Lebih Hemat, Praktis dan Ekonomis

Penambal Ban Gunakan Elpiji

IMG00276-20130601-1452Khusus di Pulau Jawa, seperti

Semarang dan lainnya,

tukang tambal ban sudah

memanfaatkan gas elpiji ukuran 3 kg

sebagai alat untuk memperlancar pekerjaan mereka.

Namun untuk Kabupaten Lebong,

cara ini merupakan hal yang baru.

Bagaimana prosesnya?

===============================================================

DWI NOPIYANTO,

Lebong

===============================================================

Gas elpiji ukuran 3 kg yang disubsidi pemerintah, tampaknya saat ini sudah merambah hingga ke tukang tambal ban di Kabupaten Lebong. Pasalnya tukang tambal ban itu menggunakan gas elpiji 3 kg sebagai bahan bakar untuk membakar tambalan ban dalam kendaraan roda dua maupun roda empat. Seperti yang dilakoni Ujang (35), salah satu penambal ban di Kelurahan Kampung Jawa, yang sejak enam bulan terakhir ini menggunakan gas elpiji 3 kg sebagai pengganti minyak tanah.
Bahkan, tidak hanya dirinya saja yang menggunakan gas elpiji tersebut, rata-rata penambal ban di Lebong telah menggunakan gas elpiji tersebut sejak minyak tanah hilang di pasaran. Gas elpiji ini mulai dipergunakan di tempat usaha penambalan mereka sebagai peralatan pres ban dalam dan ban luar, baik untuk roda dua atau empat. Sebelumnya, alat pres itu harus menggunakan minyak tanah untuk mencari sumber api. “Setelah kami memakai gas ini pekerjaan lebih lancar, praktis dan ekonomis. Tidak harus beli minyak tanah yang kadang sulit didapat di sini,” kata Ujang.
Dalam penggunaan elpiji itu, dia cuma mengubah tampilan alat pres, yakni dengan menambah lempengan besi sebagai media pengantar panas. Lempengan besi itu dipanaskan dengan kompor gas ukuran kecil. “Caranya ban dalam tinggal dipres di lempengan besi, lalu tinggal menghidupkan kompor gas. Lama pres juga tidak selama saat menggunakan minyak tanah, cukup 15 menit ban dalam yang dipres langsung selesai,” kata Ujang.(**)