Korban Punya PIL , Menikah Siri Sejak Pisah Ranjang

APRI/Bengkulu Ekspress Kades Tanah Tinggi Kecamatan Padang Jaya, Bengkulu Utara, Karjan saat menunjukkan TKP pembunuhan korban, kemarin (11/3).
APRI/Bengkulu Ekspress Kades Tanah Tinggi Kecamatan Padang Jaya, Bengkulu Utara, Karjan saat menunjukkan TKP pembunuhan korban, kemarin (11/3).

PADANG JAYA, Bengkulu Ekspress – Terungkapnya kasus pembunuhan terhadap Lilik Rahayu (40) warga Desa Tanah Tinggi Kecamatan Padang Jaya, Bengkulu Utara membuat heboh warga sekitar. Sebab, pelakunya yakni Nagtiman (47) merupakan suami sah korban sendiri. Walau keduanya sudah pisah ranjang sejak setahun lalu, namun tidak pernah ada keributan dalam rumah tangga tersebut lantaran sang suami selalu mengalah ketika timbul keributan diantara keduanya.

APRI/Bengkulu Ekspress Rumah tempat tinggal korban bersama pelaku dan 3 orang anaknya terlihat sepi, Minggu (11/3).
APRI/Bengkulu Ekspress. Rumah tempat tinggal korban bersama pelaku dan 3 orang anaknya terlihat sepi, Minggu (11/3).

‘’Saya sudah datang ke rumah tetangga samping kiri kanan dan depan. Tapi, keseharian keluarga itu tidak pernah ada keributan. Karena pelaku selalu mengalah dengan korban,’’ kata Kades Tanah Tinggi, Karjan kepada Bengkulu Ekspress (BE) ditemui kediamannya, kemarin (11/3).

Dijelaskan Kades, korban bersama pelaku memiliki 4 orang anak. Anak pertama bernama Wi (26) sudah menikah sejak berumur 18 tahun. Kemudian, anak kedua, Li (18) putus sekolah, Yu (15) sedang duduk di bangku SMK dan terakhir Yo (13) saat ini kelas 5 SD.

‘’Pasangan ini memiliki 4 orang anak. 3 orang masih tinggal di rumah, sedangkan anak pertama sudah menikah sejak 5 tahun yang lalu,’’ ungkap Kades.

Menurut Kades, korban dan pelaku sudah pisah ranjang sejak setahun yang lalu karena korban memiliki pria idaman lain (PIL) dan berlanjut menikah siri dengan laki-laki lain tersebut dan memilih tinggal ngekos di Kecamatan Kota Arga Makmur.

Selama pisah ranjang dan menikah siri tersebut, korban sering pulang ke rumah yang ditempati suami dan anak-anaknya. Bahkan dalam 1 minggu sampai 3 kali korban pulang melihat anak-anaknya. Hanya saja ketika pulang itu korban jarang bertemu dengan suami sahnya, karena korban pulang saat suaminya pergi kerja.

‘’Mungkin ada sekitar 1 tahun korban dan pelaku sudah pisah ranjang. Selama pisah ranjang itu, anaknya tinggal bersama pelaku di rumah yang bersebelahan dengan rumah kedua orang tua korban,’’ terangnya.

Kades menceritakan, keseharian pelaku hanya bekerja serabutan. Mulai dari menjadi buruh dodos sawit, nyadap karet dan kerja lainnya. Dengan hasil yang didapat itulah, untuk menghidupi ketiga anaknya.

‘’Anak korban sangat terpukul mengetahui pelaku yang tak lain merupakan ayahnya sendiri yang tega membunuh korban yang sekaligus ibu kandungnya. Bahkan, anak korban belum bisa mempercayai hal itu,’’ jelasnya.

Kades melanjutkan, saat pelaku diamankan pihak kepolisian, tidak ada reaksi apapun dari warga sekitar. Apalagi, pelaku dikenal ramah dan tidak pernah ada masalah di lingkungan desa.

‘’Cuma warga tidak menyangka suami korban yang menjadi pelaku pembunuhan itu,’’ tuturnya.

Urus PKH untuk Anak Korban
Usai pelaku diamankan Polres Bengkulu Utara dan Polsek Padang Jaya pada hari Jumat (9/3) dikediamannya sekitar pukul 09.00 WIB, Kades Tanah Tinggi, Karjan dipanggil ke Mapolsek sekitar pukul 15.00 WIB. Saat itu, pelaku menitip pesan kepada Kades untuk memperhatikan keberlangsungan hidup ketiga anaknya.

‘’Kalau pelaku diamankan tanggal 9 Maret. Saat saya menemui pelaku di Polsek dengan kedua tangannya sudah diborgol, ia (pelaku, red) menitip agar saya dapat melihat anak-anaknya,’’ papar kades.

Tak hanya itu, pelaku juga meminta agar Program Keluarga Harapan (PKH) yang sebelumnya diperoleh agar dapat diteruskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari anaknya. Untuk itu, ia mengaku saat ini tengah mengurusi PKH tersebut.

‘’Memang keluarga ini termasuk keluarga yang tidak mampu. Kita sedang mengurusi pencairan PKH yang sebelumnya atas nama korban, agar masih dapat dicairkan dan diterima anak korban,’’ tuturnya.

Korban Dibunuh Karena Minta Cerai
Pada Jumat malam (6/10/2017) sekitar pukul 23. 00 WIB korban datang diantar oleh suami sirinya membuat terjadinya keributan terhadap korban dan pelaku. Ketika itu, korban meminta cerai kepada pelaku serta meminta uang Rp 1 juta guna mengurusi perceraian tersebut. Hanya saja, pelaku tidak mau memenuhi permintaan tersebut.
Selanjutnya, ketika korban hendak buang air kecil ke belakang rumah sekitar pukul 21.00 WIB, pelaku langsung memukul korban di bagian kepala belakang dengan menggunakan batu serta mencekik leher korban hingga tewas.

‘’Pelaku mengaku sangat menyesal. Apalagi, pengakuan pelaku sangat sayang dengan korban. Hanya saja, pada malam itu, pelaku khilaf hingga membunuh korban,’’ jelas Kades.

Tak hanya membunuh korban. Pelaku yang ingin menghilangkan jejak, kemudian membuang jasad korban ke sungai.

‘’Tulang belulang korban sudah dikubur di pemakaman desa. Awalnya, tulang belulang itu hanya dititipkan untuk dikuburkan saja lantaran belum tahu siapa identitasnya,’’ lanjut kades.

Keluarga Tak Menyangka
Korban diketahui sempat pamit kepada pihak keluarga untuk bekerja keluar kota. Makanya, ketika menghilang dari rumah selama lebih dari 3 bulan, pihak keluarga tidak curiga. Namun, ibu korban pernah bermimpi jika didatangi sosok bayangan.

‘’Kalau dari anak-anak korban tidak pernah curiga apapun. Bahkan, juga tidak ada tanda-tanda apapun. Hanya saja, ibu korban pernah bermimpi didatangi sosok bayangan, tapi tidak jelas dan tidak menduga jika pertanda hal itu,’’ ungkap Kades.

Selain itu, ayah kandung korban, Subagio juga tidak menyangka jika menantunya tega membunuh anaknya dengan cara yang sedemikian rupa. Namun, ia menyarahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus itu, dan pelaku diberikan hukuman yang setimpal.

‘’Kalau dendam ada. Tapi, apa yang mau diomongkan lagi, kenyataannya anak saya sudah tidak ada,’’ paparnya.
Subagio berharap agar korban dapat tenang disisi Allah SWT. Diampuni semua kesalahannya semasa hidup. Jika ada kesalahan terhadap teman-temannya dan masyarakat lain agar dapat dimaafkan.

‘’Saya hanya berharap anak saya diampuni semua dosa-dosanya dan diterima disisi Allah,’’ tuturnya.(816)