Lebong Mencekam, Massa Menjarah

1 lebong ARIMBO PENGADANG, BE – Aksi massa di Rimbo Pengadang, Lebong ternyata tak berhenti. Pasca penembakan ponakan anggota DPRD Lebong Syamsul Yusuf, Doni (25) warga setempat hingga tewas mengenaskan oleh oknum diduga anggota Sat Brimob dua hari lalu (27/12), kemarin aksi massa serupa kembali terjadi.
Usai pemakaman jenazah Doni, tanpa dikomando sekitar 500 orang menjarah dan merusak kebun jeruk milik pengusaha, Selvi. Namun, massa bukan datang dari keluarga korban dan warga Kelurahan Rimbo Pengadang. Pantauan wartawan Bengkulu Ekspress (BE), massa bergerak menggunakan sepeda motor dan mobil mulai pukul 10.00 WIB. Pertama kali massa menuju lokasi kebun seluas 5 hektar di Air Ketelang yang merupakan lokasi penembakan. Sekejap, massa mengambil buah jeruk siap panen itu, lalu membabat pohon-pohon jeruk dengan parang yang sudah disiapkan masing-masing.
Ironisnya, dalam suasana mencekam itu, di antara massa diketahui terdapat mantan Wakil Ketua II DPRD Lebong periode 2004-2009, Ir Amrozi Ishak. Selesai di satu lokasi, massa bergerak ke lokasi kebun 2 hektar di depan kantor Camat Topos yang berjarak sekitar 5 km. Hal serupa dilakukan massa tanpa bisa dilahau aparat keamanan. Tak berhenti sampai di situ, massa pun bergerak lagi ke lokasi kebun 2 hektar di Jalan Topos yang tak jauh dari lokasi depan kantor camat. Ribuan pohon jeruk di masing-masing lokasi pun habis digasak massa dengan beringas.
Sementara itu, puluhan orang anggota keluarga korban Doni, bergerak ke kebun milik pengusaha seluas 25 hektar yang lokasinya di Tebelang. Di situ, keluarga korban tak merusak kebun, melainkan mengamuk mencoba menghalau penjarahan, hingga aksi massa di lokasi itu dapat dicegah. “Bubar semuanya! Cukup anak kami yang mati. Kalian semaunya mengambil kesempatan dalam kesempitan kami. Pergilah kalian semua,” teriak paman korban bernama Wahab sambil mengacungkan golok membubarkan massa penjarah. Lantas, massa pun bergeming.
Di lokasi kebun, Lurah Rimbo Pengadang Edi Hariono ST memastikan, para penjarah kebun jeruk gerga tersebut bukan warga dari Kelurahan Rimbo Pengadang. Melainkan warga yang datang dari luar Kecamatan Rimbo Pengadang. “Ini bukan lagi warga kita. Banyak warga lain dari luar yang memanfaatkan situasi ini,” katanya.
Sementara itu, keikutsertaan mantan pimpinan dewan Amrozi dalam penjarahan dibenarkan salah seorang warga, Herman. Katanya, ia melihat bekas wakil rakyat asal Golkar itu datang bersama warga dengan menggunakan mobil jenis Honda Jazz mengangkut hasil jarahan 3 karung jeruk. Namun, yang berhasil dibawah hanya 2 karung, karena sekarung lainnya terjatuh di tengah jalan. “Tadi ada mantan dewan ikut menjarah sampai tiga karung, pakai mobil Jazz,” katanya. Terkait hal tersebut, hingga berita ini diturunkan, Amrozi belum dapat dikonfirmasi, sehingga klarifikasinya belum diperoleh.

Kapolda Datang
Sementara itu, Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Tatang Somantri Sabtu (28/12) kemarin mengunjungi keluarga korban penembakan di Rimbo Pengadang. Ia memberikan santunan atas kejadian tersebut. Dalam kunjungannya ke rumah duka, Kapolda berjanji akan mengusut tuntas kasus penembakan tersebut. Bahkan, katanya, oknum anggota Brimob Komp Curup Briptu AF suah ia amankan di Mapolda Bengkulu untuk menjalankan pemeriksaan.
“Di depan keluarga korban ini, saya berjanji akan mengusut tuntas permasalahan ini. Agar kasus ini menjadi terang, maka saya minta agar pihak keluarga dapat bekerjasama dengan pihak kepolisian. Berikan keterangan yang sebenar-benarnya, jangan ada yang ditutupi. Kalau nanti anggota saya bersalah, maka akan dihukum sesui dengan hukum yang berlaku. Kasus ini sendiri sudah saya laporkan kepada Kapolri. Jadi silahkan dikawal,” kata Kapolda di hadapan orang tua Doni dan keluarga besarnya di rumah duka.
Kapolda juga mengungkapkan untuk kepentingan penyidikan maka diperlukan adanya alat bukti, terkait penembakan ini tidak tertutup keumngkinan pihak kepolisain akan melakukan penggalian makam Doni dan melakukan Outopsi dan mengambil proyektil peluru yang masih bersarang di kepala Doni. “Seribu keterangan yang kita peroleh masih belum cukup untuk mengungkap kasus ini, karena dalam hukum 1 bukti tidak cukup. Untuk kepentingan penyidikan, maka diperlukan proyektil peluru yang masih ada di kepala korban. Nantinya proyektil ini akan kita uji balistik. Jadi ada kemungkinan di perlukan penggalian kembali kuburan korban, saya harap pihak keluarga bisa memakluminya,” jelas Kapolda.
Dalam kesempatan tersebut pula, Kapolda menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban atas kejadian tersebut. Ia mengatakan tidak mengehendaki adannya kejadian tersebut. “Saya bertanggungjawab dan atas nama Polda Bengkulu memohon maaf sebesar-besaranya kepada keluarga. Saya akan memproses kejadian ini dan untuk mencari tau permasalahan yang sebenarnya saya membawa Dir Reskrimum dan Kabid Propam untuk menyelesaikan masalah ini,” ucapnya.
“Kita akan memeriksa terkait penugasan Briptu AF di kebun jeruk gerga tersebut. Apakah menyalahin aturan atau memang sudah sesuai dengan aturan. Kita lihat saja nanti bagaimana pemeriksaan selanjutnya,” tambah Kadiv Propam Polda Bengkulu AKBP Hendrik Marpaung SIK yang juga mantan Kapolres Lebong itu.

Saksi Diperiksa
Terpisah, Kapolres Lebong AKBP Roh Hadi SIK saat dikonfirmasi BE menjelaskan, saat ini pihaknya baru mendapati tiga orang yang bakal diperiksa menjadi saksi atas kejadian penembakan tersebut. Namun, saat ditanyai siapa saja saksi yang bakal diperiksa, Kapolres masih enggan menyebutkannya. “Saat ini baru tiga saksi yang bakal kita periksa sebagai saksi. Mudah-mudahan pemeriksaan saksi nanti bisa menjadi petunjuk kita dalam mengungkap tuntas kejadian ini,” ucapnya.
Dikatakan Kapolres, aksi amuk massa seperti sesaat pasca kejaidan Jumat (27/12) lalu yang membakar mobil dan rumah milik pengusaha, Selvi sudah dapat dikendalikan. Hanya ia membenarkan, amuk massa yang terjadi kemarin diduga dari warga luar Rimbo Pengadang.

Rekontruksi
Di bagian lain, dalam hal proses penyidikan, Tim Inavis Polda Bengkulu pun langsung melakukan olah TKP dan rekonstruksi di lokasi kejadian. Yakni, di kebun jeruk gerga Air Ketelang. Dalam proses rekonstruksi, diperkirakan korban ditembak dari jarak 28 meter. Diperkirakan pula, korban langsung jatuh dengan posisi tertelungkup, kemudian baru membalikkan badan. Diduga saat itu korban belum tewas dan sempat ingin dilarikan ke RSUD Curup, namun dalam perjalanan korban menghembuskan nafas terakhir, hingga langsung dibawa ke rumah duka.
PAntauan BE, usai rekonstruksi, polisi mengamankan 4 buah karung berisi buah jeruk yang diduga hasil curian korban dan 5 pasang sandal. Namun, pihak polisi belum dapat memastikan siapa pemilik sandal tersebut. “Apakah milik penjaga kebun, milik 2 orang anggota Polsek Rimbo Pengadang yang datang ke lokasi atau ada teman korban yang ikut pada saat kejadian. Saat ini masih dalam proses penyelidikan, kita lihat saja nati bagaimana perkembangannya,” jelas Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Tatang S.
Amri (45), ayah korban menuturkan, dirinya dan keluarga telah menyerahkan seluruh persoalan tersebut ke pihak Polda Bengkulu dan Polres Lebong untuk diproses sesuai hukum. “Kami minta pelaku penembakan ini dihukum seberat-beratnya. Kalau perlu dipecat saja dari polisi, karena polisi yang kami kenal tidak berperilaku anarkis seperti ini. Kami harap kasus yang menimpa anak saya ini bisa dituntaskan,” harapnya.

Sikapi Penjarahan
Menyikapi aksi penjarahan, Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Tatang Somantri menanggapi persoalan penjarahan di kebun jeruk gerga tersebut meminta agar warga di Kecamatan Rimbo pengadang dibantu personil polisi untuk melakukan pengamanan agar tidak terjadi perambahan yang lebih besar lagi. “Saya harap pihak warga bersama polisi nantinya bisa menjaga lokasi ini. Karena jika tidak penjarahan akan lebih besar lagi. Saya harap kondisi disini bisa selalu kondusif, dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ucapnya.

Bupati
Bupati Lebong H Rosjonsyah SIP MSi dalam kesempatan mendampingi Kapolda mengatakan, dirinya berkomeitmen melakukan upaya persuatif untuk menjaga lokasi kebun jeruk dan masyarakat hingga situasi menjadi benar-benar kondusif. “Kita tidak menginginkan ada korban lagi, untuk itu. Silahkan camat dan lurah mengajak warga melakukan pengamanan. Sebab, kalau saya lihat penjarahan ini sudah bukan lagi warga Rimbo pengadang, melainkan sudah banyak masuk warga luar,” singkat bupati. (777)