Lauching KEK Belum Jelas

RIO/Bengkulu Ekspress
BAHAS KEK: Plt Gubernur Bengkulu didampingi Direktur Utama PT Pelindo II Elvyn G Masassya dan jajaran Pelindo II Bengkulu melakukan rapat bersama membahas Kawasan Ekonomi Khusus Pelabuhan Pulau Baai, Rabu (26/9).

Pelindo Klaim Masih Studi Kelayakan

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Rencana pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) di lahan milik PT Pelindo II Bengkulu sampai saat ini belum jelas. Padahal, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu bersama PT Pelindo II telah berencana akan melauching KEK industri itu pada tahun ini. Namun ternyata, rencana itu dipastikan gagal akan dilakukan pada tahun ini.

Direktur Utama (Dirut) PT Pelindo II, Elvyn G Masassya mengatakan, sampai saat ini, PT Pelindo II masih menyelesaikan studi kelayakan bisnis atau feasibility studi rencana pembangunan KEK di Pelabuhaan Pulau Baai Bengkulu. Ditargetkan studi kelayakan itu selesai pada tahun ini.

“Kita selesaikan feasibility study (Studi Kelayakan) dulu. Tahun ini targetnya selesai,” ujar Elvyn kepada BE, usia menggelar rapat bersama pemprov di Kantor Gubernur Bengkulu, kemarin (26/9).

Dijelaskannya, studi kelayakan itu penting untuk dilakukan. Sebab dari pembangunan KEK industri itu nanti akan diketahui, berapa nilai investasi yang akan masuk lewat Bengkulu. Sehingga KEK itu bisa memberikan dampak positif, untuk mendongkrak ekonomi Bengkulu.

Seperti diketahui, dari 17 item syarat yang harus dilengkapi untuk menjadi KEK, hanya dua lagi yang belum dilengkapi oleh PT Pelindo II, yaitu nilai kwiti investasi dan komitemen pembangunan infrastruktur KEK industri. “Belum sampai disitu. Kita akan lihat dulu besarnya investasi disitu,” paparnya.

Bukan hanya untuk KEK industri, rencana KEK pariwisata juga belum disetujui oleh PT Pelindo II. Menurut Elvyn, pihaknya akan memperimbangkan dua opsi KEK itu, baik KEK industri maupun KEK pariwisata. “Kita belum putusakan di antara dua ini. Selesaikan feasibilitystudinya dulu,” tambah Elvyn.

Diantara dua KEK itu, PT Pelindo II nanti akan dilihat mana yang paling cocok untuk didirikan di Bengkulu. Jangan sampai nantinya, dua KEK itu malah tidak berjalan di Provinsi Bengkulu. “Diantara dua itu nanti kita akan lihat mana yang paling relevan memberikan mafaat untuk Bengkulu,” tegasnya.

Sementara itu, untuk pendangkalan alur pelabuhaan yang terus terjadi, Elvyn mengatakan, PT Pelindo pusat masih mencari solusi yang tepat, agar pengerukan tidak terus dilakukan. Sebab untuk melakukan pengerukan, negara terus mengeluarkan anggaran cukup besar dalam sekali pengerukan, sampai Rp 40 miliar hingga Rp 60 miliar untuk satu kali keruk.

Sementara kondisi saat ini, bisa saja dalam satu tahun itu, Pelindo melakukan pengerukan dua kali dalam satu tahun. “Dikaji dulu secara teknis, untuk potensi lain. Karena dilihat dari kondisi giografis Bengkulu sangat natural, sehingga banyak terdapat pasir,” paparnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah MMA mengatakan, pemprov dan PT Pelindo II masih mematangkan dua usulan KEK itu. Untuk lauching KEK industri itu, tinggal menunggu evaluasi dari direksi PT Pelindo II.  “Kalau lauchingnya masih menunggu evaluasi dari direksi,” papar Rohidin.

Karena untuk melaunching itu PT Pelindo masih membuat komitemen, akan mempu berapa banyak investasi yang datang. “Ada garansinya untuk mendatangkan investasi ke Bengkulu,” tambahnya. Untuk KEK pariwisata, menurut Rohidin, potensi di wilayah lahan milik PT Pelindo II itu sangat cocok. Apalagi Menteri Pariwisata sudah datang langsung ke lokasi dan menyetujui untuk membuat KEK pariwisata. “KEK pariwisata itu ada premium untuk mengembangan wisata di Bengkulu,” tandas Rohidin. (151)