Lestarikan Budaya, Disdikbud Bengkulu Sasar Milenial

BENGKULU, BE – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Bengkulu, melirik generasi muda atau kerap disebut generasi milenial, untuk melestarikan kesenian dan pengembangan budaya Bengkulu. Program ini dimaksudkan semakin mengenalkan budaya Bengkulu ke masyarakat luas, terutama kaum milenial agar budaya Bengkulu selalu lestari.

Pelaksana tugas Kepala Disdikbud Provinsi Bengkulu Drs Eri Yulian Hidayat MPd melalui Kepala Bidang Kebudayaan R Wahyu DP menuturkan, pasca pengkajian pelestarian dan pengembangan Barong Landong melalui Forum Group Discusion (FGD) yang digagas tim pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia.
Untuk selanjutnya, Disdikbud memiliki tugas yang sama beratnya dalam pengembangan kesenian tradisional barong Landong untuk lebih dikenal dimasyarakat luas.

“Kesenian tradisonal Barong Landong telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh kementerian, maka kedepannya kesenian budaya ini wajib dikembangkan dan dilestarikan,” katanya.

Disdikbud mencari cara bagaimana kesenian tradisional Barong Landong dapat dikenal masif pada masyarakat luas. Dengan menggandeng para generasi milenial diyakini mampu mensosialisasikan budaya ini pada sesama milineal hingga lebih muda dikenalkan.

Wahyu mengaku, pernah mengenalkan kesenian ini pada para pelajar, tepatnya pengurus OSIS se-Kota Bengkulu bersama dengan Polres Bengkulu. Dari puluhan siswa yang diundang, hanya dua pelajar yang mengenal kesenian tersebut.

“Promosi nanti bisa menyasar generasi muda mulai tingkat SD hingga perguruan tinggi,” katanya.

Wahyu berharap sosialisasi kesenian tradisi Barong Landong ini dapat dikenalkan secara mendalam sehingga memberikan penguatan dan pemahaman akar kesenian yang telah mengakar puluhan tahun lalu sehingga bisa mempertahankan warisan budaya tak benda ini.

“Promosi ini kita kenalkan ke siswa/siswi di sekolah, bisa juga dengan membuat event perlombaan. Kita juga menggandeng Balai Musyawarah Adat. Mudah-mudahan 2021 dimasukkan dalam program,” imbuhnya.
Tidak berhenti di sana, Disdik juga berupaya memasukkan materi budaya ini dapat dimasukkan pada mata pelajaran muatan lokal. (247)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*