Lantai Sudah Menjadi Tanah, Tidur di Atas Air

rumah yang terendam satu bulan (2)Melihat Rumah Warga yang Terendam Satu Bulan

Menempati rumah yang luas dan nyaman akan menjadi idaman setiap orang. Namun bagaimana jika rumah yang kita tempati kecil dan terendam banjir pula.  Apalagi banjir yang merendam rumah itu sampai satu bulan lamanya.  Itulah yang dialami keluarga Marlena (35) dan Hanapi (62) warga RT 17 RW 04 Kelurahan Kandang Kampung Melayu.  Bagaimana mereka menjalani tinggal di rumah yang terendam banjir?  Simak tulisan berikut;

ARI APRIKO, Kota Bengkulu
SUDAH sebulan lebih keluarga Marlena (35) dan Hanapi (62) di RT 17 RW 04 Kelurahan Kandang Kampung Melayu, tinggal di rumah yang digenangi air.  Menurut Marlena, banjir tersebut terjadi sejak tanggal 10 November lalu dan belum surut hingga kemarin (12/12).  Bahkan, akibat hujan deras yang terjadi kemarin, kedalaman air bertambah.
“Dalam rumah airnya setinggi lutut.   Kami terpaksa tidur di atas air,” ungkap Marlena.
Yang paling Marlena takutkan katanya, adalah rumahnya akan roboh, karena rumah yang sudah terendam selama satu bulan ini terbuat dari kayu.  Selain itu lantainya yang terbuat dari semen saja sudah hancur dan bercampur dengan tanah. Akibat banjir yang merendam rumahnya selama satu bulan terakhir kedua anaknya diungsikan ke rumah orang tuanya yang ada di Panorama.  Karena terendam banjir aktivitas mereka di rumah lumpuh total, bahkan untuk masak saja tidak bisa.   Dan setiap hari mereka selalu menumpang dirumah saudara mereka yang tidak terkena banjir.
Selain itu, sumur mereka pun tidak bisa digunakan karena terendam banjir, bahkan WC pun terendam dan isi septic tank pun ikut meluber keluar.  “Rumah ini baru kami buat satu tahun, dengan adanya rumah ini kami tidak ngontrak lagi, tapi taunya kami terendam,” ujar Marlena yang suaminya sehari-hari bekerja sebagai pemulung.
Pengakuan senada juga disampaikan Hanapi tetangga sebelah Marlena. Namun Hanapi tidak terlalu khawatir dengan rumahnya karena rumahnya terbuat dari beton Ia berharap agar pemerintah dapat menyelesaikan masalah ini, karena mereka sudah melakukan gotong royong untuk membuat drainase sementara, namun tidak membuahkan hasil.   “Kami cuma minta pemerintah mencarikan solusi agar banjir ini cepat surut,” ungkap Hanapi.
Selain terendam banjir rumah mereka juga tidak tersedia instalasi listrik dari PLN, yang ada hanyalah sambungan kabel dari rumah-rumah tetangga yang sudah terpasang, dan hal tersebut sangat berbahaya jika suatu waktu kabel-kabel tersebut putus dan mengenai air dapat mengalirkan arus listrik dan membahayakan warga. (**)