‘Kresna Duta’ Meriahkan HUT Bhayangkara ke 66

BENGKULU,BE- Jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Bengkulu menggelar wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Soelkani di lapangan Mapolda Bengkulu tadi malam. Tujuan pagelaran itu untuk silaturahmi antara Polri, pemerintah, dan masyarakat Provinsi Bengkulu, dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara ke 66. Ini diungkapkan Kapolda Bengkulu Brigjen. Pol Drs Burhanudin Andi MH, melalui Wakil Kapolda Kombes Pol.Drs.Yohanes Bernardus Gebana Prasetiyawan. “Dengan acara seni budaya itu, diharapkan aparat dan masyarakat akan bisa menyatu. Kalau selama ini, kami menggelar olahraga bersama, kali ini Polda Bengkulu menyuguhkan hiburan rakyat yang penuh dengan nilai-nilai budaya dan kehidupan,” katanya. Kapolda mengatakan dengan pagelaran wayang kulit itu juga berarti Polda Bengkulu berpartisipasi dalam pelestarian seni dan budaya bangsa. Apalagi, UNESCO telah mengumumkan bahwa Wayang Kulit sebagai “Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity” pada 7 November 2003 lalu. Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan seni perlambang, namun budaya yang terus berkembang dari zaman ke zaman itu juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata, namun kedua induk cerita itu banyak mengalami pengubahan dan penambahan dalam pewayangan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia. “Kresda duta adalah tokoh pengayom, penjaga alam. Sebagai pemimpin yang adil, dan bijaksana. Hendaknya, khususnya anggota Polri, dapat mengambil sifat-sifat kresna, sebagai bekal mengayomi masyarakat,” katanya. Kegiatan tersebut diramaikan oleh masyarakat Bengkulu khususnya penggemar wayang. Kegiatan yang dilaksanakan di pelataran Mapolda itu, juga dihadiri oleh Sekprov Drs H Asnawi A Lamat MSi, mantan Kapolda Brigen Pol (Purn) Ruslan Riza, serta Paguyuban Masyarakat Jawa Bengkulu (PMJB), serta anggota jajaran Polda Bengkulu. Penonton sangat antusias, karena selain dapat menikmati hiburan juga berkesempatan untuk mendapatkan dorproze berupa 1 unit sepeda motor dan bingkisan menarik lainnya. Pagelaran wayang sendiri diawali dengan penyerahan tokoh pewayangan ‘Kresna” kepada oleh Wakapolda kepada dalang Ki Soelkani. Lakon “Kresna Duta” sendiri menceritakan sosok Kresna yang ditugaskan menjadi utusan. Yakni utusan alias duta bagi Pandawa untuk menghadap Kurawa. Adalah Pandawa (5 bersaudara) dan Kurawa (100 bersaudara), saudara sepupuan, ayah keduanya kakak-beradik. Pandawa dikenal sebagai pribadi yang baik, sedangkan Kurawa terkenal karena perangai buruknya. Saat generasi Pandawa dan Kurawa digariskan memimpin sebuah negara, munculah berbagai konflik. Dalam konflik ini Pandawa-lah yang selalu mengalah. Mengalah bukan karena kalah, tapi kebaikan hati dan prasangka baik Pandawalah yang bertindak saat menghadapi konflik-konflik itu. Pandawa ingin mendidik Kurawa bahwa keburukan pada akhirnya akan tunduk pada kebaikan. Hingga pada suatu saat, telah selesai kewajiban yang harus dijalani Pandawa dalam kekalahannya melawan Kurawa. Dan mengutuslah Pandawa seorang raja besar bernama Kresna agar menemui Kurawa menyampaikan habisnya masa kewajiban tersebut, sekaligus agar Kresna meminta pengembalian hak-hak Pandawa yang dirampas oleh Kurawa selama Pandawa menjalani kewajiban –karena kekalahan. Begitu Kresna tiba di depan Kurawa dan menyampaikan tujuan kedatangannya, di luar dugaan, Duryudana (Kurawa yang paling tua) berkenan memenuhi permintaan Pandawa –melalui utusan seorang Kresna– dan berjanji untuk mengembalikan semua hak Pandawa. Hal ini disampaikan Duryudana di depan para pembesar negerinya, para dewa, dan ayah-ibunya yang menjadi saksi petemuan tersebut.

Sesudah sabda Duryudana untuk memberikan kembali hak Pandawa terdengar, pergilah para dewa sekaligus ayah-ibunya. Pergi dengan kelegaan karena damainya Pandawa dengan Kurawa. Namun, sesaat seusai para dewa serta ayah-ibunya meninggalkan majelis itu, tiba-tiba Duryudana menarik kembali semua ucapannya. Bahkan ia sampai bersumpah tidak akan memberikan apapun yang sudah di tangannya, meskipun sebenarnya bukan haknya, serta mempertahankannya sampai titik darah penghabisan. Mendengar hal itu Kresna kemudian marah. Kemarahannya, sebagaimana biasanya, mengubah wujud Kresna menjadi raksasa yang siap menghancurkan apapun yang ingin ia hancurkan. Beruntung ada seorang dewa yang kembali ke bumi dan menenangkannya. Kembalilah Kresna ke wujud manusianya dan langsung meninggalkan Kurawa. Akhir kisah Kresna Duta adalah genderang perang Bharatayudha. Kurawa yang dengan damai tidak berkenan mengembalikan hak Pandawa, maka jalan terakhir adalah Pandawa harus merebutnya dengan kekerasan, sebuah perang. Perang yang tentu saja selalu mengorbankan mereka yang lemah dan tak bersalah. Menewaskan mereka yang tak tahu menahu sebab musababnya. Mengadu persaudaraan menjadi permusuhan.(100)