Kurikulum Berubah Karena Cucu Wapres Keberatan Bawa Buku?

JAKARTA – Dalam diskusi dengan tema “Kritik atas kebijakan perubahan kurikulum” yang digelar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Jumat (23/11) petang tadi, berkembang informasi bahwa perubahan kurikulum pendidikan nasional 2013 dikarenakan adanya pesanan Wakil Presiden RI, Boediono.
Sekretaris Jenderal FSGI, Retno Listiyarti mengaku juga mempertanyakan terkait adanya rumor tersebut. Dari rumor yang beredar bahwa kurikulum pendidikan berubah karena adanya pesanan Wakil Presiden, Boediono, selaku perpanjangan tangan Presiden dalam mengurusi masalah pendidikan.

“Itu rumor ya, yang beredar bahwa (kurikulum) ini pesanan Wapres. Rumornya karena cucu beliau membawa tas (berisi buku) begitu berat. Saya pribadi tidak pernah mendengar langsung dari Pak Wapres,” kata Retno saat berbincang dengan JPNN usai diskusi tersebut.

Terkait perubahan kurikulum 2013, Menteri Pendidikan Mohammad Nuh, pernah mengatakan manfaatnya bagi siswa adalah, mereka tidak perlu lagi membawa banyak buku, sehingga kurikulum yang menggunakan tematik integratif ini juga mengatasi keluhan yang selama ini terjadi akibat banyaknya buku pelajaran yang harus dibeli siswa.

“Murid tidak usah bawa 10 buku. Sehingga keluhan bukunya banyak. Guru akan jadi andalan, meski bukan satu-satunya sumber,” tambah Mohammad Nuh.

Menyambung ucapannya, Retno mengatakan bahwa FSGI sendiri juga pernah mempertanyakan apa yang menjadi alasan perubahan kurikulum pendidikan. “Nah ini riset yang mana, katanya ada, kita minta ditunjukkan, sampai hari ini kita tidak mendapatkan apa-apa. Ini kayaknya main-main, (perubahan kurikulum) tidak didasarkan bukti kuat. Ditambah kecurigaan kami bahwa dalam kurikulum baru tidak jelas apa yang mau diubah,” tutur Retno.

Dia menambahkan bahwa perubahan kurikulum idealnya didasari pada delapan standar pendidikan. Namun kenyataannya, dalam perubahan kurikulum 2013, Kemdikbud tidak bisa menjelaskan bagian mana dari delapan standar pendididikan itu yang mesti dibenahi.

“Katanya sejarah penuh dengan perang, sehingga anak-anak kita menyelesaikan persoalan dengan kekerasan, bukan dialog. Mungkin ini salah satunya yang jadi dasar. Itu artinya konten, itu standar isi,” ujar guru yang juga lantang menyuarakan dihentikannya pelaksanaan UN.

Atas rencana pemerintah melalui Kemdikbud merubah kurikulum pendidikan 2013, FSGI saat ini sedang melakukan penelitian terhadap masing-masing perubahan yang terjadi. Nantinya akan dihasilkan sebuah rekomendasi sebagai sikap FSGI atas perubahan kurikulum pendidikan. Dari penelitian itu juga akan diketahui apakah perubahan ini bagian dari kepentingan politik 2014 atau tidak. (fat/jpnn)