Kota Bengkulu Deflasi -1,80%

Kepala Bidang Statistik Distribusi, Budi Hardiyono SSi ME (1)
Foto Kepala Bidang Statistik Distribusi, Budi Hardiyono SSi ME

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat terjadi deflasi di Kota Bengkulu pada Agustus 2018 sebesar -1,80 persen. Dengan begitu, maka besarnya inflasi tahun kalender (laju inflasi) sebesar 1,51 persen, dan inflasi tahunan (year on year) tercatat sebesar 2,23 persen.

Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Dyah Anugrah Kuswardani MA melalui Kepala Bidang Statistik Distribusi, Budi Hardiyono SSi ME mengatakan, besaran deflasi tersebut mencerminkan kondisi harga komoditas yang semakin terkendali.

“Berdasarkan perkembangan harga berbagai komoditas pada Agustus 2018 ini secara umum menunjukkan adanya penurunan,” kata Budi, Senin (3/9).

Menurutnya, deflasi Agustus lalu jauh lebih rendah dari inflasi bulan sebelumnya. Itu disebabkan 4 kelompok pengeluaran seperti transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi tertinggi sebesar -9,20 persen dan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi berikutnya adalah kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar -0,13 persen, kelompok bahan makanan sebesar -0,07 persen dan kelompok pengeluaran kesehatan mengalami deflasi sebesar -0,01 persen.

“Deflasi yang terjadi pada Agustus 2018 disebabkan oleh turunnya tarif angkutan udara, harga cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, bahan bakar rumah tangga, jengkol, bawang merah, jeruk, sabun detergen bubuk/cair dan parfum,” ujar Budi.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi adalah kelompok pengeluaran makanan jadi, seperti minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,63 persen, kelompok pengeluaran sandang sebesar 0,56 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 0,44 persen.”Kalau biasanya pada bulan-bulan sebelumnya angkutan udara masih menyumbangkan inflasi, pada Agustus justru rokok kretek yang dominan menyumbangkan inflasi,” terang Budi.

Selain itu, berdasarkan pemantauan BPS di 82 kota di Indonesia, 30 kota mengalami inflasi dan 52 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Tarakan sebesar 0,62 persen dan inflasi terendah di Medan dan Padang Sidempuan sebesar 0,01 persen.

Deflasi tertinggi terjadi di Bau-bau sebesar -2,49 persen dan deflasi terendah terjadi di Jember sebesar -0,01 persen. “Dari 82 kota yang dipantau BPS, Bengkulu berada di peringkat 81, bahkan Bengkulu termasuk peringkat pertama Kota yang mengalami deflasi di Sumatera. Semoga keadaan seperti ini bisa terus terjaga,” tandas Budi.(999)