Kotaku Pulihkan Perekonomian Melalui Program PKT

Warga Bersyukur Diberi Pekerjaan

Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Provinsi Bengkulu melalui Program Padat Karya Tunai (PKT) ikut membantu memulihkan ekonomi di tengah pandemi. Mengingat program tersebut merekrut masyarakat berpenghasilan rendah sebagai pekerja dan memelihara infrastruktur yang sudah dibangun.

=Endang Suprihatin, Kota Bengkulu=

Ucapan syukur tiada henti disampaikan Maiya Anda Yani, warga RT 9 Kelurahan Malabero, Kota Bengkulu. Perempuan yang akrab disapa Maiya ini merupakan satu dari sekian perempuan yang diikut-sertakan dalam Program Pekerjaan Padat Karya Tunai (PKT) di Kota Bengkulu.

Diceritakan Maiya, sebelum bergabung pada program PKT, ia berprofesi sebagai pedagang seblak di kawasan wisata View Tower, Kota Bengkulu. Penghasilan kala itu sangat mumpuni, perhari penghasilannya bisa meraup Rp 500 ribu, namun sejak pandemi Covid-19, kondisinya berubah. Penghasilannya mulai berkurang, bahkan satu pekan hasil penjualan seblak tak sampai Rp 150 ribu, hingga akhirnya usaha yang dirintisnya ditutup.

“Penghasilan itu tidak memenuhi untuk kebutuhan sehari-hari, saya saat itu banting profesi membantu nelayan sebagai pembelah ikan,” ungkapnya.

Perekonomian keluarganya kian terguncang, tatkala cuaca badai sangat berpengaruh pada nelayan untuk memperoleh ikan, yang juga berdampak pada penghasilannya. Sebagai perempuan single parent, ia harus bertanggung jawab atas kedua anaknya,dan mengurusi orang tuanya yang sudah sakit-sakitan.
“Kehidupan harus terus dijalani, saya menjadi tulang punggung keluarga, apapun harus saya lakukan demi anak dan orang tua, untuk bisa tetap hidup,” ungkapnya.

Di tengah sulitnya mencari pekerjaan karena banyaknya pemutusan hubungan kerja, muncul tawaran kerja dari Ibu RT setempat, untuk ikut serta program PKT, tanpa berpikir lama Maiya langsung menerimanya. Sehingga ia tidak perlu lagi dipusingkan bagaimana mencari uang untuk menafkahi keluarganya.

“Alhamdulillah ada program ini, jadi sangat terbantu memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.

Dengan mengikuti program yang dilakukan di lingkungan tempat tinggalnya sendiri, ia mengaku bisa berhemat, karena tidak perlu jauh-jauh untuk bekerja. Jika lapar, ia bisa jalan kaki pulang ke rumah. Ia pun tak merasa canggung untuk bekerja bersama warga yang mayoritas laki-laki. Layaknya tukang buruh bangunan, bekerja sama mengerjakan infrastruktur di lingkungan tempat tinggal sendiri.

“Saya bekerja layaknya buruh bangunan, mulai mengangkat batu, mencangkul, membuat cor-coran bangunan, merangkai besi dan banyak lagi, saya diupah Rp 100-an ribu per hari,” bebernya.

Maiya mengucapkan terimakasih kepada pemerintah, yang telah memfasilitasi dan merekrut dirinya pada program tersebut.

“Alhamdulillah ada proyek PKT, jadi sangat terbantu, kebutuhan ekonomi perharinya bisa terpenuhi, apalagi di tengah kondisi seperti ini,” ungkapnya.

Di sisi lain, Tim PKP BPPW Bengkulu, Indria MIKom menuturkan, pelaksanaan Program PKT untuk mengurangi angka pengangguran di tengah ketidakpastian perekonomian di masa pandemi Covid-19. Pasalnya, pandemi Covid-19 telah berdampak terhadap perekonomian, dan ketenagakerjaan karena banyak masyarakat terkena PHK sehingga menurunkan tingkat kesejahteraan.

Pelaksanaan PKT ini sangat partisipatif, mulai dari proses perencanaan pelaksanaan hingga pertanggungjawabannya selalu melibatkan masyarakat. Masyarakat sebagai pelaku, masyarakat juga sebagai penerima manfaat.

“Kita hanya memfasilitasi dan menyalurkan dana, semua pekerjaan dan penerima manfaatnya adalah masyarakat terdampak pandemi,” imbuhnya.

Kegiatan skema Padat Karya Tunai ini membantu masyarakat berpenghasilan rendah secara bergotong royong tetapi mereka diberi upah. Jenis kegiatan Padat Karya Tunai umumnya berupa rehab drainase dan rehab jalan rabat beton, dengan waktu pelaksanaan dalam kurun waktu dua bulan akan menyasar di beberapa kelurahan di kabupaten/kota.

“Usai kegiatan warga penerima manfaat akan dibentuk dalam kelompok pemeliharan dan pemanfaat yang dilatih. Harapannya, program ini dapat mempercepat pemulihan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pasca Covid-19, sekaligus sebagai upaya memelihara infrastruktur permukiman supaya bisa bermanfaat secara optimal,” tutupnya. (247)







    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*