Kredit Bermasalah di Bengkulu Diprediksi Meningkat

BENGKULU, BE – Perbankan memprediksi kenaikan kredit bermasalah (non performing loan/ NPL) masih akan membayangi industri hingga akhir tahun. Ini merupakan dampak dari pandemi Covid-19 yang menghantam dunia usaha.

Pimpinan Cabang BCA Bengkulu, Tirta Tjahaja memperkirakan tren peningkatan NPL masih berlanjut hingga akhir tahun. Per Juni lalu, posisi NPL bank swasta itu sebesar 2,1 persen atau lebih tinggi dari Juni 2019 di kisaran 1,4 persen.

“Kalau lihat akhir tahun pasti meningkat, estimasi kami NPL akhir tahun kami jaga di bawah 2,83 persen, kami masih jaga di bawah itu. Saya pikir sekarang agak sulit prediksi NPL akhir tahun,” kata Tirta, Minggu (30/8).

Sementara itu, Kepala Cabang Bank Negara Indonesia (BNI) Bengkulu, Yeska Friadi mengatakan, posisi NPL perseroan pada Juli lalu yakni 3,1 persen. Angka itu naik dari Juni sekitar 2,1 persen. Tren kenaikan NPL diproyeksi masih berlanjut hingga penghujung tahun ini.

“Ke atasnya kemungkinan akan mengalami kenaikan seperti kami proyeksikan sampai mencapai 4,5 persen yang harus kami antisipasi,” ujarnya.
Tak berdiam diri, pihaknya melakukan strategi dengan mengerek naik cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) guna mengantisipasi risiko kredit. Pada Juni, besaran pencadangan mencapai Rp 7 triliun. Sejalan dengan tingginya risiko, kredit maka jumlah pencadangan pun diproyeksi bertambah menjadi Rp 18 triliun-Rp 19 triliun.
“Melakukan penambahan pencadangan, merupakan bentuk antisipasi dari kualitas kredit yang kami antisipasi ada yang mengalami pemburukan,” ujarnya.

Selain itu, Pimpinan Cabang BRI Bengkulu, Ronaldo Nasution mengaku secara konsolidasi BRI membukukan NPL Gross 3,13%, naik dibandingkan semester I-2019 yakni 2,52%. Jika dibedah NPL Bank BRI saja, NPL BRI juga mengalami kenaikan dari 2,35% pada semester I tahun lalu menjadi 2,98%.

“Kenaikan NPL tersebut disebabkan pandemi Covid-19. Sehingga kualitas kredit nasabah menjadi kurang baik, makanya kita lakukan upaya restrukturisasi untuk mencegah meningkatnya kredit bermasalah,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala OJK Provinsi Bengkulu, Yusri mengatakan peningkatan NPL menjadi hal yang tidak bisa terelakkan karena bank tengah menjalani program restrukturisasi kredit. Namun, tidak semua kredit bisa diberikan restrukturisasi dan tercatat menjadi NPL.

“Ini situasi yang tidak bisa kita hindari, justru jadi pertanyaan besar kalau NPL tidak meningkat, karena kenyataan di lapangan ini, para pengusaha ini ternyata banyak yang usahanya terhenti,” tutupnya.(999)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*