemsos) dibantu Rp 1,04 miliar dan Rp 400 juta untuk pembelian alat kebersihaan untuk rumah warga. “Untuk alat kebersihaan dalam waktu dekat akan kita kirimkan,” terang Mensos RI, Dr Agus Gumiwang Kartasasmita MSi saat mengujungi korban bencana banjir di Tanjung Agung Kota Bengkulu, Selasa (30/4) lalu.



Dikatakannya, permasalahan bancana alam ini tidak akan terjadi, jika lingkungan itu bisa dijaga. Apalagi untuk hulu sungai sendiri, terdapat banyak pertambangan dan perkebunan. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian, agar bencana alam tidak lagi terjadi di Bengkulu. “Serapan air itu harus ada. Jangan sampai bencana itu terus datang,” tambahnya.

Untuk itu, Agus meminta saat kunjungan ke Bengkulu nantinya jangan sampai datang karena ada bencana. Karena persoalan sosial masyarakat itu tidak hanya bencana. Tapi juga akan kesejahteraan masyarakat yang harus banyak diselesaikan.  “Jangan datangnya saya ke Bengkulu karena bencana. Karena banyak PR kecuali bencana,” tutur Agus.

Sementara itu, Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) III Padang, Bengkulu Ir Aidil Fikri MT, mengatakan, untuk infrastruktur yang rusak akibat diterjang banjir, seperti jalan dan jembatan, Kementeria PUPR berkomitmen untuk melakukan perbaikan. Seperti putusnya jalan yang ada di PT PN7 Kecamatan Pinang Raya Kabupaten Bengkulu Utara juga sudah bisa diselesaikan dengan cepat. “Untuk infrastruktur yang rusak, kita langsung perbaiki. Agar masyarakat bisa menggunakan akses jalan,” terang Aidil.

Termasuk adanya jembatan yang putus juga langsung dilakukan perbaikan. Begitupun tanah longsor yang terjadi di wilayah Taba Penanjung yang mengacam jalan lintas Bengkulu-Kepahiang itu juga akan dilakukan perbaikan. Tentunya dengan membangun pelapis teping. “Yang longsor juga kita perbaiki semua,” tuturnya.

Selain itu, Kepala BPBD Provinsi Bengkulu, Rusdi Bakar mengatakan, saat ini memang bantuan sudah banyak yang diserahkan ke BPBD Provinsi Bengkulu. Bantuan yang datang dari semua pihak, itu berupa sembako, pakain, dan berbagai jenis bantuan.  “Semua bantuan yang diberikan, kita terima, untuk kita salurkan,” terang Rusdi.

Dari bantuan yang telah diberikan ke BPBD tersebut, bantuan yang ada terus didistribusikan kepada warga yang terkena bencana alam. Semua upaya dan kerjasama semua pihak dilakukan, agar bantuan tersebut benar-benar bisa didapatkan oleh masyarakat. “Kita terus berupaya menjangkau semua wilayah yang terkena bancana. Tentunya dengan berkoordinasi dengan semua BPBD kabupaten/kota,” pungkasnya.  (135/151)