Lawan Banjir dengan Biopori

CURUP TENGAH, BE – Banjir dadakan yang kerap membuat puluhan rumah di Kecamatan Curup Tengah (Curteng) terendam saat hujan deras, membuat berbagai pihak di kecamatan Curteng dibawah kepemimpinan Camat yang baru Edi Robinson, SSos segera mengambil tindakkan cepat.  Sabtu lalu (24/11), Pemerintah Kecamatan Curteng bersama Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bengkulu, serta peneliti ilmu tanah Universitas Bengkulu melakukan pelatihan pembuatan Biopori (lubang resapan air).  Kegiatan itu diikuti staf kecamatan serta lurah di kawasan yang kerap dilanda banjir dadakan, dengan melakukan praktek langsung di depan halaman Kantor Kecamatan Curup Tengah.

“Biopori ini tujuannya untuk membantu resapan air, sehingga air hujan tidak terbuang percuma dan terakumulasi ke suatu daerah yang lebih rendah sehingga membuat banjir,” terang Kabid Pengendalian Pencemaran Lingkungan (BLH) Provinsi Bengkulu Sahrul Anuar.
Selian itu, Biobori bertujuan untuk tempat menyimpan air hujan sehingga tidak terbuang percuma karena mengalir dan tidak tersimpan di tanah. “Pada masa yang akan datang, mungkin anak cucu kita akan sulit mendapatkan air, karena pembangunan gedung dan fasilitas umum yang tidak ramah lingkungan. Jika seluruh halaman rumah dan perkantoran di semen, maka tidak akan ada lagi tempat air hujan untuk meresap dan tersimpan ke dalam tanah,” kata Sahrul.

Peneliti Ilmu Tanah Universitas Bengkulu Dr Faiz Barchia menambahkan, Biopori sendiri merupakan sumur resapan yang dibuat dengan menggali tanah dengan kedalaman minimal 80 centimeter, lebar 10 centimeter dan jarak antar lubang 1 meter. “Kita bisa buat Biopori ini dengan menggali tanah menggunakan alat yang sederhana. Kemudian lubang tersebut bisa kita masukkan bahan-bahan organik bahkan sampah rumah tangga,” terangnya.

Dengan adanya Biopori sebanyak 28 lubang Biopori di halaman rumah, maka sampah rumah tangga tidak akan menjadi limbah percuma yang terbuang ke bak sampah lalu diangkut ke tempat pembuangan akhir sampah, lalu dibakar. Selain tentunya menjadi tempat resakan air. “Sampah rumah tangga bisa kita masukkan ke dalam lubang Biopori.  Tentunya permukaan lubang kita buang jaring agar sampah tidak meluap keluar saat air hujan masuk. Sampah tersebut akan hancur dengan peran cacing dan bakteri pengurai, manfaatnya bisa jadi kompos dan pupuk tanah,” kata Faiz Barchia.

Dijelaskan Faiz Barchia, terbentuknya Biopori di halaman rumah dan kantor pemerintah, akan dimanfaatkan oleh cacing tanah untuk membuat jalan-jalan air yang akan menjadi saluran resapan air.  “Sampah organik dalam Biopori akan dimanfaatkan cacing, dalam tiga bulan kita akan beruntung dengan peran cacing ada lubang-lubang jalan cacing dalam tanah yang akan menjadi jalan air, selain itu sampah organik yang sudah menjadi kompos bisa dimanfaatkan,” ujar Faiz Barchia.

Biopori tersebut, sambung Faiz, berfungsi sebagai bank penyimpanan air. Tentunya juga harus menjaga lingkungan degan menanam pohon di lingkungan kita yang bermanfaat menjaga ketersediaan air tanah. “Jika semua warga membuat Biopori, maka tidak akan ada lagi air hujan yang terbuang percuma bahkan membuat banjir.  Banjir terjadi karena kebiasaan kita yang membangun tidak bersahabat dengan lingkungan. Pemasangan paving block atau menyemen halaman secara permanen akan membuat air hujan tidak meresap ke tanah,” terang Faiz.

Di bagian lain, Camat Curup Tengah Edi Robinson menerangkan, pihaknya akan segera melakukan sosialisasi pembuatan Biopori di kelurahan rawan banjir dan wilayah sulit air serta sekolah di wilayah Curup Tengah untuk bisa membuat resapan air.  “Ini ilmu yang mahal sekali bagi kita, namun bisa dipraktekkan dengan sangat mudah.  Biopori diharapkan dapat mencegah banjir, menyimpan air di daerah yang sulit air seperti di wilayah kami ini Kelurahan Batu Galing yang sulit air,” terang Camat. (999)