Lawan Dengan Cinta

HM. Syamlan

Kadang persaingan dalam kehidupan ini sangat kejam. Yang kemarin sahabat dan kawan, bisa berubah menjadi musuh dan lawan. Saat saling membutuhkan benar-benar lengket, seakan tak akan pernah bisa dipisahkan.Tapi bila telah datang badai perpecahan, entah apa sebabnya, bisa benar-benar retak seperti kaca pecah. Itulah manusia, memang benar-benar ajaib. Cinta bisa berubah menjadi benci. Dan benci bisa berubah cinta. Manusia memang mudah sekali lupa. Lupa jasa orang, bahkan mudah sekali lupa asalnya sendiri. Apalagi bila manusia sedang dikuasai oleh nafsu. Nafsu yang selalu dipenuhi oleh ambisi-ambisi pribadi yang dikuasai kejahatan, ketamakan, keserakahan, keakuan, dan kesombongan. “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?” (Ath-Thariq: 5). Tapi kehidupan ini pastilah adil. Yang semena-mena dan sewenang-wenang niscaya dia akan jatuh terhina. Karena orang yang di atas tak selama akan di atas. Pasti suatu saat dia harus turun lagi ke bawa. Tak ada presiden seumur hidup. Taka da gubernur seumur hidup. Tak ada orang kaya seumur hidup. Dan, tak ada orang yang gagah seumur hidup. Semua orang pasti akan kembali ke asal. Menjadi tak berdaya sama sekali. Pejabat akan kembali menjadi rakyat. Orang kaya akan kembali menjadi tak punya. Yang gagah pasti suatu ketika kembali tak bisa tegak dengan lurus. Dan, yang hidup pasti akan mati. Masuk ke tempat peristirahatan terakhir, kuburan, tak bisa berangkat sendiri. Itulah maka meski kadang kehidupan ini sedemikian sangat kejam, janganlah kita pernah punya niat untuk berlaku kejam. Tetaplah sportif dan porposional saja. Bahkan yang ideal, lawan kekejaman dengan cinta dan kasih sayang. Lawan keangkuhan dengan kerendahan hati. Yang penting, hati-hati, jangan sekali-kali kita menjerumuskan diri sendiri menjadi korban atau tumbal kekejaman dan ketamakan orang lain. “Dan peliharalah dirimu dari (adzab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al-Baqarah: 281).(**)