Lahan Warga Tergerus PLTA Musi

PONDOK KUBANG, BE- Lahan warga Desa Paku Haji Kecamatan Pondok Kubang kembali tegerus oleh limpahan air PLTA Musi yang mengalir melalui Sungai Aur. Akibatnya lahan warga di sepanjang sungai kembali mengalami abrasi, khususnya lahan yang berbatasan langsung dengan sungai. Selain itu sekitar 20 KK juga belum menerima ganti rugi tanam tumbuh lahan yang tergerus akibat aktivitas PLTA Musi. Padahal ganti rugi itu dijanjikan sejak 2009 lalu. Kades Paku Haji, Syarkani ditemui dikediamannya pada Sabtu (4/2) menjelaskan sudah berulang kami menyampaikan keluhan warganya mengenai belum dibayarkannya ganti rugi itu. Juga keluhan mengenai air PLTA Musi itu. “Saya sudah sampaikan masalah ini pada DPRD, namun belum ada tanggapan sampai sekarang. Sebenarnya kalau dibiarkan saja lebih banyak lahan lahan warga bisa hilang. Sekarang saja mungkin sudah hilang selebar 5 meter sejak 2009 lalu. Bahkan batang bambu dan kapuk sudah jatuh ke sungai karena kikisan air sungai,” jelas Syarkani. Dia juga mengungkapkan air sungai itu juga mengikis pondasi jembatan yang menjadi pintu masuk desa sekaligus menghubungkan desa mereka dengan desa lainnya. Jika dibiarkan saja desa Paku Haji bisa terisolir. “Kikisan air sungai sudah sangat ganas, pondasi jembatan juga hampir roboh. Kalau jembatan ini roboh desa kami terisolir,” jelasnya. Kades Syarkani berharap Pemda bisa membantu mereka, khususnya mempercepat pembayaran ganti rugi tanam tumbuh warga. Juga memasang bronjong di sepanjang sungai untuk mencegah laju abrasi. Selain itu, diungkapkan Syarkani masih ada janji PLTA yang belum ditepati. Salah satunya listrik. Warga dijanjikan prioritas menerima listrik itu, namun hingga sekarang belum direaliasikan. “Terakhir kami dijanjikan akan diberi tiang listrik pada November lalu tapi sampai Februari ini belum direalisasikan,”ujar Syarkani. Sejauh ini Pemkab Benteng dan pihak PLTA Musi belum dikonfirmasi terkait keluhan warga Paku Haji ini. (cw2)